Sebagai mahasiswa magang, tentu pekerjaan Fasya tidak seberat karyawan tetap. Namun baru beberapa hari menjalani magang entah kenapa dia sudah mulai merasakan lelahnya bekerja. Fasya memang senang saat di kantor, tetapi saat pulang dia mulai merasakan lelah pada tubuhnya. Apa ini yang dirasakan oleh para pekerja? Dia meringis saat mengingat kakeknya yang sudah tua tetapi masih bisa mengurus peternakan sapi di desa. Sepertinya Fasya harus mulai lebih menghargai uang sekarang.
Setelah pulang magang, mandi adalah pilihan terbaik. Fasya keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya yang basah. Mungkin setelah ini dia akan sedikit bersantai sambil menunggu jam makan malam tiba. Baru saja ingin meluruskan kakinya di tempat tidur, Fasya mendengar suara ketukan pada pintunya.
"Bibi?" sapa Fasya saat tau jika Bibi Sari yang mengetuk pintu kamarnya.
"Maaf, Mbak. Ada tamu di bawah."
Kening Fasya berkerut, "Tamu? Siapa, Bik?"
"Katanya namanya Denis?"
"Tamu Bapak?"
Bibi Sari menggeleng, "Katanya mau ketemu sama istri Pak Adnan."
"Saya dong?" Fasya menunjuk dirinya dengan sedikit panik.
Tentu saja Fasya panik. Dia masih belum terbiasa tinggal di rumah ini dan sekarang dia sudah mendapatkan tamu. Entah siapa yang datang. Bagaimana jika itu adalah tamu Adnan? Bagaimana dia akan bersikap? Biar bagaimanapun Fasya adalah istri dari pemilik rumah ini, meskipun hanya sebuah status.
"Oke, saya turun. Tolong buatin minum ya, Bik."
"Iya, Mbak."
"Terim kasih, Bik."
Fasya menarik napas dalam dan mulai berjalan. Dia menuruni anak tangga dengan hati-hati agar tidak terjatuh. Jujur saya dia menahan tubuhnya agar tidak bergetar saat ini juga karena menahan rasa gugup.
Memasuki ruang tamu, Fasya bisa melihat siluet tubuh tinggi seorang pria yang berdiri membelakanginya.
"Maaf, cari siapa ya?" tanya Fasya basa-basi.
Pria itu menoleh dan tersenyum lebar saat melihatnya. Kedua tangannya terentang dan tanpa aba-aba langsung memeluk Fasya erat.
Apa ini?
Kenapa tiba-tiba seseorang memeluknya?
Apa ada kamera tersembunyi di sini?
Dengan cepat Fasya mendorong pria itu menjauh. Gila! Siapa pria asing yang baru saja memeluknya itu?
"Maaf, Anda siapa?" Fasya berjalan mundur satu langkah.
Pria itu terlihat tidak terganggu dengan ketidak-nyamanan Fasya. Dia malah tersenyum dengan cengiran yang konyol.
"Saya Denis, sepupu Adnan. Maaf kalau buat kamu kaget," ucapnya dengan terkekeh.
Fasya membuka mulutnya terkejut. Dia meringis dan kembali berjalan mendekat. "Maaf, Mas. Saya nggak tau soalnya."
Denis mengibaskan tangannya tak acuh, "Nggak masalah. Saya juga salah karena tiba-tiba peluk kamu. Pasti kaget ya?"
Fasya mempersilakan pria bernama Denis itu untuk duduk. Dia merutuk dalam hati karena hampir saja bersikap tidak sopan pada keluarga Adnan.
"Mas Denis mau cari Mas Adnan? Tapi Mas Adnan lagi di luar kota."
Denis menggeleng, "Nggak kok. Aku tau kalau Adnan keluar kota makanya aku ke sini. Aku dateng khusus mau ketemu sama kamu, istri Adnan. Maaf ya baru bisa dateng dan kenalan sekarang. Habis pulang dari Belanda soalnya, ada beberapa pekerjaan."
"Nggak papa kok, Mas. Maaf juga kalau saya nggak ngenalin Mas Denis."
Denis berdecak, "Kamu nggak salah. Adnan aja yang nggak cerita tentang aku. Dasar anak itu!"
Fasya hanya bisa tersenyum tidak tahu harus menjawab apa. Pernikahan memang terjadi begitu cepat sehingga tidak ada waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Bahkan Fasya baru tahu jika Adnan memiliki sepupu.
"Jadi Fasya, kamu masih sekolah?" tanya Denis melihat Fasya dari atas ke bawah.
"Saya sudah kuliah, Mas."
Denis tertawa lega, "Oh, aku kira masih SMA. Masih imut soalnya."
"Nanti saya minum s**u yang banyak biar tambah tinggi."
