Devano keluar dari dari gudang penyimpanan, ia menghentikan langkahnya sejenak, karena ponselnya berbunyi.
”Duluan aja Bro!” kata Devano pada temannya, Ia pun merogoh saku, kemudian mengambil ponselnya. Mata Devano membulat saat melihat notifikasi yang masuk ke ponselnya, itu adalah notifikasi penggunaan kartu kredit yang dilakukan oleh Meilani, istrinya.
“Apa-apaan Dia!” Devano menggeram kesal saat Melani menghabiskan uang sebesar 50 juta dalam sekali transaksi, lelaki tampan itu mengusap wajah kasar. Padahal Ia sudah mewanti-wanti istrinya untuk tidak berfoya-foya. Tapi lihatlah, istrinya malah tidak bisa diberitahu.
Padahal Meilani menggunakan uang itu untuk membeli tas untuk Hana sebagai hadiah ulang tahun Hana, karena merasa tak enak pada sahabatnya, ia bingung harus mengatakan dari mana, itu sebabnya ia nekat menggunakan kartu kredit dari suaminya, Ia juga memberi ponsel yang berharga cukup murah berbeda dengan ponselnya yang dulu.
Devano mengusap wajah kasar, ia benar-benar tidak habis pikir dengan istrinya. Selama ini ia sudah bersikap keras. Tapi tetap saja Meylani tidak mengerti. Devano melihat jam, dan ia bersyukur jam dinasnya sudah selesai dan sebentar lagi Melani pun pulang. Ia tidak menjemput Meylani, karena tadi Meilani mengatakan akan pulang menaiki taksi online.
Meylani terdiam di depan gapura, ia bingung harus bagaimana untuk berbicara pada Devano. Beberapa kali Devano meneleponnya. Ianl.tahu pasti Devano akan memarahinya karena ia menghambur-hamburkan uang seandainya Hana tidak meminta tas pun, ia tidak akan memakai uang Devano. Tapi ia juga tidak enak berterus terang pada sahabatnya.
“Mey!” tiba-tiba terdengar suara Guna dari arah belakang, yang ia ingat bahwa itu adalah teman Devano yang saat itu berkenalan dengannya.
“Haloo, bang!” sapa Meylani.
“Kenapa kamu enggak masuk. Ayo mau bareng sama abang?” tanya guna yang sedang memakai sepeda motor. Meylani menggeleng.
“Enggak bang, terima kasih. Aku sedang menunggu makanan di sini!” kata Meylani.
“Oh, ya udah. Abang duluan ya,” balas Guna, Meylani menggangguk.
Meilani menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, seberapa pun ia ketakutan. Tapi pada akhirnya, ia harus menghadapi Devano. Akhirnya, Meilani pun berjalan, ia mulai melangkahkan kakinya untuk pergi ke rumah dinasnya.
Jantung Melani berdetak dua kali lebih cepat saat dari kejauhan terlihat Devano sedang menunggu di luar, dadanya bergemuruh saat melihat lelaki yang kini menjadi suaminya.
“Jangan takut, Mey. Jangan takut!” Meilani membatin, ia berusaha menguatkan dirinya walau dia sendiri pun bergidik dengan kehadiran Devano.
“Assalamualaikum,” ucap Meilani saat berada di dekat pintu masuk.
Bukannya menjawab, Devano malah membuka pintu menyuruh Meylani untuk masuk, membuat lutut Meilani semakin melemah. Namun, Meilani tetap mengikuti perintah Devano untuk masuk ke dalam rumah.
Saat Devano masuk, ia sedikit membanting pintu Kemudian ia memangil Meilani. Hingga Meylani tersentak.
“Apa kamu bodoh, apa kamu dungu! apa Kamu tuli! Bukankah sudah saya bilang, jangan pernah menghambur-hamburkan uang dari saya!” hardik Devano, ia hampir saja berteriak di depan wajah istrinya.
