Perdebatan Malam

1169 Kata
Kehidupan rumah tangga Fasya dan Adnan sangatlah aneh. Saat ini mereka tengah duduk di meja makan di mana Adnan dan Fasya masing-masing duduk di ujung meja. Tidak ada percakapan apapun di antara mereka selain dentingan sendok dengan piring. Ini pertama kalinya Fasya melihat Adnan setelah pria itu kembali dari luar kota tadi siang. Sesekali Fasya melirik Adnan yang masih fokus makan. Dia melihat pria itu dengan pandangan menilai. Bahkan dia memiringkan kepalanya untuk berpikir. Yang ada di otak Fasya saat ini adalah Adnan mirip seperti robot. Tidak ada yang pria itu lakukan selain makan, berbeda dengan Fasya yang tidak bisa diam dan sesekali melirik ponselnya agar tidak jenuh. Ingatan Fasya kembali pada semalam, di mana Adnan menghubunginya dan berkata hal yang membuatnya bingung. Hingga saat ini Fasya masih penasaran kenapa Adnan melarangnya bertemu dengan Denis? Mereka adalah sepupu seharusnya Adnan tidak boleh seperti itu. Apa mungkin memamg Adnan yang menyebalkan di sini? Fasya ingin sekali bertanya tetapi dia ragu saat melihat Adnan yang sangat tidak manusiawi, diam seperti robot rusak. Fasya meminum air putihnya saat piringnya sudah kosong. Dia berdeham pelan berusaha memulai percakapan. Tidak, dia tidak bisa diam. Adnan membuatnya penasaran. "Mas?" panggil Fasya hati-hati. Adnan hanya meliriknya sekilas dan kembali fokus pada piringnya. "Mas?" panggil Fasya lagi. Kali ini sedikit kesal. "Apa? Tinggal ngomong." Fasya mengerucutkan bibirnya kesal. Respon Adnan benar-benar menyebalkan. Jujur lebih baik pria itu diam dari pada membuka suara. Namun sayangnya Fasya ingin Adnan berbicar saat ini. "Soal semalam, kenapa Mas Adnan larang aku ketemu Mas Denis?" Melihat Adnan yang oangsung berhenti makan membuat janting Fasya juga seperti ikut berhenti. Sepertinya dia telah melakukan kesalahan. Apa dia bisa menarik pertanyaannya kembali? "Kamu nggak perlu tau. Kalau saya bilang jangan ketemu ya jangan ketemu." "Tapi kan Mas Denis sepupu Mas Adnan?" Adnan meletakkan sendiknya dan menatap Fasya lekat, "Kata siapa dia sepupu saya?" Mata Fasya membulat mendengar itu. "Jadi Mas Denis bukan sepupu Mas Adnan?" "Kata siapa dia bukan sepupu saya?" Raut terkejut dari wajah Fasya langsung hilang, tergantikan dengan wajah kesal. Adnan benar-benar menyebalkan! Fasya harus banyak-banyak berdoa agar Tuhan memberikannya umur panjang untuk menanggapi Adnan. "Ya terus Mas Denis itu siapa? Jangan muter-muter deh." "Dasar robot konslet!" Lanjut Fasya dalam hati. "Saudara jauh." Adnan mengedikkan bahunya tak acuh dan kembali makan. "Mas Adnan belum jawab pertanyaan aku. Kenapa Mas Denis nggak boleh dateng ke rumah?" Adnan menghela napas kasar dan mendorong piringnya menjauh. Dia mengelap bibirnya dengan tisu dan berdiri. "Kamu bikin napsu makan sayang hilang." Fasya mengepalkan tangannya dan ikut berdiri. "Mas!" panggilnya lagi saat Adnan beranjak ingin pergi. "Berhenti. Jangan lewatin batas kamu. Ingat perjanjian kita." Fasya terdiam tidak bisa menjawab. Seketika dia teringat dengan perjanjian mereka. "Ya, kalau gitu Mas Adnan juga nggak bisa larang aku ketemu Mas Denis dong. Dia baik kok, udah janji juga mau kenalin aku sama pacarnya." "Fasya!" Adnan seperti hilang kesabaran. Hal itu tentu membuat Fasya terkejut. Bahkan dia mundur satu langkh meskipun jarak mereka sudah sangat jauh. Seumur hidup tidak ada satupun orang yang membentaknya, bahkan kakek dan neneknya sekalipun. Namum sekarang untuk pertama kalinya Fasya dibentak oleh pria yang sangat ia benci, sayangnya pria itu adalah suaminya. "Ini rumah saya. Kamu tinggal di rumah saya. Jangan pernah langgar peraturan rumah." "Oke, kalau gitu aku bisa ketemu Mas Denis di luar." Adnan menggertakkan giginya mendengar itu. Tangannya terkepal erat tetapi perlahan dia kembali normal. Dia mengontrol emosinya dengan baik. "Terserah. Kalau terjadi apa-apa jangan ngadu ke saya." Setelah itu Adnan benar-benar pergi. Fasya langsung jatuh terduduk dengan tangan menyentuh d**a. Dadanya berdetak kemcang masih terkejut dengan bentakan Adnan. Rasanya menyakitkan. Hanya karena masalah sepele pria itu membentaknya. Bahkan tidak memberikan penjelasan sedikitpun. "Dasar robot rusak!" *** Mobil Adnan berbelok menuju ke arah rumahnya. Dia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 6 sore. Tubuhnya sangat lelah sekarang karena tidak mendapatkan istirahat yang cukup. Saat di luar kota kemarin, tidurnya benar-benar tergangu. Bahkan Adnan hanya memejamkan mata selama dua jam. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk sedikit bersantai dan ditemani dengan segelas s**u jahe. Saat akan memasuki halaman rumahnya, dahi Adnan berkerut saat melihat sebuah mobil yang terparkir di luar pagar. Dia mengurungkan niatnya untuk masuk saat melihat Fasya keluar dan menghampiri seorang pria yang sangat Adnan kenal. "Sialan," umpat Adnan mulai memakirkan mobilnya asal. Dia keluar dari mobil dan menghampiri Fasya dengan wajah yang memerah. Rahangnya yang mengeras menunjukkan jika Adnan sedang marah saat ini. Berapa kali fia harus mengingatkan gadis itu untuk tidak bertemu dengan Denis? "Fasya!" Fasya menatap kedatangan Adnan dengan khawatir. Dia menunduk dan memainkan tangannya gelisah. Adnan menatap Denis tajam. Pandangannya benar-benar menyeramkan, berbeda dengan Denis yang menatapnya dengan senyuman. Seperti uang koin, sifat mereka sangat berbanding terbalik. "Mas Adnan udah pulang? Ini Mas Denis dateng buat kasih oleh-oleh dari Belanda." Fasya berbicara cepat. Ini bukan kemauannya. Saat baru saja kembali dari magang, dia sudah melihat Denis di luar rumah. Pak Yanto melarangnya masuk seperti perintah Adnan. Fasya tidak bisa melakukan apapun selain menyambutnya. Dia tidak cukup tega untuk mengusir Denis seperti permintaan Adnan, oleh karena itu dia menemui pria itu di luar rumah. Adnan tidak menjawab ucapan Fasya. Tangannya dengan cepat memgambil sebuah kantong dari tangan Fasya dan mengembalikannya kembali pada Denis. "Pulang," ucap Adnan singkat dan mulai menarik Fasya untuk masuk ke dalam rumah. Adnan memberikan kunci mobilnya pada Pak Yanto dan memintanya untuk memasukkan mobilnya. Dia masuk masih dengan menarik tangan Fasya. Ada rasa sakit yang Fasya rakasan, tryapi diantidak bisa membantah. Dia takut jika Adnan kembali marah seperti semalam dan membentaknya. "Mas, sakit," ucap Fasya pada akhirnya saat mereka sudah berada di ruang tengah. Adnan melepaskan tangan Fasya dan menatapnya tajam, "Sudah berapa kali saya bilang? Jauhi Denis!" "Ya jangan salahin aku, Mas. Tiba-tiba Mas Denis dateng, masa aku usir?" Fasya mengerucutkan bibirnya kesal. "Usir!" Fasya menunduk tidak mau menatap Adnan. Hatinya benar-benar dongkol saat ini dan melihat wajah pria itu akan semakin membuat emosinya naik. Fasya tidak mau kemarahannya meledak hanya karena masalah tidak penting ini. Kenapa juga Adnan berlebihan seperti ini? "Ingat, kamu masih tinggal di rumah saya. Ikuti aturan yang sudah saya buat!" "Udah aku ikutin," sahut Fasya malas. "Apa yang kamu ikuti? Baru tadi malem saya bilang buat jauhi Denis, tapi sek—" "Duh, ngomel mulu! Kan aku ketemu Mas Denis di luar rumah. Berarti aman dong? Kan Mas Adnan bilangnya jangan biarin Denis masuk rumah." Fasya menirukan ucapan Adnan di kalimat akhir dengan suara yang berat. "Kamu!" "Udah ya, Mas. Aku capek, baru pulang juga. Jangan marah-marah mulu nanti keriput. Kalau ada masalah ngomong langsung ke Mas Denis, jangan ke saya." Fasya berlalu pergi meninggalkan Adnan yang terkejut mendengar jawaban Fasya. Seketika pikiran Adnan terbuka. Benar, sepertinya dia harus memberikan peringatan pada Denis. Bukan tanpa alasan Adnan tidak mau berhubungan dengan Denis. Ada hal yang membuatnya lebih baik menjauh. Jika ditanya siapa orang yang Adnan benci saat ini, jelas jawabannya adalah Denis. Dering ponsel berbunyi. Dengan segera Adnan membuka ponselnya dan melihat nama orang yang menghubunginya saat ini. Dia menarik napas dalam dan membuangnya cepat. "Ya Kinan?" *** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN