Pukul delapan malam, Adnan dan Fasya sudah sampai di rumah sakit. Napas mereka terengah karena harus berlarian di lorong rumah sakit agar bisa segera sampai. Saat ini baik Adnan dan Fasya tengah dilanda kepanikan. Jatuh di kamar mandi bukanlah pertanda baik. Mereka tidak bisa tenang sebelum melihat keadaan Kakek Faris secara langsung. Adnan membuka pintu kamar dengan tergesa. Apa yang ia lakukan membuat suara tawa dari dalam ruangan terhenti. Semua orang menatap kedatangan Adnan dan Fasya dengan bingung, apalagi ditambah wajah panik mereka. "Kakek?" Adnan mendekat dan melihat keadaan Kakek Faris lebih dekat. "Kakek nggak apa-apa?" Kali ini Fasya yang bertanya dengan khawatir. Kakek Faris tersenyum dan menyentuh bahu Adnan dan Fasya bersamaan. "Kakek udah nggak apa-apa sekarang, tadi em