Meylani hampir saja terhuyung ke belakang tangisnya langsung keluar saat Devano menghinanya. “Kamu pakai apa uang 50 juta itu?” tanya Devano, mungkin bagi Devano uang segitu hanya uang recehan, karena jelas-jelas ia terlahir dari keluarga kaya. Tapi karena dia sedang berencana mendidik Meilani, ia mempermasalahkan uang yang tidak seberapa baginya.
Meylani menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, ia menghapus air matanya. “Kakak, temanku ulang tahun. A-aku menghadiahkan tas untuknya,” jawab Melayani dengan bibir bergetar. Bahkan sekarang nafas Meylani ini tidak beraturan, apalagi saat melihat tatapan Devano yang seperti ingin menerkamnya.
“Bukankah Saya sudah bilang, saya tidak menerima alasan apapun. Kamu harus mengubah gaya hidup kamu. Kamu tidak bisa berfoya-foya atau mentraktir teman kamu seperti dulu!” Nadanya masih menggeram, ia menatap Meilani dengan kesal, sedangkan Meylani langsung mundur karena Devano seperti akan melangkah ke arahnya dan ia takut Devano melukainya.
“Mana kartu kredit saya?” tanya Devano. Dengan cepat Melani pun langsung merogoh tasnya. Karena sanking gugupnya, Meilani menjatuhkan tasnya hingga isi tas Meylani terurai ke lantai, dan itu semakin menambah kegugupan Meylani.
Dengan cepat, Meylani berjongkok. Lalu setelah itu, ia mengambil satu persatu isi tasnya. Saat ia akan memasukkan kotak ponsel ke dalam tas, Devano melihat kotak ponsel, hingga lelaki itu menariknya. “Kamu membeli ponsel baru lagi?” tanya Devano, Meilani tidak berani lagi menjawab.
“Kak, layar ponselku pecah. Jadi aku ....”
“Kemari kan ponsel baru kamu!” titah Devano, membuat Meylani langsung mendongak menatap Devano.
“Ma-maksud kakak?”
“Kamu sudah melewati batasan. Jadi ponsel kamu saya tahan!” ucap Devano dengan sadis. Hinaan Devano barusan serta tingkah Devano saat ini benar-benar menghancurkan hati Meylani semakin ke dasar. Entahlah kenapa ada lelaki setega Devano.
Dengan cepat, Meylani langsung kembali bangkit, kemudian ia merogoh sakunya. Lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya dan setelah itu Meilani langsung berbalik lalu masuk ke dalam kamar dan membanting pintu. Rasanya, ia benar-benar tidak tahan seperti ini, hingga Emosi Meylani memuncak. Padahal tadi ia takut pada Devano.
Waktu menunjukan pukul 9 malam, Meilani mengintip dari jendela. Ternyata, Devano sudah pergi dan setelah itu Meilani memakai hoodinya, Ia pun keluar dari kamar dan keluar dari rumah dinasnya. Malam ini juga, Meilani bertekad untuk mencari Aryan, ia tidak sanggup lagi hidup dengan Devano. Setidaknya Jika ia menemukan Aryan ia bisa terselamatkan.
Setelah melewati gapura, Meylani bisa bernafas lega, ia tidak perduli Devano besok pagi akan mengamuk karena ia tidak ada di rumah dinas, yang terpenting ia harus menemukan Aryan terlebih dahulu.
•••
Dua jam kemudian, Meilani terduduk di halte bis ia mengeluarkan botol minum. Lalu menengguknya hingga tandas, ia sudah mencari Arian ke sana kemari, dari mulai tongkrongan Aryan, sampai ke tempat teman-teman Aryan. Tapi Aryan tidak ada.
Dan sekarang, Melani kehabisan uang, karena tadi ia keluar terburu-buru, hingga ia tidak membawa dompetnya dan ia hanya memakai uang receh yang ada di hoodinya. Namun ternyata, uang itu sudah habis untuk dipakai menaiki taksi dan sekarang ia bingung ia harus pergi ke mana, apalagi ini sudah pukul 11.00 malam.
Melani menatap tangannya yang sudah mengkerut, tidak ada lagi tangan yang glowing tangannya pecah-pecah, karena ia harus melakukannya secara manual. Ia tersenyum getir saat menyaksikan hidupnya sekarang, keluarganya tidur nyenyak tidak memikirkan dirinya lagi dan ia harus menanggung semuanya sendiri. Sungguh, Meilani benar-benar kecewa pada keluarganya.
Saat ia akan bangkit, tiba-tiba Meylani menghentikan gerakannya saat melihat motor yang sedang berjalan melewatinya, dan ternyata motor itu dikendarai oleh Devano, suaminya yang sedang membonceng Nakesya.
Meylani tersenyum getir dengan mata yang berkaca-kaca. Sekelebat ia melihat interaksi Devano dan Nakesya yang begitu hangat walaupun mereka sedang berada di atas motor.
Tidak, Meylani tidak cemburu dan tidak peduli apapun yang dilakukan Devano dan Nakeysa. Hanya saja ia marah, kenapa Devano tidak bisa bersikap baik padanya. Bahkan selama dua bulan mereka menikah, Mungkin Devano tidak pernah tersenyum padanya.
Setelah cukup lama terdiam, Meilani memutuskan untuk berjalan ke arah rumah dinasnya. Entah kapan dia sampai, yang terpenting sekarang dia harus pulang terlebih dahulu untuk mengambil uang lagi, ia akan mencari Arian besok, ia tidak akan lupa bagaimana tadi Devano menghinanya dan jangan lupa saat Devano menatapnya dengan bengis. Itu sebabnya dia bertekad untuk mencari Aryan.
•••
“Devano Terima kasih sudah mengantarkanku!” kata Nakeysa, setelah sampai di depan rumah.
“Masuklah,” jawab Devano. Nakesya tersenyum kemudian melambaikan tangannya. Lalu setelah itu, Devano pun membalikan motornya. Saat mengendarai motor, Devano tersenyum ia begitu bahagia bisa mengantar Nakesya pulang..
Namun tak lama, Devano mengerutkan keningnya saat melihat seorang yang berjalan persis seperti Meilani dan Devano mengenali Melani dari hoodie yang Meylani kenakan.
Devano pun memacu motornya lebih cepat dan ketika sampai di belakang tubuh Meilani, Devano langsung menekan klakson membuat Melani terperanjat lalu menoleh. Mata Devano membuat saat melihat ternyata benar yang berjalan adalah istrinya. Untuk apa juga istrinya di sini malam-malam, bukankah tadi istrinya sedang tertidur.
Devano turun dari motor, lagi-lagi membuat Melani bergidik karena Devano menatap bengis padanya. “Kamu!” Devano membentak Meylani.
”Ma-maafkan, aku Kak. Aku hanya ....” Meylani tidak sanggup lagi meneruskan ucapannya. lagi-lagi ia merasa ketakutan, apalagi barusan Devano membentaknya.
Devano mengucap wajah kasar saat melihat Meylani ketakutan padanya. “Ayo naik kita pulang!” ajak Devano yang menarik tangan Melani, dan Meylani hanya menurut saja, karena ia takut pada suaminya
Devano menjalankan motornya dengan kecepatan penuh, terlihat jelas bahwa lelaki itu sedang emosi karena Melani keluar tengah malam dan tidak tahu akan kemana. bagaimana jika ada apa-apa dengan istrinya, begitulah pikir Devano.
Motor yang dikendarai Devano sampai di depan rumah dinas, dengan cepat, Meylani turun dan ia langsung berlari ke rumah, ia takut Devano mencelakainya atau memukulnya karena Devano tadi menjalankan motornya dengan kecepatan kencang, ia tahu sekarang suaminya begitu emosi.
Setelah sampai di kamar, Meylani langsung mengambil selimut, lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Tubuhnya bergetar saat mendengar suara derap langkah, dan sedetik kemudian pintu terbuka dengan keras
“Duduk, Saya ingin berbicara dengan kamu,” ucap Devano, Melani menangis di dalam selimut. hari ini benar-benar berat untuknya. Devano benar-benar memperlakukannya dengan buruk dan itu menyerang mental Meilani.
