Kabut di Jalan Berliku
Perjalanan menuju Desa Berawa terasa seperti melintasi pintu menuju dunia yang terpisah dari keramaian kota. Selama tiga jam terakhir, jalan aspal yang mulus berubah menjadi tanah merah yang berdebu, lalu makin menyempit, berkelok di antara pepohonan lebat yang rimbunnya menyelimuti langit hingga hanya menyisakan seberkas cahaya samar yang menembus celah dedaunan. Diana menatap ke luar jendela mobil sewaannya, napasnya terasa berat bercampur udara lembap yang berbau tanah basah dan aroma kayu tua. Sebagai guru sejarah yang tengah mengerjakan penelitian tentang warisan budaya di daerah pedalaman Bali, ia sudah membayangkan suasana desa yang tenang dan asri. Namun, apa yang ia rasakan saat ini jauh lebih dari sekadar ketenangan ada sesuatu yang sunyi, seolah tempat ini menyimpan nafas yang ditahan rapat-rapat.
Peta yang ia bawa sejak tadi mulai terasa kurang berguna. Beberapa tanda jalan sudah pudar, tertutup lumut atau tumbuhan liar yang tumbuh tak terkendali. Hanya satu jalur yang tampak masih sering dilalui, meski terlihat jarang dilintasi kendaraan. Di sampingnya mengalir sungai kecil yang airnya bening, tapi suaranya terdengar samar, seolah ditelan keheningan hutan. Diana mengeratkan pegangan pada setir, mencoba menenangkan diri. Ia datang ke sini atas petunjuk seorang kolega yang menyebutkan bahwa di Desa Berawa tersimpan dokumen-dokumen tua yang belum pernah diteliti orang lain catatan tentang sistem pemerintahan adat, tradisi kuno, dan peristiwa-peristiwa yang tercatat samar dalam sejarah daerah ini.
Ketika matahari mulai condong ke barat, mewarnai langit dengan rona jingga pucat, kabut tipis mulai turun perlahan. Awalnya hanya menyentuh ujung-ujung rumput di pinggir jalan, tapi dalam waktu singkat kabut itu naik, menyelimuti batang pohon hingga membuat pandangan menjadi kabur. Diana memperlambat laju mobilnya, memfokuskan pandangan agar tidak tergelincir ke parit yang tersembunyi. Tak lama kemudian, ia melihat tanda kayu yang berdiri miring, tertulis dengan tinta yang sudah memudar: DESA BERAWA SELAMAT DATANG.
Hatinya berdebar sedikit lebih kencang.
Memasuki wilayah desa, suasana terasa berbeda. Rumah-rumah warga berdiri berjarak satu sama lain, dikelilingi halaman yang luas dan dipagari bambu. Beberapa tampak terawat, tapi banyak juga yang terlihat tua, dengan atap jerami yang mulai lapuk dan dinding kayu yang berubah warna menjadi kelabu. Suasana sangat sepi; tidak ada suara anak-anak bermain, tidak ada percakapan warga yang riuh, bahkan gonggongan anjing pun terdengar sangat jarang dan jauh. Seolah seluruh penghuni desa ini sedang bergerak dengan langkah yang sangat pelan, takut membangunkan sesuatu yang sedang tidur.
Diana memarkir mobilnya di depan sebuah bangunan sederhana yang bertuliskan "Warung & Penginapan Bu Sari". Ia turun dan menarik napas panjang, mencoba menyesuaikan diri dengan udara yang makin dingin seiring turunnya kabut. Sebelum ia sempat mengetuk pintu, sebuah suara lembut terdengar dari balik jendela.
"Mencari tempat menginap, Mbak?"
Seorang wanita paruh baya muncul di ambang pintu. Usianya sekitar lima puluh tahun lebih, wajahnya berkerut oleh sinar matahari dan waktu, namun matanya tajam dan waspada. Itulah Bu Sari, pemilik tempat ini. Diana tersenyum ramah.
"Ya, Bu. Saya Diana. Guru sejarah, datang untuk meneliti dokumen lama yang katanya tersimpan di sini. Boleh saya menginap selama beberapa hari?"
Bu Sari menatapnya lama, dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah sedang menimbang apakah Diana benar-benar orang yang bisa dipercaya atau hanya orang asing yang datang mengganggu ketenangan. Setelah beberapa detik yang terasa lama, ia mengangguk perlahan.
"Boleh. Ada satu kamar kosong di belakang. Tapi ada satu hal yang harus kau tahu sejak awal, Mbak Diana. Di sini ada aturan tak tertulis. Jangan berjalan sendirian ke arah hutan saat senja mulai turun. Dan apapun yang kau dengar atau lihat di malam hari, tetaplah di dalam kamar dan kunci pintu rapat-rapat."
Nada bicaranya datar, tidak berlebihan, namun membuat bulu kuduk Diana meremang. Ia mengira itu hanya peringatan biasa untuk keamanan di desa terpencil, jadi ia menjawab dengan nada santai, "Baik, Bu. Saya akan berhati-hati."
Setelah menyelesaikan urusan administrasi dan meletakkan barang-barang di kamar yang sederhana tapi bersih, Diana keluar untuk melihat suasana desa. Di dekat lapangan kecil, ia bertemu dengan seorang pemuda berperawakan tegap, mengenakan kain sarung dan baju kaos usang. Namanya Kadek, anak kepala desa yang juga sering membantu warga mengurus keperluan sehari-hari. Mendengar maksud kedatangan Diana, Kadek tampak tertarik sekaligus ragu.
"Kau ingin melihat arsip tua itu? Sudah lama sekali tidak ada yang membukanya. Arsip itu disimpan di ruang kecil di balai desa, tapi kuncinya dipegang oleh Pak Kades. Ia hanya akan memberikannya jika merasa tujuanmu memang baik," jelas Kadek.
"Apakah ada yang salah dengan arsip itu?" tanya Diana penasaran.
Kadek menoleh ke arah utara, ke mana kabut mulai makin tebal menyelimuti bagian atas bukit. Matanya tampak gelisah. "Bukan salahnya, tapi... banyak cerita yang menyertai benda-benda tua itu. Sejak puluhan tahun lalu, sejak kepala desa sebelum yang sekarang meninggal secara mendadak, orang-orang mulai enggan membahas masa lalu Desa Berawa. Mereka bilang, terlalu banyak rahasia yang lebih baik dikubur bersama waktu."
Malam mulai turun dengan cepat. Langit berubah menjadi ungu tua, dan kabut yang tadinya tipis kini menyelimuti seluruh desa hingga jarak pandang hanya sekitar sepuluh meter saja. Suasana makin hening, hanya sesekali terdengar suara jangkrik dan angin yang berdesir di sela-sela atap rumah. Diana kembali ke penginapan, duduk di meja kayu sambil mencatat pengalaman hari pertamanya. Pikiran Bu Sari dan Kadek terus terngiang di kepalanya. Apa sebenarnya yang membuat desa ini terasa begitu terjaga dalam ketakutan?
Sekitar pukul sembilan malam, saat ia hendak mematikan lampu untuk beristirahat, telinganya menangkap sesuatu. Suara itu samar, hampir tertelan desisan angin, tapi cukup jelas untuk didengar. Seolah ada orang yang berbisik-bisik, atau mungkin suara kayu tua yang berderit, namun berasal dari arah timur tepatnya arah rumah besar yang berdiri sendirian di tepi desa, yang sudah ia lihat tadi sore. Rumah itu terlihat kosong, jendelanya gelap tanpa cahaya sedikit pun, dikelilingi semak belukar yang tinggi.
Diana mendekati jendela kamarnya, mengintip lewat celah tirai. Di balik kabut tebal itu, tiba-tiba ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang.
Samar-samar, di balik dinding rumah tua itu, muncul seberkas cahaya berwarna kekuningan. Cahaya itu tidak terang, bergerak perlahan naik turun, seolah dibawa oleh seseorang yang berjalan di dalamnya. Dan seiring dengan cahaya itu, suara bisikan tadi makin terdengar jelas, meski kata-katanya tak bisa dimengerti.
Ia teringat peringatan Bu Sari: Apapun yang kau dengar atau lihat di malam hari, tetaplah di dalam kamar.
Namun rasa ingin tahunya yang telah mengantarkannya ke berbagai tempat selama ini, kini membakar hatinya. Siapa yang ada di rumah kosong itu? Mengapa cahaya itu muncul hanya saat kabut turun? Dan apa sebenarnya rahasia yang selama ini disembunyikan oleh warga Desa Berawa?
Saat ia masih terpaku memandangi cahaya yang perlahan menghilang tertelan kabut, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang lebih mengerikan. Sebuah bayangan tinggi dan kurus melintas cepat di depan jendela kamarnya, persis di luar pagar. Ia tidak sempat melihat wajahnya, tapi ia merasa sepasang mata sedang menatapnya lewat celah kegelapan, seolah tahu bahwa ia baru saja melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihat orang asing.
Diana melangkah mundur, punggungnya menyentuh dinding, napasnya memburu. Malam pertamanya di Desa Berawa belum berakhir, tapi ia sudah sadar satu hal: penelitian sejarah yang ia bayangkan tenang dan ilmiah ini, perlahan berubah menjadi perjalanan menembus labirin misteri yang siap menyeretnya masuk lebih dalam, tanpa tahu jalan keluarnya.