Teruslah Berbohong Padaku, Mas

1438 Kata
'Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, suatu saat akan tercium juga’ Pribahasa itu yang mungkin saat ini tepat untuk Herman, yang diam-diam sudah membuat luka hati istrinya. Sepandai-pandainya Herman menutupi kedekatannya dengan Alya, lambat laun akan tercium oleh Rahma sebagai istrinya. Walaupun sudah beberapa kali Rahma menemukan bukti, tapi tetap saja Herman tidak mengakuinya jika apa yang di llakukan itu telah melukai hati istrinya. Masih saja dia mengelak jika ditanya tentang perempuan itu. Seperti kejadian saat tiba di Bandara Changi, Herman langsung menerima telepon dari seseorang, dan pada saat menerima panggilan tersebut dia langsung mundur beberapa meter dari posisi duduk Rahma dan kedua anaknya. “Mau kemana, Mas,? tanyaku, ketika Mas herman hendak meletakan tas koper di atas bangku dan hendak beranjak dari tempat duduknya. “Sebentar, ya, Dek, Mas terima telepon dulu.” mas Herman, pamit padaku untuk menerima panggilan telepon. “Jangan jauh-jauh, Mas, gak ada yang jagain barang-barangnya.” pesanku sama mas Herman. “Iya.”jawabnya . Lalu mas herman berbicara pada anakku yang besar, sambil mengusap rambutnya. “Abang, tolong jagain dulu, ya, tas kopernya. Jangan kemana-mana, duduk di sini saja.”ucap mas Herman. Tas gendong yang di pangkunya, lalu di letakan di atas kursi. Kemudian dia berdiri, dengan posisi tangan kiri memegang handpone yang sedang ia dekatkan ke telingannya. Sedikit demi sedikit, posisi berdiri mas Herman mulai bergeser menjauh dari kami bertiga. Namun tetap masih terliaht olehku. Dari tempat aku duduk, terlihat wajah mas Herman menampakan kebahagiaan, saat berbicara dengan si penelpon. Mas Herman terlihat tersenyum sendiri. Sesekali melambaikan tangannya ke arah anakku. Beberapa kali mas Herman membalikan badannya, dengan posisi membelakangiku saat berbicara denga si penelepon tersebut. “Bun, Ayah kok lama terima teleponnya,nanti kita ketinggalan bus, bagaimana.?” tanya anakku yang besar. Mungkin Dia agak kesal, di suruh jagain tas Ayahnya. Biasanya kalau di Bandara Changi, anakku yang besar ini, selalu penasaran ke tempat krain air yang siap minum. Di Changi disediakan Air mineral gratis langsung dari kran, jadi dia suka iseng mengisi botol-botol kosong tempat minumnya. Sementara anakku yang kecil, dari tadi tak lepas dari pangkuanku. Padahal dia inginnya turun dari gendongan, hanya saja aku tidak mengikuti kemauannya. Setelah kurang lebih sepuluh menit mas Herman menerima panggilan tersebut, ia pun kembali ke tempat duduknya, sambil memindahkan tas koper yang ada di kursi. “Telepon dari siapa, Mas?tanyaku penasaran. “I-itu, teman di kantor, dia kan enggak ikutan, terus tanya sudah sampai mana sekelian minta oleh-oleh nanti. Biasalah kalau anak-anak kantor, selalu minta di bawakan sesuatu.” jawab mas Herman. “Ooh…”responku, terhadap jawaban mas Herman. Apa benar apa yang disampaikan mas Herman,yang menghubunginya itu teman kerjanya? minta oleh-oleh? Kenapa harus menghubungi mas Herman? Lalu rombongan pun berangkat menuju penginapan di kawasan little India, menggunakan bus wisata yang sudah di sediakan panitia. Kurang lebih empat puluh menit perjalanan yang kami butuhkan dari Bandara Changi menuju kawasan Little India, kami akhirnya sampai di hotel tempat kami menginap, tidak terlalu mewah, hanya hotel bintang tiga. Tempatnya lumayan strategis, dekat dengan MRT dan Halte Bus. Selain itu, untuk menuju Kawasan belanja Mustofa Centre, jaraknya tidak terlalu jauh, hanya satu kali naik MRT dari Station Little India kemudian turun di Station Farrer Park, mungkin lima menit sudah sampai. Setelah sampai di Lobby, mas Herman mengajak langsung menuju kamar, yang letaknya di lantai dua. Saat pintu kamar baru di buka, kedua anakku langsung melompat ke atas kasur, saking senangnya. “Abang, Adik…! Cuci tangan dan cuci kaki dulu. Sekalian di ganti bajunya,ya. Bunda siapkan baju gantinya.” hardikku dengan suara agak keras. Mereka pun, lalu turun dari Kasur, kemudian bergantian memasuki kamar mandi. Termasuk mengganti pakaiannya masing-masing, tanpa aku bantu. “Bunda…aku sudah ganti baju,”ucap yang kecil. “Abang juga, sudah ganti baju, nih.”sahut kakaknya tidak mau kalah melapor Sementara mas Herman, mulai terlihat sibuk mempersiapkan perlengkapan yang akan di bawanya saat training nanti,sebab sekitar satu jam lagi, jadwalnya trainingnya akan dimulai. Padahal sebenarnya, tempat untuk mengikutinya tidak jauh, hanya berjarak 150 meter saja dari tempat kami menginap. Tapi menurutnya, jika disiapkan lebi awal, akan lebih bagus. “Finish. Semuanya sudah rapi, tinggal nunggu berangkat saja nanti.” ucap mas Herman, kemudian dia berdiri dan meregangkan kedua tangannya sambil menghadap pada kami bertiga. “Ayah, kita jalan-jalannya, kapan?" tanya anakku yang besar. “Memangnya Ayah, kerja juga? kantor ayah kan di Jakarta?" sambung adiknya, sambil melompat-lompat di atas tempat tidur. Setelah meletakan tas gendong berisi laptop, modul dan lainnya, di atas meja. Mas Herman langsung mendekati anak-anak. “Ayah, ganti baju dulu, sana…!.” teriak anak-anak. Mereka berdua sepertinya menirukan ucapkanku tadi, saat menyuruhnya untuk mengganti baju dan bersih-bersih badan. Aku hanya tersenyum dibuatnya, sambil tanganku menyiapkan pakaian yang akan digunakan oleh mas Herman nanti. Mas Herman pun tertawa, ketika mendengar anak-anak teriak melarangnya untuk naik ke tempat tidur, lalu mas Herman pun langsung berdiri kembali. “Siap grak…!”ucap mas Herman. “Kalau begitu, Ayah mau izin dulu ke kamar mandi, komandan…” ucap mas Herman, lalu berdiri dengan tangan kanan, melakukan posisi hormat ke arah anak-anak. “Baik.” jawab anak-anak. Mas Herman kemudian langsung menuju kamar mandi. Sementara aku masih menyiapakan baju, sepatu dan dasi mas Herman. Setelah semuanya sudah siap, aku menggedor pintu kamar mandi, untuk menyerahkan pakain gantinya. “Mas, ini pakaiannya, nanti langsung ganti di dalam kamar mandi saja, ya.” Mas Herman membuka sedikit pintu kamar mandi, kuberikan pakaiaan mas Herman ke dalam. “Terimakasih, sayang…”ucap mas Herman, sambil mengucapkan sayang. Kedua anakku sudah anteng di depan tivi, menonton kartun kesayangannya. Karena, aku membawa persediaan snack di dalam tas, akupun menawarkan pada mereka. “Ada yang sudah lapar?atau mau makan snack nya dulu?” sambil kuangkat dua bungkus cemilan Chiki dan Taro. “Aku mau , Aku mau…”teriak mereka. Tanpa aku atur, keduanya sudah mengambil snack kesukaannya masing-masing. Beberapa menit kemudian, mas Hermanpun terdengar membuka pintu kamar mandi, pertanda dia sudah selesai mandi dan sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Mas Herman memang tampan, akupun tidak memungkiri ketampanannya. Jadi wajar saja, jika ada perempuan lain yang tertarik padanya. Dengan penampilan seperti ini, mas Herman terlihat seperti anak kuliah-an yang akan di wisuda. Lihat saja dia, dengan wajah baby face, jenggot tipis, rambut klimis belah dua dan lengkap dengan kacamatanya. Jangankan perempuan seusianya, yang masih anak baru gede pun, akan tertarik jika memandangnya. “Mas jangan berangkat dulu, ya. Aku sebelum aku keluar dari kamar mandi. Mas temani anak-anak sebentar, diatas meja dekat telepon, ada roti keju dan kopi yang sudah aku siapkan.” ucapku sambil merapikan dasinya, yang terlihat miring. Akupun bergegas menuju kamar mandi, tapi tidak untuk mandi, hanya sekedar mencuci muka dan bersih-bersih kaki saja. Karena aku dan anak-anak tidak ada kegiatan pagi ini, selain menunggu mas Herman pulang. Setelah mas Herman pulang, niatnya adalah mengajak kedua anakku untuk jalan-jalan. “Tuh Bunda, sudah selesai. Ayah tinggal dulu, ya. Nanti kalau Ayah sudah pulang, kita jalan-jalan ya. Nanti diberi kabar lima belas menit sebelum ayah pulang ke kamar.” “Ok, Ayah...,hati-hati di jalan.”ucap kedua anakku serentak persis, suaranya ipin -upin. Mas Herman lalu mengambil tas laptopnya. Akupun lalu mencium tangan mas Herman dan mengantarkannya ke depan pintu kamar hotel. “Mas berangkat dulu, ya. Nanti mas Kabarin kalau sudah mau pulang. Kalau ada apa-apa, nanti kabarin aku,jangan lupa.” ucap mas Herman, lalu mencium keningku. “Sukses, ya, Mas, trainingnya.” pesanku. “Assalamuallaikum.”pamit mas Herman. “Waalaikumsallam” jawabku. Mas Hermanpun berjalan menuju arah lift, setelah masuk kedalam lift, aku langsung menutup pintuk kamar hotel, dan rebahan bareng kedua anakku. Satu jam berlalu, tiba-tiba ada bunyi telepon masuk di handpone miliknya mas Herman. Sepertinya tertinggal di laci meja bawah tivi. Karena takut penting, akupun mengambilnya. Namun baru saja Tarik gagang laci, terlihat di layar Handpone, nama pemanggil ‘Alya” jangan- jangan yang tadi pagi di Bandara pun, dia yang menghubungi mas Herman, yang di akui panggilan telepon dari temannya. Karena penasaran, Rahma pun berniat untuk menerima panggilannya. “Assalamualaikum, A-Herman.” sapanya, ucapan salam dengan suara yang lembut. “Waalaikumsallam.” jawabku pelan dan tenang. Namun belum juga aku melanjutkan percakapan, tiba-tiba, panggilannya terputus. Mungkin si Alya sudah kenal dengan suaraku, makanya, saat dia mendengar suaraku, teleponnya langsung bunyi di tutup. 'Jangan-jangan benar dugaanku, jika yang menelepon mas Herman tadi pagi di Bandara adalah si Alya. Bismillah, aku akan berusaha untuk membuka isi pesan antara mas Herman dengan si Alya, agar rasa penasaranku terobati.' gumamku
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN