Bab 1: Dingin
Aksara Prayata Wardhana akhirnya harus meninggalkan kantor besarnya yang nyaman untuk turun sendiri ke daerah. Sudah sekian bulan proyeknya mangkrak tanpa progres yang berarti. Padahal suntikan dana tak pernah berhenti ia kucurkan.
Ini adalah proyek pertama yang Aksa tangani sendiri sejak awal. Pertaruhan harga diri yang begitu mahal jika sampai gagal. Akan ia letakkan dimana wajahnya diantara saudara-saudaranya yang lain.
Tidak. Proyek ini tak boleh gagal. Aksa tak akan membiarkannya.
“Siapkan perjalanan ke sana secepatnya. Dan jangan beritahu saya mau datang sendiri,” perintahnya tegas pada asistennya.
“Bapak mau bawa tim berapa?”
“Cukup denganmu saja bisa kan?”
“Baik, Pak. Saya siapkan. Kapan Bapak ingin berangkat? Biar saya cek kembali jadwal Bapak.”
“Lusa, bisa?”
“Saya cek dulu sebentar. Jika Pak Aksa menghendaki lusa, berarti ada beberapa meeting yang memerlukan penyesuaian.”
Aksa mengangguk. Haris, asisten Aksa, keluar ruangan untuk menyusun ulang semua jadwal Aksa. Jadwal bosnya itu sudah terkunci selama satu pekan. Haris tak akan mau membuat perubahan kecuali Aksa sendiri yang memintanya.
Dan itu selalu membuat kepalanya berdenyut. Karena ia harus menjadwal ulang beberapa meeting, dan menghubungi beberapa orang yang terlibat.
Tapi proyek ini memang memerlukan kehadiran Aksa secara langsung. Selain karena ini adalah proyek Aksa yang pertama, proyek ini juga cukup riskan. Aksa tak hanya harus melobi pemerintah daerah, tapi ia juga harus berhadapan dengan para aktivis lingkungan hidup dan pengusaha-pengusaha yang lain.
Aksa menatap layar monitornya begitu Haris keluar. Ada satu dokumen laporan yang belum sempat ia periksa detail. Dokumen terpisah dari laporan proyek yang ia terima. Dan hanya Aksa seorang yang menerima dokumen tersebut.
Aksa membacanya perlahan hingga selesai. Ia mencatat beberapa informasi penting yang perlu ia tindaklanjuti. Kemudian ia membuka mesin pencari dan mencari semua informasi yang dibutuhkannya.
Tak banyak yang bisa Aksa dapatkan. Tapi setidaknya, ia punya gambaran sedikit tentang situasi yang akan dihadapinya. Lawannya kali ini mungkin cukup banyak. Tak hanya kelompok masyarakat yang hendak mengambil keuntungan dari ganti rugi yang ia berikan. Tapi juga para aktivis lingkungan hidup, dan pengusaha-pengusaha, dari pengusaha kecil yang ilegal hingga pengusaha besar dengan bekingan oknum.
Aksa tak akan gentar. Ia akan tetap maju terus membuktikan bahwa ia mampu. Bahwa dirinya lebih baik dari semua omong kosong mereka yang meragukannya.
*
Sebuah mobil mewah keluaran Eropa masuk ke rumah besar dengan pagar tinggi. Rumah mewah itu kini hanya ditinggali oleh sepasang suami istri Adhitama beserta para asisten rumah tangganya.
Seorang wanita paruh baya menyambutnya dengan wajah berseri. “Aksa, senang kamu pulang.”
“Aku hanya perlu ketemu Papa,” sahut Aksa dingin melewati wanita itu dengan tak peduli.
“Papa di ruang makan,” wanita itu menghela napas. Dia memberi jalan pada putra sulungnya untuk masuk ke dalam menemui ayahnya.
“Aksa, duduklah, makan dulu. Kamu pasti belum makan kan?” sapa ayahnya yang duduk di meja makan.
“Aksa gak lapar. Aksa sudah bilang ke Papa kan, Aksa mau ngobrolin proyek, kenapa Papa malah pulang?” tuntut Aksa.
Aksa tahu ayahnya sengaja pulang agar dirinya menemui laki-laki itu di rumahnya. Satu hal yang dihindari Aksa sejak remaja, sejak ia meninggalkan rumah di usia belia untuk melanjutkan pendidikanny
Aksa menempuh masa SMA-nya di asrama selama tiga tahun. Setelah itu ia melanjutkan kuliah di luar negeri hingga magister. Selepas kuliah, ia sempat bekerja satu tahun di luar, sebelum akhirnya kembali ke Indonesia dan masuk ke perusahaan ayahnya.
Sejak kembali ke Indonesia, Aksa memilih tinggal di apartemen. Dia hampir tak pernah menginjakkan kakinya di rumah kecuali harus menemui ayahnya. Karena itu ayahnya sengaja pulang lebih awal agar putranya itu mencarinya di rumah.
“Makan dulu, baru kita bicara. Soal proyek di selatan Jawa Tengah kan?” kata ayahnya.
Aksa membalik piringnya. Mereka hanya makan berdua. Perempuan itu, istri ayahnya bahkan tak lagi Aksa lihat wajahnya, entah kemana perginya.
Keduanya makan dengan tenang. Cenderung dingin. Hanya sesekali terdengar denting sendok menyentuh permukaan piring keramik yang seakan menjadi gema di ruangan besar denga langit-langit tinggi itu. Selebihnya sunyi.
Sementara di dapur, dua asisten rumah tangga menatap miris pada Nyonya rumah yang duduk di depan kitchen island sembari memotong buah. Perempuan itu memang terlihat tenang, tapi sepasang mata beningnya jelas tak mampu menyembunyikan kesedihannya.
Tapi tak seorang pun berani bersuara, hingga suara tuan besar menggema mengagetkan ketiga orang di dapur tersebut. Nyonya rumah itu bahkan sampai meletakkan tangannya di atas da-da.
“Kami sudah selesai. Makanlah. Kami mungkin akan lama.”
“Mau diantarkan kopi atau teh ke ruang kerja?” tanya sang nyonya rumah.
“Gak usah. Anak itu keras kepala. Dia gak akan mau meminumnya.”
Nyonya Wardhana hanya mengangguk. Dia bangkit menuju ruang makan setelah terdengar pintu ruang kerja suaminya ditutup.
“Piring kotornya dibereskan dulu, Bik,” perintahnya sebelum meninggalkan dapur.
“Buahnya, Nyonya?” salah seorang asisten rumah tangga itu menunjuk pada buah yang tadi diiris nyonya mereka.
Itu adalah buah favorit Aksa. Sejak kecil, Aksa kerap mengudap apel dan pear. Dan nyonya Wardhanalah yang selalu menyiapkannya untuk Aksa. Hingga semua berubah saat Aksa beranjak remaja. Tapi Nyonya Wardhana tetap saja memotongkan buah tersebut meski Aksa tak lagi pernah menyentuhnya.
“Simpan di kulkas lagi saja.”
“Baik, Nyonya.”
Salah seorang asisten rumah tangga mengikuti Nyonya rumah menuju ruang makan untuk mengambil piring kotor, sementara yang lain membereskan potongan buah dan peralatannya.
Ruangan besar itu kembali sunyi. Hanya ada Nyonya Wardhana sendiri di ruang makan, berusaha menelan makanannya dengan susah payah.
***