Tadi Devano menelepon mertuanya dan meminta semuanya untuk segera berkumpul, ia harus membuka ini sebelum semua orang mengetahui yang sebenarnya.
“Ayah ... ibu!” panggil Devano.
“Ayo Devano duduk!” kata Alfian. Alfian menatap Melani sekilas, raut kecewa terlihat dari wajah para lelaki paruh baya itu saat mendengar Meylani menenggak ekstasi.
Saat semua menatapnya, Melani tersadar bahwa semuanya sedang berkumpul dan menatapnya dengan penuh kecewa dan Itu menyakiti hatinya.
“Meylani duduk!” titah Alvian yang mulai tegas pada Sang Putri, hingga kini semua orang sudah terduduk di ruang tamu dan Melani duduk seorang diri. Setelah duduk, Meylani menunduk tidak berani melihat sekitarnya, ia merasa seperti terdakwa yang sedang disidang oleh hakim.
“Mey, ayah kecewa padamu. Bisa-bisanya kamu minum pil ekstasi. Apa Ayah mengajarkanku seperti itu?” Alfian hampir saja berteriak, sedangkan Veronica Ibu Meilani menunduk Ia tidak menyangka putrinya akan meminum barang haram tersebut.
“Meylani, kami semua tidak menyangka kamu akan mengambil jalan pintas seperti ini. Kenapa kamu minum itu, apa kamu tahu itu membahayakan diri kamu dan membuat keluarga malu jika sampai berita ini tersebar,” ucap Bara yang tak lain ayah kandung Meylani.
Ucapan kedua ayahnya membuat Meilani mengangkat kepalanya, ia menoleh ke arah sang ibu yang tertunduk, Meylani yang sudah merasa terpojok langsung menghapus air matanya, kemudian ia menatap Alfian yang sepertinya akan berbicara lagi.
“Maafkan saya saya gagal mendidik Meilani,” jawab Devano, seketika Meylani menoleh ke arah Devano. Rasa benci pada lelaki itu semakin menjadi-jadi.
“Jelaskan pada Ayah kenapa kamu harus meminum barang haram itu!” kata Alfian, Melani mengharap nafas kemudian menghembuskannya. Di tengah rasa gelisah, ia harus berbicara pada ayahnya.
“Ayah, apa ayah tidak mengenalku?” tanya Meylani, ia menatap Ayah tirinya dengan penuh kecewa.
“Apa maksud kamu Mey, kamu ingin cari pembelaan?” tanya Alvian lagi, ia malah semakin emosi ketika Melani jawab ucapannya.
“Apa Ayah tidak mengenalku, apa aku seperti orang yang sedang mencari pembelaan. Kenapa ayah tidak bertanya kenapa aku bisa meminum obat seperti itu.”
Hening ... Tiba-tiba semua terdiam saat melihat iris mata Meilani yang dipenuhi beban, Veronica mengangkat kepalanya Ia pun langsung menghampiri Meilani dan duduk di sebelah putrinya.
“Ibu, apa Ibu juga tidak mengenalku?” tanya Melani dengan berlinang air mata.
“Jelaskan apa yang terjadi!” pinta Veronica seraya menghapus air mata Meylani.
“Kenapa kalian begitu egois, membuangku begitu saja seolah aku bukan bagian dari kalian!”
“Cukup, Mey. Berhenti mencari pembelaan,” ucap Alfian yang masih emosi hingga Meylani menoleh .
“Bertahun-tahun hidup denganku apa Ayah masih tidak mengenalku,” ucap Melani Ia terus mengulangi pertanyaannya pada Alfian. Baru saja Alfian akan menjawab Veronica bangkit dari duduknya.
“Cukup Mas! biarkan Meylani.berbicara!” sentak Veronica pada Alfian.
“Jelaskan pada kami, apa yang terjadi, Mey?” pinta Veronica. Melani menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, kemudian ia mencoba untuk menenangkan diri.
“Tolong berikan aku minum dulu,” jawab Meilani, Veronica mengangkat tangannya, kemudian memanggil pelayan. Lalu setelah itu, pelayan membawakan minum untuk Meylani
Suasana kembali hening, semua orang terdiam menanti jawaban Meilani. “Sekarang katakan Kenapa kau bisa sampai nekat untuk meminum pil haram tersebut!” titah Alfian.
Meilani kembali menatap ke arah Devano yang juga sedang menatap ke arahnya, kemudian ia menggerakkan tangannya untuk menunjuk suaminya. “Semuanya gara-gara dia!” teriak Meylani. Semua orang menatap heran pada Meilani dan mereka juga menatap Devano secara bergantian.
Devano berusaha untuk tetap tenang, ia tidak mungkin bertindak gegabah di hadapan mertuanya.
“ Kenapa kamu menyalahkan suamimu?”
“Kalian ingat, apa yang lelaki itu katakan pada kalian. Dia mengatakan akan berusaha menjadi suami yang baik dan akan memperlakukanku dengan baik. Tapi apakah kalian tahu kehidupan pernikahan macam apa yang aku jalani.”
Meylani bangkit dari duduknya, kemudian ia menunjuk lagi Devano. “Lelaki yang kalian anggap baik, apa kalian tidak tahu bagaimana perlakuannya padaku. Aku dipaksa untuk melakukan pekerjaan yang tak pernah aku lakukan, jika aku tidak menurut dia akan menatapku dengan bengis. Apa kalian tahu, bahkan untuk makan saja aku harus seperti pengemis memintanya membawakanku dulu!” Meylani berteriak seraya menangis pilu.
“Meylani, jaga bicaramu!” kali ini Bara yang berbicara membuat Meilani menoleh.
“Tutup mulutmu Ayah jika ayah tidak tahu apa-apa!” Untuk pertama kalinya, Meylani berani melawan sang ayah. Saat Bara akan berbicara, Alfian menoleh mengisyaratkan Bara untuk diam.
“Kalian menyidangku, seolah Aku adalah orang yang salah. Lalu Kenapa kalian tidak menanyakan apa penyebabnya!” Meilani berteriak di akhir kalimatnya, ia tidak bisa membendung amarahnya. Sedangkan Devano iya bingung harus menjawab apa dan bereaksi bagaimana.
“Aku dipaksa bangun dini hari, aku harus mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri, aku diawasi dan ketika aku salah, dia selalu menghardikku dan menatapku dengan bengis. Dia memarahiku karena aku memberikan kado pada Hana, dia menahan kartu kreditku. Hingga aku harus berhemat mati-matian. Apa kalian tahu setiap aku merasakan sakit, dia selalu menganggapku beralasan. Apa kalian tahu lelaki yang kalian anggap baik menyiksa mentalku dengan ucapan dan dengan tingkahnya." Nada suara Meylani sudah melemah, bahkan ia merasa tubuhnya akan tumbang.
Semua orang langsung melihat ke arah Devano saat mendengar apa yang Meylani katakan.
”Dia mengatakan dia ingin mendidikku, agar aku menjadi mandiri dan tidak boros serta bisa merubah hidupku agar sederhana. Aku mengerti, aku bisa melakukan itu. Tapi kenapa ...." Meylani menghentikan sejenak ucapannya, karena tangisnya sudah berlinang. Ia menghapus air mata dan kembali menatap Devano
“Ayah ... Ibu, apa kalian tahu dia tidak pernah bersikap hangat padaku, di matanya aku selalu salah, selalu salah, selalu salah. Apa kalian tahu dalam 2 bulan pernikahan kami, kesehariannya dia hanya akan terus membentakku dan memarahiku karena aku berbuat salah. Aku bisa berubah seperti yang kalian mau, aku bisa menjadi sederhana, aku bisa menjadi Meilani yang baru, dan aku bisa menjadi yang kalian harapkan. Tapi bukankah kalian terlalu egois, memaksaku berubah dengan cepat. Kalian tidak memberiku waktu untuk beradaptasi.” Meylani menjeda sejenak ucapannya, lalu menghela nafas sebanyak-banyaknya.
Setelah itu ia menatap Alfian. “Coba lihat aku, coba lihat tubuhku. Apa kalian tidak merasa bahwa tubuhku begitu kering. Aku bahkan kehilangan 12 kilo hanya dalam waktu 2 bulan. Saat aku ingin mengadu, saat aku untuk meminta tolong dan saat aku ingin mengeluh, kalian kemana? lalu sekarang kalian menyalahkanku karena aku meminum ekstasi. Bukankah kalian terlalu egois.” Meylani kembali menghentikan ucapannya, lalu menoleh ke arah Veronica.
“Ibu, selama ini Ibu yang selalu mengerti aku. Lalu kenapa ibu juga ikut egois seperti ayah? aku korban di sini, aku yang kehilangan Aryan, aku yang terluka karena Aryan pergi. Tapi kenapa aku juga harus mengalami rasa sakit karena menikah lelaki seperti dia. Dan kalian seolah lepas tanggung jawab, kalian tidak pernah menghubungiku, sekalinya aku menghubungi kalian kalian hanya akan menganggap aku mengeluh Selama 2 bulan ini, bahkan kalian tidak pernah berusaha untuk melihatku. Dan inilah alasan kenapa aku meminum obat haram itu. Itu semua karena kalian, karena kalian yang egois, yang terlalu menekanku untuk berubah. Padahal aku butuh waktu, aku sungguh membenci kalian. Karena kalian, mentalku hancur. Hingga aku ketergantungan pada obat haram. Lalu, sekarang kalian akan menyalahkanku. Sudah kubilang bukan dari awal bahwa aku tidak mau hidup dengan lelaki seperti dia! Tapi kalian meyakinkan bahwa lelaki itu adalah yang lelaki terbaik, dan bodohnya Aku percaya dan lihatlah karena kalian aku seperti ini dan ....”
Ucapan Meilani terputus kala Veronica memeluk putrinya, Ia tidak menyangka putrinya akan mengalami hal-hal seperti ini. Selama 2 bulan ini mati-matian ia menahan untuk tidak menelepon Meilani, karena perintah Alfian. Alfian mengatakan bahwa Meilani harus beradaptasi tapi lihatlah putrinya malah menderita seperti ini.
“Ibu, apa Ibu tidak ingat kita pernah susah dulu. Kita pernah hampir tidak bisa makan dan aku dalam keadaan buta. Apa aku pernah mengeluh dengan kondisi kita saat itu?” ucap Melani ketika berada dalam pelukan Veronica. ”Apa aku pernah mengeluh aku terlahir buta karena genetik ayah Bara? apa aku pernah mengungkit tentang betapa jahatnya ayah Bara padaku. Tidak ibu, aku tidak seburuk itu.” Meylani memeluk sang ibu dengan tangis sesegukan.
Seketika rasa kesal Alfian dan Bara hilang begitu saja saat mendengar penuturan putrinya. kedua lelaki paruh baya itu langsung menoleh ke arah Devano.
“Apa kau memperlakukan putriku seburuk itu?” tanya Alfian.
Devano menunduk. “Saya tidak bermaksud ....” Mendengar jawaban Devano, Meilani langsung melepaskan pelukannya kemudian ia menatap Devano.
“Kau sudah salah masih saja berkelit. Selama dua bulan ini kau selalu memperlakukanku dengan buruk, menatapku dengan bengis, seolah aku adalah musuhmu dengan dalil bahwa kau sedang mendidikku dan sekarang kau ingin mengelak!” teriak Meilani, kali ini Meilani berteriak dengan keras, ia bahkan hampir menyerang Devano. Namun, ia di tahan oleh Veronica.
“ Apa kalian semua tahu berapa uang bulanan yang dia berikan? apa kalian tau, ketika uang itu habis dia tidak pernah memberikanku lagi. Hingga aku harus menghemat uangku mati-matian, dan kalian juga egois menyetop semuanya. Padahal aku masih butuh uang itu, apakah aku tidak berharga di mata kalian. Apakah uang lebih berarti di mata kalian daripada aku?" tanya Meylani pada kedua keluarganya.
“Mei!” panggil Alfian kali ini nadanya mulai melembut. Alfian menarik tangan Melani. Namun Meilani segera menghempas tangan Alfian.
“Aku benci kalian,” jawab Melani dengan lirih. “Sekarang setelah ini apa yang akan kalian lakukan? akan memasukkan ke dalam penjara karena memakai barang itu. Masukkan saja aku, aku tidak peduli. Jika aku harus dipenjara atau kalian ingin aku melanjutkan pernikahanku dengan lelaki gila ini, baik aku akan melanjutkannya!” teriak Meylani.
Meylani benar-benar menumpahkan emosinya, ia berteriak layaknya orang kesetanan karena ia sudah benar-benar muak dengan semuanya. Devano tertunduk, ucapan Melani menamparnya ia terlalu melampiaskan kekesalan pada Meylani, karena ia masih mencintai Nakesya pada
Devano bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Meilani. “Saya minta maaf.”
“Maaf kau bilang ....”
plak satu tamparan mendadak di pipi Devano, bukan Meilani yang menamparnya melainkan Khalisia, wanita yang tak lain adalah ibu Devano. Rupanya sedari tadi Khalisia mendengar semua yang Melani ucapkan, ia dan Gemma sengaja tidak bersuara karena ingin mendengar apa yang melayani ucapkan, dan ternyata sifat Devano benar-benar mengecewakan.
Gimana gengs. Tinggalin komen ya.