Adnan mengetuk pintu apartemen di depannya dengan sabar. Selagi menunggu, dia mematikan ponselnya agar tidak ada seorang pun yang menghubunginya. Tubuh Adnan sangat lelah hari ini dan pertemuannya dengan Denis semakin menguras tenanganya.
Pintu terbuka dan muncul seorang wanita cantik dengan senyuman lebarnya.
"Aku pikir kamu nggak dateng."
"Aku males di rumah," jawab Adnan.
"Tumben?"
Kinan mengerutkan dahinya dan membuka pintunya lebar untuk membiarkan Adnan masuk. Seperti sudah terbiasa, Adnan melepas jasnya dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Ini bukan kali pertama dia datang karena Adnan memang sudah sering datang berkunjung.
Tentu saja! Kinan adalah kekasihnya.
"Capek ya?" tanya Kinan mengelus bahu Adnan.
"Kamu masak?"
Kinan mengerutkan dahinya dan menggeleng, "Kamu laper ya?"
Tanpa menjawab Adnan mengangguk. Dia belum sempat makan di rumah karena ia langsung pergi begitu Kinan menghubunginya. Berada di rumah dan melihat Fasya membuatnya sedikit kesal.
"Kalau gitu aku pesenin makan. Kamu istirahat aja kalau capek, nanti aku bangunin."
Adnan menggeleng dan menegakkan tubuhnya. Dia tersenyum tipis pada Kinan dan menepuk sisi kosong di sampingnya. Kinan tersenyum dan bergegas duduk di samping Adnan. Dengan cepat lengan kecilnya memeluk pinggang Adnan erat. Dia sangat merindukan kekasihnya karena mereka berdua sama-sama sibuk. Hanya di luar kantor mereka bisa seperti ini, karena Kinan memang menyembunyikan hubungan mereka di kantor.
"Ada masalah?"
Adnan menggeleng, "Cuma capek."
"Mau aku panggilin tukang pijet?"
Adnan kembali menggeleng, "Pesen makan aja."
***
Fasya memakan makanannya dengan gelisah. Sesekali dia melirik pria di hadapannya yang tengah makan dengan santai. Siapa sangka jika malam ini dia kembali kedatangan tamu, kali ini adalah Kakek Faris. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan jika beliau datang tanpa pemberitahuan.
Sebenarnya Fasya tidak akan sepanik ini jika ada Adnan. Sayangnya pria itu entah pergi ke mana setelah pertengkaran mereka tadi. Akhirnya Fasya memilih untuk berbohong pada Kakek Faris dan mengatakan jika Adnan masih di kantor.
Jangan bilang Fasya tidak ada usaha untuk menghubungi Adnan. Sudah berkali-kali dia menghubungi pria itu tetapi jawabannya masih sama. Hanya ada suara embak-embak operator yang menjawab.
"Kok Adnan belum pulang ya, Sya?"
"Kayanya masih lembur, Kek."
"Udah kamu telepon? Anak itu kalau kerja suka lupa waktu. Apa dia lupa kalau udah ada istri di rumah?"
Fasya meringis mendengar omelan Kakek Faris. Ini pertama kalinya dia melihat sisi lain pria itu. Seperti Kakek pada umumnya yang suka mengomeli cucunya yang nakal.
"Sudah aku telepon kok, Kek. Kayanya emang lagi sibuk."
Kakek Faris menghela napas kasar. "Maaf ya, Fasya. Adnan memang sibuk orangnya. Nanti Kakek kasih tau dia buat lebih perhatian sama kamu."
"Nggak! Nggak perlu! Gini aja udah enak nggak perlu ketemu batu sama ginjal lama-lama," balas Fasya dalam hati.
"Oh iya, Kek. Aku boleh tanya sesuatu?" tanya Fasya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Apa itu?"
"Tentang Mas Denis."
Kakek Faris seketika meletakkan sendoknya. Dia menatap Fasya dengan ekspresi berpikir.
"Adnan kasih tau kamu tentang Denis?" tanya Kakek Faris.
Fasya menggeleng, "Kemarin Mas Denis dateng ke rumah. Aku baru tau kalau Mas Adnan punya sepupu."
"Denis ketemu sama Adnan?" Kakek Faris terlihat terkejut.
"Enggak kok, Kek. Kemarin kan Mas Adnan ke luar kota."
Kakek Faris menghela napas lega. Entah kenapa hal itu semakin membuat Fasya penasaran. Apa dia harus bertanya?
"Kakek sedikit lega dan bingung dengernya," ucapnya pelan.
"Kenapa, Kek?" Fasya mulai menggali informasi.
"Hubungan Adnan sama Denis itu...kurang baik."
Fasya bisa melihat itu dengan jelas. Saat menatap Denis tadi, Adnan seperti ingin melemparkan bom atom detik itu juga.
"Kalau boleh tau kenapa ya, Kek?"
Kakek Faris menggeleng, "Itu cuma masa lalu. Kakek nggak bisa cerita ke kamu. Kalau mau kamu bisa tanya lamgsung ke Adnan lebih jelasnya."