Fasya mencoba mencairkan suasana dan ikut membaur. Dia tidak bisa bersikap tak acuh karena Denis juga bukan pria pendiam. Pria itu berbeda dengan Adnan yang mulutnya seperti terkena lem tikus.
Entah sudah berapa lama Fasya dan Denis berbincang. Pria itu cukup menyenangkan, berbeda dengan Adnan yang membosankan. Fasya benar-benar menikmati waktunya. Bahkan rasa lelah ditubuhnya sedikit hilang karena kehadiran Denis.
"Aku pikir Mas Adnan itu cucu satu-satunya Kakek Faris loh."
Denis tertawa kecut, "Memang banyak yang nggak kenal aku. Ya.. bisa dibilang aku bukan cucu kesayangannya Kakek."
Fasya merasa bersalah karena membahas hal ini. "Maaf ya, Mas."
"Udah, nggak perlu minta maaf. Kamu memang harus tau kan udah jadi keluarga."
"Iya, sekarang aku juga tau kalau Mas Denis sepupunya Mas Adnan. Jadi Mas Denis nggak perlu khawatir kalau nggak ada yang ngenalin."
Denis tersenyum tipis, "Kamu baik, Sya. Maaf ya kalau kamu harus laluin ini semua. Aku baru tau tentang perjodohan ini dari kakek."
Senyum Fasya mendadak hilang mendengar itu. Dia kembali teringat bagaimana akhirnya dia bisa berakhir di rumah ini. Menyebalkan memang tetapi sayangnya semua itu adalah kenyataan.
"Nggak papa kok, Mas. Semua juga demi kesehatana Kakek Faris dan Kakek saya. Toh, Mas Adnan juga baik."
Fasya sedikit menyesal mengucapkan kalimat terakhirnya. Berbohong adalah hal yang ia benci dan sekarang dia malah melakukannya. Meskipun dia membenci Adnan tetapi tidak mungkin dia membicarakan kejelekan pria itu di hadapan sepupunya. Fasya masih ingin hidup.
"Udah mau gelap. Kalau gitu aku pulang dulu ya, Sya. Maaf ganggu istirahat kamu."
"Nggak papa kok, Mas."
"Lain kali aku ajak jalan-jalan biar kamu nggak bosen di rumah. Sekalian aku kenalin sama pacar aku."
Fasya mengangguk dan tersenyum, "Oke, Mas. Kabari aja nanti."
Denis memutuskan untuk pulang. Fasya sudah menawarkan untuk tinggal sampai jam makan malam, tetapi Denis menolak dan memilih untuk pergi. Meskipun Fasya membenci Adnan bukan berarti dia juga membenci keluarga pria itu. Sekarang Fasya justru heran, dari mana Adnan mendapatkan sifat dinginnya di saat kakek dan sepupunya begitu hangat dan ramah?
***
Sebelum tidur Fasya melakukan rutinitasnya, yaitu memberikan nutrisi pada kulitnya. Saat masih mengoleskan serum di wajahnya, Fasya mendengar ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk.
Dari nomor yang tidak dikenal. Fasya mengerutkan dahinya dan dengan cepat membukanya.
From: 081633xxxxxx
Tadi siapa tamu yang datang?
Hanya membaca pesan itu Fasya sudah tahu siapa pengirimnya. Siapa lagi jika bukan Adnan. Sangat khas karena begitu singkat dan tanpa basa-basi.
To: 081633xxxxxx
Tadi ada Mas Denis, sepupu Mas Adnan dateng.
Fasya membalasnya dengan cepat. Dia kembali fokus pada skincare-nya tetapi tidak jadi saat ponselnya kembali berdering. Kali ini Adnan menghubunginya.
Fasya menarik napas dalam dan menghembuskannya cepat sebelum mengangkat panggilan itu.
"Iya, Mas?" sapa Fasya.
"Tadi Denis ngapain?" tanyanya langsung.
Fasya sedikit bingung dengan respon Adnan yang aneh.
"Cuma ngobrol kok," jawab Fasya pelan.
Terdengar suara helaan napas dari seberang sana. "Lain kali jangan bukain pintu buat dia. Kasih tau Pak Yanto sama Bibik."
"Loh kenapa, Mas? Kan Mas Denis sepupu Mas Adnan."
Fasya benar-benar bingung. Kenapa Adnan seperti tidak menyukai Denis?
"Buat kamu juga, jangan pernah berhubungan lagi dengan Denis. Cukup tadi yang pertama dan terakhir."
"Kenap—"
"Jangan banyak tanya."
Fasya menutup mulutnya saat Adnan mulai menyebalkan. Benar bukan? Pria itu sangat galak. Jauh berbeda dengan keluarganya yang lain.
"Iya," jawab Fasya menurut karena tidak mau berdebat.
"Saya tutup."
Setelah mengatakan itu, Adnan benar-benar langsung menutup panggilannya.
"Nyebelin! Dasar babi hutan!"
***
TBC