Fasya diam mematung dengan melamun. Dia menatap pergerakan Adnan dengan wajah yang bodoh. Dia masih berusaha mencerna ucapan pria itu tadi.
Tidur bersama? Dalam satu kamar? Tidak, itu tidak akan terjadi!
"Mas," panggil Fasya lemah.
Adnan sendiri masih tak acuh sambil melepas jam tangannya. Dia melirik Fasya sebentar tanpa berniat untuk menjawab panggilan gadis itu.
"Mas!" Kali ini Fasya memanggil dengan keras. Dia baru saja tersadar dan mulai menggunakan emosinya.
"Kurang keras. Sekalian biar Kakek denger," sahut Adnan santai.
"Aku nggak mau satu kamar." Fasya mulai merengek sambil menghentakkan kakinya.
Adnan menatap Fasya datar, "Kamu boleh balik ke kamar kamu kalau nggak mau, tapi kalau kakek saya tau dan penyakitnya kambuh. Kamu orang pertama yang saya salahin." Setelah mengucapkan itu Adnan beranjak menuju ke kamar mandi.
"Kenapa jadi aku yang salah? Ini semua salah Mas Adnan! Kenapa tiba-tiba ngilang dan pulang malem?!" Fasya berucap dengan suara tertahan. Dia tidak bisa berteriak dengan leluasa sehingga hanya melampiaskannya dengan menggertakan giginya.
"Mau keluar atau enggak, itu bukan urusan kamu."
Detik itu juga Adnan menutup pintu kamar mandinya keras. Dengan kesal, Fasya meraih figura di atas meja sampingnya dan berniat melemparkannya pada Adnan, tetapi dia mengurungkan niatnya saat tahu jika barang itu bisa hancur. Dia beralih mengambil buku di sampingnya dan melemparnya ke arah kamar mandi. Tepat sasaran, buku setebal kitab suci itu mendarat tepat menghantam pintu. Seperti biasa, tidak ada reaksi apapun dari Adnan.
Fasya menggigit jarinya sambil melihat keadaan kamar Adnan. Dia berusaha untuk mencari cara agar tidak terjebak di ruangan ini. Bertatapan dengan Adnan sebentar saja sudah membuat aura di sekitarnya negatif, apalagi jika mereka bersama dalam waktu semalam. Fasya tidak bisa membayangkan hal itu.
Perlahan senyum Fasya merekah. Dia menatap sofa panjang di ujung ruangan dengan mata berbinar. Tangannya mulai meraih bantal dan meletakkanya di atas sofa itu. Biarlah mereka tidur satu kamar malam ini asalkan tidak satu tempat tidur.
Pintu kamar mandi terbuka dan Adnan keluar dengan pakaian santainya. Kaos polos abu-abu serta celana santai selutut telah melekat di tubuhnya. Dia menatap Fasya dengan pandangan bingung. Bagaimana tidak bingung jika dia melihat gadis itu tengah tersenyum lebar. Sangat berbanding terbalik saat ia masuk ke kamar mandi tadi.
"Oke, kita tidur satu kamar, tapi enggak dengan satu ranjang."
Alis Adnan terangkat mendengar itu, "Bagus," ucapnya dan berjalan ke arah tempat tidur.
"Mas Adnan mau ngapain?" Fasya menarik tangan Adnan cepat, tetapi dia langsung melepaskannya saat tak sadar jika telah melakukan kontak fisik.
"Saya mau tidur. Apalagi?"
"Mas Adnan tidur di sofa." Tunjuk Fasya pada sofa yang hanya tersedia satu bantal.
"Ini kamar saya."
"Tapi ini salah Mas Adnan. Jadi Mas Adnan yang harus tidur di sofa."
"Nggak mau," sahut Adnan cepat dan langsung merebahkan diri.
"Ih, nggak boleh!" Fasya dengan cepat menarik selimut pria itu.
"Fasya!" Adnan mencoba memperingati.
"Ngalah dong. Cowok apaan nggak mau ngalah?"
Fasya masih berusaha menarik selimut Adnan dan tidak akan membiarkan pria itu tertidur. Namun tiba-tiba Adnan melepaskan selimutnya sehingga Fasya terdorong menjauh dan terjatuh begitu saja menghantam lantai. Fasya meringis sambil mengelus pantatnya yang terasa nyeri.
Adnan sialan!
"Jahat banget sih," gumam Fasya masih mengelus pinggangnya.
Tidak ada raut bersalah dari wajah Adnan. Pria itu menatap Fasya tanpa rasa kasihan. Benar-benar manusia tidak punya hati.
"Ini kamar saya, sudah hak saya tidur di tempat tidur. Kalau kamu nggak mau kamu bisa keluar sekarang." Setelah itu Adnan benar-benar merebahkan diri dan mematikan lampu tidur samping ranjang.
Keadaan kamar yang gelap semakin menambah kesedihan Fasya. Dia berdiri masih dengan menahan rasa nyeri di bagian belakang tubuhnya. Mau tidak mau Fasya berjalan pelan menuju sofa. Memang salah jika dia mengharapkan kebaikan Adnan. Akhlak pria itu sangatlah tipis.
