Devi duduk menatap cermin di depannya. Rasanya kosong, hampa, karena Reyhan yang sekarang tidak lagi perduli dengannya. Reyhan tidak bisa di hubungi. "Kenapa Rey? Kenapa? Gue kurang apa di mata lo? Arghh.... " Devi berteriak memporak-porandakan meja rias yang sudah tertata rapih. Gadis itu duduk, bahkan ia sudah merelakan mahkotanya untuk Reyhan. Agar Reyhan tidak meninggalkannya. Tapi kenapa Reyhan meninggalkannya begitu saja? Memilih dengan perempuan yang sudah menyakitinya. Devi mengusap perutnya. Berharap janin itu segera hadir. "Kamu harus hadir, Nak. Biar Mama gak pisah sama Papa," ucap Devi. Devi menghapus air matanya. "Enggak! Gue gak boleh kalah. Gue harus nemuin Reyhan sekarang juga!" ucap Devi. Gadis itu mengambil tasnya. Lalu berjalan keluar kamar. Tujuan utamanya

