Bab 11. Hati Di Masa lalu

1754 Kata
15 Meylani pun bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung menatap ke arah Nakesya. “Aku harap ini pertemuan terakhir kita untuk membahas hal seperti ini. Silahkan diskusikan ini dengan suamiku," ucap Meilani. Setelah itu, Meylani pun berbalik, kemudian ia langsung pergi meninggalkan Nakesya yang dia mematung. Nakesya mengelus dadanya yang terasa nyeri. Harusnya Devano setuju dengan syarat Meilani untuk kembali padanya. Tapi kenapa Devano masih bersikap dingin, kenapa Devano masih menghindarinya dan kenapa Devano tidak mau melihat ke arahnya. Padahal jelas-jelas, Nakesya bisa melihat cinta Devano padanya masih sama Lalu kenapa lelaki itu harus menyiksa dirinya sendiri. Nakesya merogoh tasnya, kemudian ia mengambil ponselnya. Lalu setelah itu ia mengirim pesan pada Devano. “Devano aku sudah bertemu dengan istrimu. istrimu mengatakan untuk kembali padaku. Lalu kenapa kau menjauh!” tulis Nakesya dalam pesannya. •••• Devano sampai di barak, kemudian ia langsung menundukkan dirinya di meja. Sejenak, ia beristirahat sebelum ia bertemu dengan komandannya untuk melaporkan sesuatu. Tak lama, ponsel Devano berbunyi. Satu pesan masuk ke dalam ponselnya, hingga Devano langsung merogoh tasnya, terpampang nama Nakeysa di layar ponselnya. Hingga Devano pun membukanya. “Mata Devano membulat saat melihat pesan Nakseya. “Kenapa juga mereka harus bertemu," ucap Devano. Jujur saja, pekerjaannya sedang banyak-banyaknya, Ia melakukan tugas yang sangat berat dan sekarang ia harus direpotkan oleh istri dan mantan kekasihnya. Ia tidak tau apa yang di bicarakan kedua wanita itu. Tapi yang pasti, Devano yakin Meilani mengatakan mengijinkan ia kembali pada Nakesya. Devano mungkin bisa saja mengikuti keinginan Nakesya untuk kembali, karena Meilani mengizinkannya. Tapi tidak, Devano tidak ingin seperti itu,.sekalipun dia belum mencintai Meylani, atau sekalipun tidak ada komitmen di dalam pernikahan mereka. Saat akan menyimpan ponselnya, tiba-tiba sebuah kertas terjatuh dari sakunya, itu adalah kertas yang ditulis oleh istrinya. Baru saja Devano akan membuangnya, tiba-tiba rasa penasaran menghantam Devano, ia penasaran kertas apa yang ditulis oleh istrinya “Surat perjanjian.” Hanya satu yang ditulis di surat itu. “Kak, Devano harus mengikuti semua apa mauku jika aku meminta uang, jangan protes apapun dan jangan memarahiku.” itulah isi perjanjian yang Meylani tulis. “Isssh, anak itu, hanya uang uang dan uang!” Ternyata Meylani hanya mengajukan satu syarat yaitu tentang Devano yang tidak boleh memprotes Jika ia meminta uang lebih. Devano pun langsung menyimpan kertas itu di saku, hingga terdengar suara derap langkah, membuat Devano menoleh. “Kenapa lu kusut amat?” tanya Guna yang masuk ke dalam barak. Devano menoleh. “Lu punya rokok kaga?” tanya Devano. Guna mengeluarkan rokok dari saku, kemudian menyerahkannya pada Devano. Lalu setelah itu Devano mengambilnya dan menyesapnya. “Keluarga aja kaya. Tapi beli rokok kagak mampu!” omel Guna Devano mengangkat bahunya acuh. “ Lu kenapa? kayaknya lu punya pikiran berat banget?” tanya Guna, Devano menggangguk. “Bini gue sama Nakesya ketemu di luar.” Seketika tawa guna meledak. “Bagus dong kalau mereka colab?” “Palalu Colab, kagak tahu lah gue pusing,” jawabnya. Tak lama, terdengar suara derap langkah seseorang lagi masuk kedalam barak, membuat Guna dan Devano menoleh, ternyata Rehan yang masuk. “Elu kenapa, gitu amat!” kata Devano saat melihat Rehan berjalan sambil melamun “Gue bingung, kemarin gue udah naruh senjata colt 4 carbine di tempat biasa. Tapi kok kagak ada. Lu berdua lihat kagak senjata itu?” tiba-tiba Guna dan Devano saling tatap, seketika mereka langsung berlari karena mereka lupa mengembalikan senjata itu ke gudang. Kemarin malam mereka iseng-iseng meneliti senjata itu dan mereka lupa menyimpannya. Hingga kedua tentara itu langsung berlari membuat Rehan menggeleng. •••• Waktu menunjukkan pukul 08 malam, Meilani masuk ke dalam apartemen dengan menenteng banyak sekali paper bag di tangannya. Bagaimana tidak, ia menghabiskan hampir 400 juta untuk berbelanja. Tentu saja itu memakai black card milik Devano. Saat ia masuk, ternyata lampu sudah menyala pertanda ada seseorang yang masuk dan mungkin itu adalah Devano. Meylani masuk ke dalam, ternyata benar saja Devano sedang ada di sofa sambil bermain gitar. Meylani berdehem, menyadarkan Devano hingga Devano menoleh. “Kamu jam segini baru pulang?” tanya Devano, matanya melihat ke arah paper bag yang dibawa oleh Meilani lalu menggeleng. “Kakak janji tidak boleh protes,” ucap Meylani yang melihat tatapan Devano “Siapa juga yang ingin protes. Sana pergi ke kamar istirahat,” jawab Devano, membuat Meylani berdecak kesal. Meylani menyimpan semua paper bagnya di lantai, kemudian ia mengambil paper bag yang berisi makanan “Kakak sudah makan?” tanya Meilani. “Sudah,” jawab Devano dengan acuh, Ia pun kembali memainkan ponselnya. “Baiklah.” Meylani pun membuka paper bag, kemudian ia duduk di lantai dan menyimpan makanannya di meja, membuat Devano menoleh. “Kamu hanya beli satu?” tanya Devano, Meylani mengangguk. “Lalu untuk apa kamu tadi menawari kakak?” “Hanya basa-basi,” jawabnya dengan acuh. “Isshh, anak ini benar-benar!" batin Devano. Setelah menyelesaikan acara makannya, Meylani kembali mengambil paperbag. Lalu berjalan ke kamar, tanpa pamit pada Devano. Membuat Devano menggeleng. Meylani mengeluarkan satu persatu isi paperbag, tiba-tiba, ia lupa di kamarnya tidak ada lemari khusus untuk tas. Hingga Meylani pun kembali keluar untuk menghampiri Devano. “Kak!” panggil Meilani. “Hmm,” jawab Devano. “Belikan aku lemari.” “Lemari?”.ulang Devano. “Lemari untuk tasku.” “Hmm, kakak pesankan nanti.” Seperti biasa, Devano selalu mengikuti keinginan Meilani, Ia melakukan itu semata-mata agar Melani tidak melakukan hal buruk lagi. Dua bulan kemudian. Selama 2 bulan ini, tidak ada yang berubah Dari Meilani, setiap minggu ia selalu pergi berbelanja menghambur-hamburkan uang Devano. Bahkan uang bulanan yang disetujui sebesar 300 juta bertambah menjadi 500 juta. Dan lagi-lagi Devano tidak protes. Ia mampu memberi yang Meylani mau. Devano mempunyai bisnis tersendiri, ia menyimpan beberapa saham di perusahaan keluarganya dan perusahaan yang ada di luar negeri. Hingga bagi Devano, tidak ada masalah jika Melani terus menghambur-hamburkan uangnya. Jika Meylani sudah kehabisan uangnya, sebelum awal bulan, Meilani selalu mengirim pesan pada Devano, meminta Devano untuk mengirimkan uang dan lagi-lagi Devano tidak protes, ia memberikan uang yang Meilani mau. Namun, seminggu ini Devano mulai merasa jenuh dengan hubungan pernikahan mereka. Ini memang komitmennya. Tapi terkadang, Devano ingin seperti suami istri yang lainnya, dalam artian kata, ia rindu momen-momen bersama Nakesya, dimana Nakesya selalu memperlakukan dia dengan istimewa, berbeda dengan Meylani yang hanya uang uang dan uang. Terkadang Devano ingin mengikuti saran Meylani yang menyuruhnya untuk kembali pada Nakesya. Tapi terkadang juga, ia sadar bahwa ia tidak boleh melakukan itu. Namun rupanya, tekadnya goyah, karena sekarang, Devano sedang berada di basement apartemen Nakesya. Dua bulanan ini, Nakesya sudah tidak lagi mengejar-ngejar Devano, hingga menimbulkan rasa penasaran di diri Devano Nakesya sengaja melakukan ini, ia sengaja menjauh dari Devano, agar Devano kembali padanya. Sebab Jika ia mengejar-ngejar Devano, Devano akan terus menjauh dan benar saja Devano sekarang bingung dengan perasaannya sendiri, hingga menuntunnya untuk pergi ke apartemen Nakesysa. Devano terdiam di depan pintu apartemen Nakesya. Rasanya ia begitu ragu untuk masuk. Tapi ia juga tidak bisa lagi mundur, ia sudah mengambil keputusan ini. Pada akhirnya Devano mengangkat tangannya, kemudian ia