“Duduk saya bilang!”!kata Devano, hingga akhirnya Melani pun menyingkirkan selimutnya
••••
1 bulan Kemudian.
Ini sudah satu bulan berlalu semenjak Devano memergoki Meylani keluar tengah malam, selama 1 bulan ini pula Meilani benar-benar menurut pada Devano, karena ia takut melihat amarah, ia pernah tidak membantah sedikitpun. Tapi ada yang berbeda, Meilani kehilangan berat badannya dengan drastis, bahkan wajahnya begitu tirus.
Semenjak ia menikah, keluarganya tidak pernah ada yang menghubunginya dan tidak pernah ada yang datang mengunjunginya, itu membuat Meylani terpukul, ia merasa ditinggalkan dan pada akhirnya Meylani melampiaskan ketakutannya, amarahnya, kecewanya dengan meminum obat haram.
Dua minggu lalu, ketika Meylani sudah tidak sanggup lagi untuk menahan gejolak yang ia rasakan, ia nekad membeli pil ekstasi dari temannya, yang ia tahu dari dulu menjual barang haram. Hingga pada akhirnya, sekarang ia mengalami kecanduan barang haram itu tersebut. Ia akan gelisah ketika tidak meminum obat yang selama dua Minggu ini ia minum.
Banyak sekali efek yang dirasakan oleh Melani ketika meminum obat itu, ia jadi lebih tenang dan tidak takut lagi serta tidak gelisah lagi. Seperti saat ini, Meylani Baru saja sampai di rumah dinas setelah berkuliah, ia langsung membuka tasnya kemudian mengambil yang baru saja ia beli.
Uang kuliah yang diberikan oleh Devano ia belikan pada obat itu karena, rasanya Dia benar-benar sudah depresi, ian merasa ditinggalkan oleh keluarganya..
Meylani membuka obat itu, dan tepat ketika dia akan meminumnya. Devano masuk ke dalam kamar, hingga Meylani langsung menaruh obat ke belakang tubuhnya.
“Kamu minum obat apa itu?” tanya Devano. Selama minggu ini, Devano kerap melihat perubahan Meilani yang tiba-tiba sedang tersenyum seorang diri ataupun seperti sedang menghayal sesuatu. Namun Devano pikir itu adalah hal yang wajar.
“Ini bukan obat apa-apa kak, ini obat pusing. kepalaku sakit.” Meylani menjawab dengan sedikit tak karuan..
Devano mengerutkan keningnya saat bibir Meylani bergetar dan istrinya terlihat lebih gelisah. Seketika itu juga, Devano langsung merebut obat yang berada di belakang tubuh Meilani, kemudian melihatnya dengan seksama.
Mata Devano membulat saat mengetahui pil itu.
“Kamu!” teriak Devano, ia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya saat Mengetahui, Meylani menegak pil ekstasi. Karena takut, Meilani langsung merebut obat itu dari Devano kemudian ia langsung berlari ke arah kamar mandi, ia sudah sangat gelisah dan Ia membutuhkan obat itu.
nafas Devano memburu, Ia pun langsung menyusul istrinya hingga ia langsung mendobrak pintu kamar mandi, dan ia langsung mengambil obat yang akan diminum oleh istrinya.
•••
Devano menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh, Ia segera ingin sampai di rumah kedua mertuanya. Saat ini mereka sedang berada di mobil menuju rumah Alfian dan Veronica.
Meylani meringkuk di belakang sambil memeluk tubuhnya, karena merasa gelisah. Pikiran Meylani kosong, Ia hanya ingin mengambil obat itu dan meminumnya. Tubuh Meylani serasa melayang dan ia merasa antara tidur dan terbangun.
Setelah melewati perjalanan cukup jauh, akhirnya mobil yang dikendarai Devano sampai di pekarangan rumah, Devano pun turun kemudian ia langsung menarik dengan keras tangan Meilani.
“Assalamualaikum!” panggil Devano. Semua orang sudah menunggu di rumah Ibu Meilani termasuk Bara ayah kandung Melani dan juga Ayla ibu tiri Meilani.