Hari itu, langit yang mendung tetap terasa cerah bagi Whicessenova. Ia memainkan gelasnya yang sudah terisi oleh Lavorta. Menggoyang-goyangkannya, sampai buih yang ada di sana semakin terlihat mengembang. Lelaki berambut pirang itu sesekali memandangi langit dari jendela. Ia meneguk minuman di gelasnya sesekali. Memejamkan mata, menghela napas. Ia, benar-benar puas. “Harum kemenangan sudah tercium.” Ia tertawa, yang disusul dengan tawa yang keluar dari bayangan lelaki di dalam cermin. Sementara itu, seorang gadis sedang mematut dirinya di cermin. Ia mengambil sebuah jepitan berbentuk bunga Daisy, bunga yang sama dengan namanya. Dengan rambut yang diurai, berbeda dengan hari-hari biasanya yang selalu terikat, gadis itu terlihat begitu manis. Sesekali, ia merapikan rambutnya yang menutu