Faysa langsung menggeleng detik itu juga. Bertanya langsung pada Adnan? Tidak, itu sama saja seperti bunuh diri. Cukup sekali Fasya bertanya dan tidak membuahlan hasil. Dia tidak akan bertanya yang akan kembali membuat Adnan emosi.
"Kalau gitu Kakek akan nginep malam ini. Kasian kamu sendirian di rumah."
Fasya terkejut bukan main. Kejutan apa lagi ini? Kenapa Kakek Faris selalu spontan?
"Aku nggak papa kok, Kek. Beneran."
"Sekalian Kakek juga ada perlu sama Adnan. Anak itu harus dikasih nasehat biar lebih perhatian sama kamu."
"Demi Allah nggak usah, Kek!"
Sayangnya Fasya tidak bisa mengatakan kalimat itu sekarang. Dia sangat menghormati Kakek Faris.
Makan malam kembali berlanjut dengan santai. Kali ini mereka berbincang dengan ringan. Melalui perbincangan itu, Fasya tahu jika dia memiliki kesamaan dengan Kakek Faris, yaitu hobi memancing. Obrolam mereka begitu cocok sehingga tak sadar waktu telah berlalu cukup lama.
Malam telah tiba, akhirnya Kakek Faris pamit untuk istirahat di kamar. Kesehatannya yang masih belum stabil membuatnya harus beristirahat tepat waktu dan tidak boleh merasa lelah.
Dalam kondisi seperti ini Fasya dibuat bingung dan kesal pada Adnan. Pria itu masih belum bisa dihubungi hingga saat ini. Bahkan Fasya memilih untuk menunggu di ruang tengah agar Kakek Faris lebih dulu masuk ke dalam kamar. Dia tidak mau Kakek Faris tahu jika dia dan Adnan tidur di kamar yang berbeda. Sialnya lagi kamar mereka bertiga berada di atas dan juga berdekatan membuat Fasya semakin takut jika akan ketahuan.
"Batu ginjal ke mana sih?" Fasya menutup ponselnya. "Bodo ah, gue ngantuk."
Fasya menghentakkan kakinya dan berlalu ke lantai atas. Dia berjalan dengan pelan berharap jika Kakek Faris tidak akan mengetahui apa yang ia lakukan. Saat akan membuka pintu kamarnya, Fasya mendengar pintu kamar sebelah yang terbuka. Dengan cepat Fasya menutup pintu kamarnya kembali dengan keras, dengan reflek tentu saja. Dia mengumpat dalam hati takut jika Kakek Faris menyadari tingkahnya.
Kenapa dia begitu sial hari ini?
"Loh, kok belum tidur, Sya?"
Fasya memejamkan matanya sebentar dan berbalik. "Belum, Kek. Lagi nunggu Mas Adnan."
"Terus kenapa kamu berdiri di situ?" tanyanya dengan kening berkerut.
"Oh, anu.. ini.. tadi aku kayanya liat tikus."
"Tikus?!" Kakek Faris terkejut, "Adnan ini gimana sih kok nggak jaga kebersihan rumah."
"Mungkin karena kamar kosong, Kek." Fasya tersenyum konyol.
"Ya udah, jangan deket-deket kamar itu. Biar besok dibersihin sama Bibik."
Fasya mengangguk dan berjalan pelan ke arah pintu kamar Adnan, pintu yang berada tepat di depan kamarnya. Tangan Fasya menyentuh gagang pintu berniat untuk membukanya. Meskipun terkesan santai, tetapi otaknya terus berpikir apa yang harus ia lakukan agar tidak masuk ke dalam kamar Adnan.
"Kakek kenapa keluar?"
Bingo!
Fasya akhirnya menemukan cara.
"Oh, Kakek mau ambil air putih."
Dengan cepat Fasya mendekat, "Biar aku ambilin, Kek."
"Nggak usah. Kakek bisa sendiri kok."
"Biar aku yang ambil." Tiba-tiba Adnan datang dan mengambil gelas dari tangan kakeknya.
"Kamu! Dasar anak nakal! Jam berapa ini baru pulang?" Tiba-tiba Kakek Faris mencubit lengan Adnan.
Adnan meringis mendengar omelan Kakeknya. "Aku lembur, Kek."
"Kamu lupa kalau udah punya istri? Kasihan Fasya nggak tidur nungguin kamu, malah cari tikus!"
Adnan menatap Fasya dengan bingung. Fasya hanya bisa menggeleng pelan.
"Udah, kalian masuk kamar sana langsung istirahat!"
"Biar aku bantu ambilin minum, Kek." Fasya masih berusaha.
"Nggak usah, kalian berdua pasti capek. Udah sana masuk!"
Tanpa menjawab, Adnan menarik tangan Fasya dan masuk ke dalam kamar. Semua terjadi begitu cepat sampai Fasya tidak sadar jika dia sudah berada di dalam kamar. Fasya sedikit salah fokus dengan kamar Adnan yang didominasi kayu dan warna coklat, tetapi dia langsung tersadar dengan kondisi mereka saat ini.
"Gimana, Mas?" bisik Fasya panik.
Adnan menghela napas kasar dan mengedikkan bahunya pelan. "Terpaksa. Kita harus tidur satu kamar."
***
TBC