MESKIPUN sebenarnya enggan, tapi Vean tetap menemui Laras di kafe, tempat pertama kali mereka bertemu. Mengingat terakhir kali pertemuan mereka kurang menyenangkan, Vean menghela napas pendek. Sungguh, tidak pernah sekalipun ia terpikir bahwa Laras akan menyukainya. Waktu Laras berkata demikian, Vean hanya diam, menggeleng dan menatap bola mata Laras lamat-lamat. Vean bukannya tidak menyukai Laras, hanya saja ia belum siap untuk jatuh cinta dengan orang lain. Ia takut melukai perasaan Laras dengan menjadikan gadis itu sebagai pelampiasan. Vean mendorong pintu kafe hingga lonceng di atas pintu berbunyi. Ia mengedarkan pandangannya, mencari sosok Laras yang katanya sudah sampai di sini. Tidak susah untuk menemukan gadis itu, rupanya Laras mengambil duduk tepat seperti pertama kali mere