Fasya tidur dengan membelakangi Adnan. Perlahan matanya memanas dan air mata mulai keluar. Dia menangisi kehidupannya yang begitu menyedihkan saat ini. Fasya bukanlah orang manja, tetapi dia juga bukan gadis berhati baja. Dia memiliki perasaan sensitif dan terus berhadapan dengan Adnan membuat kesabarannya terkuras habis.
Apa yang terjadi malam ini murni kesalahan Adnan. Andai saja pria itu berada di rumah tentu Kakek Faris tidak akan menginap dan mereka tidak akan terjebak seperti ini. Namun sialnya pria itu tidak menyadari kesalahannya. Entah memang bodoh atau pura-pura bodoh, Fasya sangat membenci itu.
Tidur tanpa menggunakan selimut adalah mimpi buruk. Fasya adalah tipe orang yang tidak tahan dengan hawa dingin. Sialnya kamar Adnan seperti lemari pendingin untuknya. Bisa-bisa hawa dingin itu mengubah air matanya menjadi es. Berlebihan memang tetapi Fasya benar-benar kedinginan.
Fasya berusaha untuk memejamkan mata. Tubuh dan pikirannya begitu lelah saat ini. Beruntung besok adalah akhir pekan sehingga ia tidak harus berangkat ke kantor. Setidaknya Tuhan memberikan sedikit sisi positif dari masalah yang ia alami saat ini.
***
Suara alarm mulai membangunkan tidur seorang pria. Perlahan Adnan membuka matanya dan menguap lebar. Dia merentangkan tubuhnya sebentar dan menatap langit-langit kamar dengan melamun. Perlahan Adnan melirik ke arah sofa dan melihat seorang gadis yang tengah tertidur meringkuk seperti bayi.
"Bodoh," ucapnya dan mulai bangkit.
Adnan menghampiri Fasya dan melihat keadaan gadis itu. Tangannya bergerak menyelimuti tubuh Fasya dengan selimut tebal yang ia gunakan semalam. Entah kenapa Adnan melihat mata Fasya sedikit membengkak.
Apa yang terjadi?
Saat akan kembali ke kasur, Adnan mendengar pintu kamarnya diketuk. Dia menunggu beberapa saat untuk memastikan sampai akhirnya suara panggilan terdengar.
"Adnan, udah bangun, Nak?"
Adnan menegakkan tubuhnya saat mendengar suara kakeknya.
"Udah, Kek."
Adnan dengan cepat beralih pada Fasya dan berusaha membangunkannya. Dia menyentuh bahu gadis itu dan menggoyangkannya.
"Fasya, bangun!" bisik Adnan.
"Kakek masuk ya, Nan?" Suara berat itu kembali terdengar.
Mendengar itu Adnan dengan cepat menggendong tubuh Fasya dan membawanya ke tempat tidur. Tanpa aba-aba dia melempar tubuh Fasya begitu saja di sana. Hal itu membuat Fasya terbangun karena terkejut. Dia berniat untuk bangkit tetapi Adnan mendorong kepalanya agar kembali tertidur.
"Tutup mata!"
Karena nyawanya yang masih belum terkumpul sempurna, Fasya menurut dan mulai memejamkan mata. Dia mulai berakting tidur saat mendengar pintu kamar yang terbuka.
"Ada apa, Kek?" tanya Adnan.
"Fasya masih tidur?" tanyanya.
"Masih, Kek."
Fasya bisa mendengar samar-samar suara Kakek Faris. Tangannya sudah basah karena rasa panik. Beruntung Adnan membawanya ke atas tempat tidur tepat waktu. Bagaimana jadinya jika Kakek Faris melihatnya tidur di sofa?
"Yah, padahal Kakek mau ajak jalan-jalan ke taman sekalian olahraga."
"Kakek mau olahraga?" tanya Adnan.
"Iya, udah lama kaki Kakek nggak banyak gerak."
"Kalau gitu biar aku temenin. Tunggu sebentar, aku mau siap-siap."
"Kalau gitu kakek tunggu dibawah. Oh iya, kamu jangan bangunin istri kamu dulu. Kasihan semalem dia begadang nungguin kamu."
"Iya, Kek."
Fasya menahan senyumnya di bawah selimut. Dia senang karena Kakek Faris membela dan mengerti akan keadaannya. Jika seperti ini, maka Fasya akan melanjutkan aktingnya untuk tidur. Jujur, dia masih mengantuk.
Tepukan pada pipinya tidak membuat Fasya membuka mata. Dia masih pura-pura tidur karena tahu Adnan yang membangunkannya. Kali ini Fasya tidak akan menyerah. Tuhan memang berpihak padanya, Adnan berhenti membangunkannya dan berjalan ke arah kamar mandi. Fasya mengetahuinya karena terdengar pintu kamar mandi yang tertutup.
Ahh, pagi yang cerah.
***
TBC