memencet bel. Lalu setelah itu, pintu terbuka. “ Devano!” panggil Nakesya. Devano tersenyum “Ada apa?”tanya Nakesya, bukannya menjawab Devano malah maju kemudian ia memeluk Nakesya, membuat Nakesya mengembangkan senyumnya, ia tahu setelah ini apa yang terjadi. Devano melepaskan pelukannya, kemudian ia menakup kedua pipi Nakesya. “Aku merindukanmu,” ucap Devano, Nakesya berjanjit, kemudian ia mencium bibir Devano dan Devano tidak bisa menahan dirinya lagi, Hingga ia langsung mendorong tubuhnya Nakesya untuk masuk dan langsung menyudutkan Nakesya ke dinding. Lalu mencium bibir Nakesya dengan rakus, seolah merindukan bibir ini. Namun, sepersekian detik Devano tersadar kemudian ia menjauhkan tubuhnya. “Maafkan aku!” akhirnya akal sehat Devano menang, membuat Nakesya tersenyum. “Ayo duduk, aku akan membuahkan minuman untukmu!” Devano menyimpan tasnya, kemudian ia langsung pergi ke dalam, lalu mendudukkan diri di sofa dan 10 menit kemudian, Nakesya datang sambil membawa nampan berisi aor. “Ini teh yang selalu kau minum,” ucap Nakesya yang menyodorkan gelas pada Devano. “Terima kasih!” Setelah itu, Nakesya mendudukkan diri di sebelah Devano ” Kenapa kau kemari, ada apa-apa. ada yang penting?” tanya Nakesya berpura-pura penasaran. Padahal Tentu saja dia sudah menebak apa yang akan Devano lakukan. Bukannya menjawab, Devano malah menaikkan kakinya di sofa, kemudian ia berbaring lalu menjadikan paha Nakesya sebagai bantal. Setelah itu Devano langsung menarik tangan Nakesya dan menggenggamnya. “Sebentar saja, kau tidak keberatan kan?” tanya Devano, ia masih belum berani mengatakan akan mengajak Nakesya kembali merajut kasih, Ia hanya ingin menikmati momen ini sebagai pelepas lelah. Entah apa ya keputusan yang akan Devano ambil nanti, yang pasti saat ini Devano membutuhkan Nakesya untuk menjadi pelipur laranya, untuk menjadi obat lelah dari rutinitasnya. Jari lentik Nakesya memijit kepala Devano. “Kau bisa tidur sekarang, Devano,” ucap Nakesya, Devano mengangguk, ia memejamkan matanya dan ini sungguh terasa damai 40 menit kemudian, Devano mengejap, kemudian Ia membuka matanya, Ia pun langsung tersadar. Lalu setelah itu, ia bangkit dari berbaringnya. “Maafkan aku yang tidur terlalu lama,” ucap Devano, Nakesya menggeleng. “Jika kau ingin lagi, tidurlah lagi," kata Nakesya Devano menggeleng. “Devano sebenarnya Kenapa kau kemari? ada apa ada yang penting?” tanya Nakesya lagi..Devano terdiam, ia bingung harus mulai dari mana. ... Sementara di sisi lain Meylanii masuk ke dalam apartemen, ia mengerutkan keningnya, kala apartemen dalam kondisi gelap. “Apa Devano belum pulang?” lirih Meylani, karena biasanya Devano sudah pulang dan lampu sudah menyala. Ia yang baru saja pulang kuliah langsung masuk ke dalam dan menyalakan semua lampu . Tiba-tiba, ia merasa ada yang aneh saat tak ada Devano di apartemen ini, ia merasa ada yang kurang. Tak lama, ponsel Meilani berdering satu pesan masuk kedalam ponselhnya, ia mengerutkan keningnya saat melihat nomor yang tidak ia kenal, dan ia pun langsung membuka pesan itu, ternyata orang itu mengirimkan sebuah foto, di mana Devano sedang tertidur dengan berbantalkan paha seseorang. Meylani tersenyum getir saat melihat foto profil dari orang yang mengirim pesan tersebut, ternyata yang mengirimnya foto adalah Nakesya. Ada yang aneh dengan hati Meylani, kenapa Meilani seperti tidak rela melihat pemandangan ini. Padahal bukannya dia sendiri yang menyarankan untuk Devano kembali pada Nakesya. Tak lama, pintu bel berbunyi. Hingga Meylani pun berbalik, kemudian ia langsung membuka pintu.Meylani menutup mulut tak percaya saat melihat siapa yang di depannya. ”A-aryan!" panggil Meilani, ternyata Aryan yang datang ke apartemen kakaknya, untuk bertemu Meilan Seketika .... Memang sih posisi mereka ber 4 tuh serba salah. Tapi yang paling salah tetep si Aryan wkwkwk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN