05. Montir Imut

1191 Kata
"mobilnya masih saya ganti oli Mas, mungkin Mas bisa balik lagi kesini sorean" kata Tera dengan senyuman ramahnya. "kalau gitu bisa saya minta nomernya?" tanya Sehun sembari mengeluarkan ponsel pintarnya dari saku dalam jasnya yang hanya tersampir dipundaknya. "bisa Mas" jawab Tera dan mengambil alih ponsel hitam mewah itu, kemudian mencatat nomor ponselnya yang sudah ia hapal luar kepala "kalo gitu nanti saya hubungi ya" ujar Sehun dengan senyuman tampannya yang tidak pernah luntur begitu Tera mengembalikan ponselnya dengan bonus sebuah nomor. "siapa?" suara Yuta menyela, sepertinya dia sudah selesai sarapan. "ini Yut, yang punya mobil" timpal Tera, sedangkan Yuta hanya manggut-manggut saja. Melihat kesisi lain, Yuta mendapati perempuan cantik yang mencari Tera kemarin. "lho, mbaknya bukannya yang kemarin ya?" Mengulaskan senyum Victoria menjawab "iya" "dia yang gue maksud semalem, yang nyari lo" kata Yuta memberi tahu Tera. "dia sekretaris saya, saya yang menyuruhnya untuk mengecek mobil saya kemarin" sahut Sehun Tera manggut-manggut sedangkan Yuta memicingkan matanya kearah Sehun, ada sorot curiga dimatanya "terus kenapa harus nyari-nyari Tera?" "saya belum berterima kasih padahal saya sudah ditolong, dan juga saya masih ada hutang biaya rumah sakit" terang Sehun. Yuta masih memicingkan matanya tidak suka, "kalo gitu bilang makasihnya disini aja mumpung ketemu" Dan tindakan spontan Yuta ini malah membuat suasana menjadi canggung. Sehun mulai meluruskan lagi bibirnya, menghilangkan senyuman tampannya bahkan ia juga sedikit kesal dengan Yuta, entah kenapa Sehun merasa Yuta adalah pengganggu disini. "saya akan kembali lagi nanti sore" putus Sehun setelah menetralkan kekesalannya. "hati-hati Mas" kata Tera sedikit merasa bersalah karena tingkah Yuta yang kentara sekali kalau ia tidak suka dengan kehadiran Sehun. "saya pamit" pamit Sehun dan berbalik berjalan menuju mobilnya yang terparkir dipinggir jalan. Setelah Sehun beserta sekretarisnya sudah hilang dari pandangan, Tera pun melancarkan aksinya memukuli Yuta. "lo b**o? Sama pelanggan gak boleh gitu! Gak sopan tahu!!" omel Tera. "gue cuma antisipasi, siapa tahu dia mau macem-macem sama lo, gelagatnya aneh tahu" kata Yuta tidak peduli dengan pukulan Tera, baginya pukulan Tera seperti digelitiki dengan bulu ayam. "gelagat aneh kepala lo lima, udah sana gue mau lanjut kerja!!" maki Tera dan kembali ke asalnya, yaitu kolong mobil. ... Masih segar dikepala Victoria bagaimana repotnya ia saat membantu atasannya itu menyiapkan acara romantis untuk menembak seorang model terkenal tiga minggu lalu, kata-kata manis Sehun yang tertutur lembut hampir membuat Victoria ikut luluh saat itu. Dan sekarang, apakah ia akan disuruh untuk menyiapkan hal yang sama lagi? Ayolah, bagi Victoria memberi kejutan kepada seorang model itu 10.000 kali lebih mudah daripada ia harus menyiapkan acara penembakan romantis untuk seorang montir. Lalu kiranya hadiah apa yang akan Victoria siapkan? Kalo model mungkin baju, sepatu, atau mungkin tas bermerk, kalau montir? Haruskah ia menyiapkan baut dan oli? Memikirkannya saja Victoria sudah dibuat pusing sendiri. Lihatlah Oh Sehun atasannya yang terhormat, tersenyum-senyum dengan wajah merona bak orang gila. Sedari tadi ia terus memandangi ponselnya dengan ekspresi seperti itu, dan itu sukses membuat perasaan tidak enak melingkupi Victoria, sepertinya benar dia akan mendapat banyak pekerjaan kali ini. Kalau Sehun sudah melontarkan titahnya berarti saat itu juga ia harus menghubungi model tersebut untuk mengabari kabar putus, siap-siaplah dia dimaki. "Pak Sehun kenapa?" tanya sang sopir berbisik disela kesibukan menyetirnya. "biasalah" jawab Victoria malas yang duduk tepat disamping sang sopir. "Bapak menyukai gadis itu?" tanya Victoria hati-hati. Sehun tak menoleh, kepalanya beserta matanya masih terfokus pada layar ponselnya yang menampilkan nomor ponsel milik Tera. "dia imut kan?" Victoria membelalak kaget. Apakah ia salah dengar? Imut? Siapa? Si montir tadi? Ayolah, sepertinya bosnya ini sudah kehilangan seleranya terhadap perempuan. "apa saya perlu menyiapkan sesuatu hal lagi?" tanya Victoria lagi menyingkirkan rasa mirisnya. "tidak perlu, saya akan menyiapkannya sendiri, kamu hanya perlu menghubungi model waktu itu, bilang saya sudah bosan" jawab Sehun enteng. Tidak tahu apa tugas itu yang paling mematikan. "baik Pak" patuh Victoria menyamarkan rasa kesalnya. "oh iya, apa kamu sudah mencari model untuk produk baru kita?" kini Sehun yang bertanya pada Victoria, sepertinya kesintingannya tadi sudah hilang. "belum Pak, model yang Bapak inginkan waktu itu terlibat kasus n*****a dan sampai sekarang saya belum bisa menemukan penggantinya" jawab Victoria yang juga mulai serius. "yasudah kalau begitu hubungi Chanyeol saja" putus Sehun kemudian "bukannya waktu itu Bapak sendiri yang menolak untuk menghadirkan model Chanyeol?" heran Victoria. "gapapa, saya kasihan sama dia, sudah sebulan ini dia nganggur" tukas Sehun dengan helaan nafasnya. "baik Pak, nanti saya akan menghububginya" ... Jam 4 sore Victoria sudah sendirian dimeja kerjanya, bosnya yang terhormat itu sudah kembali ke bengkel tadi sendiri tanpa diantar siapapun, beliau menolak diantar sopir dan lebih memilih menaiki taksi. Victoria tahu betul itu hanyalah akal-akalan Sehun agar nanti gadis montir tadi mau menyetirinya pulanh mengingat kondisi tangannya yang masih patah itu, Sehun mudah sekali ditebak. "mana Sehun?" pertanyaan dari seseorang yang tiba-tiba itu membuat lamunan Victoria buyar dan kembali ke kesadarannya. "Tuan Chanyeol?" bingung Victoria, bagaimana bisa orang ini ada disini. "panggil Chanyeol aja" katanya kemudian mengerling genit kearah Victoria. Satu spesies dengan Sehun ternyata. "Pak Sehun sedang tidak ada diruangannya, kalau ada yang ingin disampaikan bisa lewat saya, nanti saya akan menyampaikannya pada Pak Sehun" Terang Victoria mengabaikan kerlingan menjijikkan Chanyeol tadi. "saya kesini cuma mau menandatangani kontrak, tawaran yang diajukan tadi siang" ucap Chanyeol. "maaf Tuan, kontraknya belum kami siapkan, besok siang mungkin kontraknya sudah siap untuk ditanda tangani" jelas Victoria sedikit kelabakan, biasanya para model akan memikirkan selama berhari-hari jika mendapat tawaran kerja, tapi ini, lihatlah manusia jangkung ini dalam hitungan jam dia sudah datang kesini untuk tanda tangan kontrak. Oh iya kata Sehun dia sudah menganggur selama sebulan. "ngomong-ngomong Sehun kemana?" tanya Chanyeol penasaran. "beliau sedang kebengkel untuk mengambil mobilnya" jawab Victoria seadanya. "apa dia udah ketemu sama cewek yang nolong dia?" tanya Chanyeol lagi menyelidik. "maksutnya montir ini?" balik tanya Victoria dan menunjukkan profil tentang Lentera yang sudah ia siapkan untuk Sehun. "wahh... Dua hari ini dia kaya orang gila gara-gara nyari cewek ini" celetuk Chanyeol yang dibenarkan oleh Victoria melalui anggukan hebohnya. "Pak Sehun bahkan bilang kalau dia imut, padahal wajahnya cemong penuh oli" setuju Victoria. "oli? Kenapa cewek main oli?" bingung Chanyeol "dia montir" jawab Victoria malas, beberapa detik lalu padahal ia sudah menyebutkan pekerjaan wanita itu. "iyakah? Kayanya dia udah netepin targetnya" sahut Chanyeol. "tadi juga beliau sudah menyuruh saya untuk menghubungi model yang beliau kencani untuk mengabarkan kabar putus. Telinga saya sampai panas karena dimaki-maki" "wahhh... Makin unik aja dia kalo nyari cewek, dari model ke montir" kekeh Chanyeol menertawakan selera Sehun yang makin anjlok. "makanya itu, saya juga tidak habis pikir dengan Pak Sehun" setuju Victoria lagi. "terus kamu sendiri gimana? Mau kencan sama saya?" goda Chanyeol dengan pesona tampannya. Victoria yang digoda hanya bergidik ngeri melihatnya. Chanyeol memang tampan, sangat tampan malah tapi ia sedikit jijik dengan sifat genitnya. "gimana? Mau kan?" goda Chanyeol lagi yang semakin memepetkan dirinya pada Victoria. "maaf saya tidak tertarik dengan laki-laki yang lebih muda" tolak Victoria halus, bagaimanapun Chanyeol adalah calon kliennya sekaligus merangkap sebagai teman atasannya kalau dia melakukan kesalahan tidak ada yang tahu dengan masa depannya nanti. "sayang sekali kamu melewatkan kesempatan emas" kata Chanyeol dengan narsisnya kemudian melenggang pergi, sedangkan Victoria dia tengah berusaha mati-matian menahan gejolak diperutnya yang mengakibatkan mual itu karena omongan buaya Chanyeol.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN