06. Heart Beating

1390 Kata
Seperti biasa jalanan disore hari pastilah macet, bahkan saking macetnya traffic light yang sudah menyala hijau sekitar 30 detik yang lalu tidak berimbas apa-apa bagi langkah ban mobil Sehun, mungkin hanya ada kemajuan sekitar 2 meteran. "maaf ya, saya malah ngerepotin" ucap Sehun merasa bersalah pada gadis yang tengah memanuver mobilnya. "nggak papa kok Mas" jawab sang gadis dengan senyuman lebar yang membuat jantung Sehun berdenyut gembira. "beneran gak repot kan?" tanya Sehun lagi. Yah, pertanyaan yang sama sudah ia lontarkan sekitar 33 menit yang lalu. "nggak kok" jawab sang gadis lagi. "udah makan?" tanya Sehun lagi seakan tak ingin percakapan mereka berakhir. "tadi siang sih udah" timpal Tera dengan cengiran kudanya yang malah terlihat menggemaskan dari sudut pandang Sehun. "kalau gitu mau makan malam bareng? Udah mau malem juga kan" tawar Sehun yang sudah berharap banyak. "gak usah Mas, malah ngerepotin nanti" tolak Tera, tapi Sehun tak menyerah. "apanya yang ngerepotin, saya malah lebih ngerepotin. Jadi, mau ya?" keukeuh Sehun. "beneran gak usah Mas" Tera pun juga keukeuh menolak. "ayolah saya kan juga gak enak hutang budi ter---" 'kruuuuuk' Belum selesai Sehun membujuk Tera tapi perut sang wanita sudah mengemukakan pendapatnya lebih dulu, membuat sang empu tengsin bukan main, lihat saja dia bahkan sudah membuang mukanya yang memerah ke kanan untuk menghindari tatapan Sehun. "150 meter lagi ada perempatan belok kanan, disana ada restoran langganan saya" kata Sehun setelah terkekeh gemas. Biasanya ia akan jijik mendengar suara nyaring perut seseorang yang kelaparan tapi kali ini ia malah gemas sendiri. "oke" jawab sang wanita dengan suara lirihnya menahan malu. Jam 18.00, Senja sudah mulai termakan oleh petang tapi lalu lalang dijalanan masih saja padat. Dibagian sudut restoran bergaya vintage itu Sehun sudah seperti orang sinting, bagaimana tidak, disana ia hanya tersenyum lebar dengan pipi merona, menatap lamat-lamat lawan jenis yang ada dihadapannya, bahkan makanan yang tersaji 10 menit lalu tak ia sentuh sama sekali. "Mas nggak makan?" pertanyaan Tera cukup mampu membuyarkan lamunan Sehun. "eh-- apa?" bingung Sehun, maklumlah dari tadi pikirannya kemana-mana. "Mas nggak makan?" ulang Tera "makan kok" jawab Sehun kemudian mulai menyendokkan nasi goreng yang ia pesan. "disini mahal gak Mas?" tanya Tera sembari membersihkan nasi-nasi yang tersisa kemudian menyuapkannya pada mulutnya yang penuh. Menggantungkan suapannya, Sehun lebih tertarik untuk menjawab pertanyaan gadis yang ada didepannya ini. "nggak kok, emang kenapa?" Sebelum menjawab Tera menoleh ke kanan dan ke kiri, setelah dikira aman ia mulai mencondongkan badannya pada Sehun kemudian berbisik "masakan disini enak Mas, tapi porsinya sedikit" Sehun hanya bisa terkekeh mendengar bisikan gadis berkemeja flanel didepannya ini, "mau nambah?" tawar Sehun kemudian. "nggak, nggak usah kok Mas, saya udah kenyang" tolak Tera sembari menepuk-nepuk perut ratanya. "nggak papa kalau mau nambah" tawar Sehun lagi Tera sedikit berpikir, sampai akhirnya ia mencondongkan dirinya pada Sehun lagi secara tiba-tiba yang tentu saja sukses membuat jantung Sehun 5 kali lipat bekerja lebih keras. "beneran gak papa?" tanya Tera memastikan dengan tatapan lugunya. "nggak papa, mau saya pesenin lagi?" tawar Sehun dengan kekehan gemasnya. "yaudah deh kalau nggak papa, kata Pak RW nggak baik nolak rejeki" kata Tera dengan polosnya yang membuat Sehun lagi-lagi terkekeh gemas, kenapa pula harus membawa-bawa Pak RW dipercakapan mereka. .... Jam menunjukkan pukul 19.30, akhirnya Sehun dan Tera sampai disebuah gedung apartemen tempat tinggal Sehun tanpa hambatan macet dan ditambah perut kenyang pula, tapi dari sudut hati Sehun yang paling dalam ada perasaan hampa yang kemudian menyeruak melingkupinya. Apakah bisa dibilang wajar kalau ia tidak ingin ditinggal pergi oleh gadis disampingnya ini? "yakin sampai sini aja Mas? Tanggung lho biar saya parkirin sekalian mobilnya dibasement" tanya Tera memastikan ketika Sehun tiba-tiba menyuruhnya berhenti disamping pos satpam. "gapapa, nanti saya bisa minta tolong ke pak satpamnya buat markirin mobil saya. Saya juga udah pesenin taksi buat kamu" jawab Sehun dengan senyuman tampannya. "kenapa repot-repot sih Mas, saya bisa pesen ojek padahal" "mana tega saya biarin perempuan cantik kaya kamu pulang naik ojek" kata Sehun yang mengundang semburat merah di kedua pipi gembil Tera. "kalau begitu saya pulang dulu ya Mas" pamit Tera kemudian keluar dari mobil yang juga diikuti Sehun. "hati-hati pulang nya" pesan Sehun sembari membukakan pintu untuk Tera. "kalau itu sih tergantung pak sopirnya nyetirnya gimana" gurau Tera yang membuat Sehun tidak ada pilihan lagi selain tertawa menanggapi banyolan gadis ayu didepannya. "saya masih boleh kan hubungin kamu? Hutang budi saya masih banyak sama kamu" kata Sehun sedikit memelas. "boleh kok Mas, sering-sering juga nggak papa biar hape saya gak sepi kaya kuburan" balas Tera yang membuat Sehun serasa melayang diawan. "kalau gitu sampai jumpa kapan-kapan" tutup Sehun, sepertinya dia sudah cukup puas dengan percobaan penjajakannya hari ini. "saya pamit pulang dulu ya Mas" pamit Tera sembari menutup kaca mobil seiring menjauhnya taksi. Disini Sehun hanya bisa melambai-lambaikan tangan kanannya penuh semangat, padahal taksi yang ditumpangi Tera sudah jauh dipelupuk mata tapi Sehun masih antusias saja, jangan lupa dengan senyuman idiotnya. "kenapa lo?" Terlonjak, Sehun kaget bukan main saat tiba-tiba ada suara yang membisik ditelinga kanannya. "sialan lo!!" makinya saat mengetahui siapa gerangan yang mengagetkannya. "ditanya kenapa malah maki-maki orang-orang" dengus Chanyeol kesal-- catatan dia yang mengagetkan Sehun. "kebetulan lo disini, ayo parkirin mobil gue" titah Sehun kemudian melenggang pergi memasuki kembali mobilnya "nyuruh aja bisanya" dumal Chanyeol, tapi tak urung ia lakukan juga perintah Sehun. "kalau gue gak salah lihat tadi itu cewek kan?" tanya Chanyeol membuntuti Sehun yang mulai memasuki lift. "penglihatan lo bagus berarti" jawab Sehun. "itu cewek yang bayarin biaya rumah sakit lo?" tanya Chanyeol lagi. Hening. Tidak ada jawaban, Chanyeol hanya mendapati Sehun yang tengah menunduk sembari tersenyum lebar. "lo suka sama cewek itu" lanjut Chanyeol kembali mengekori Sehun yang mulai memasuki unit apartemennya. "lo ada urusan apa kesini?" balik tanya Sehun tak mengindahkan sama sekali pertanyaan Chanyeol. "wawancara lo lah" jawab Chanyeol mantap yang kemudian mendapat respon sebuah kernyitan dahi oleh Sehun. "wawancara lo tentang cewek tadi, gimana? Kata sekretaris lo, lo bakalan usaha sendiri kali ini" goda Chanyeol yang sudah menaik turunkan alisnya membuat Sehun jijik setengah mati. "menurut lo dia cantik nggak?" tanya Sehun kemudian meminta pendapat dari Chanyeol. "cantik itu relatif, tinggal siapa yang mandang. Kalo menurut gue dan menurut orang-orang lain dibandingkan dengan mantan-mantan lo dulu, cewek yang nolong lo ini bisa dikategorikan jelek" jelas Chanyeol. Sehun memicing tidak suka. Tidak suka dengan pendapat Chanyeol yang tidak sejalan dengan pemikirannya. "santai aja kali, ati-ati katarak lo ngeliatin ketampanan gue sampe segitunya" narsis Chanyeol. "jadi maksud lo dia jelek?" pertegas Sehun. "Iya! kalo dibandingkan mantan-mantan lo yang dulu" jawab Chanyeol. "tapi menurut gue dia yang paling cantik diantara mantan-mantan gue" kata Sehun mengemukakan pendapatnya. "lo gila?!! Wahhhh selera lo kenapa jadi terjun payung gini" kaget Chanyeol tak percaya mendengar perkataan teman putihnya itu. "sejelek itukah dia dimata lo?!" geram Sehun "nggak jelek-jelek amat sih, dia manis terus imut juga, tapi berdasarkan kriteria-kriteria cewek yang pernah lo pacarin dia jauh banget dari tipe ideal lo" terang Chanyeol, kini Sehun yang mulai bingung dengan dirinya sendiri. Jika dipikir-pikir memang benar apa yang Chanyeol katakan, selama ini wanita-wanita yang pernah menjalin hubungan dengannya pasti memiliki tubuh semampai dengan pinggang ramping dan tentunya cantik bukan main, tapi kali ini ia juga tidak habis pikir, kenapa ia bisa menyukai perempuan dengan tinggi badan yang tidak mencapai dagunya itu, bahkan dengan wajah yang cemong dengan oli bukannya terpoles indah dengan make up. Melihat temannya yang tengah merenung itu Chanyeol jadi sedikit kasihan, sepertinya ini adalah kali kedua bagi Sehun merasakan jatuh cinta yang sebenarnya, setelah terluka cukup parah karena Krystal sekitar 11 tahun yang lalu. "kayanya lo beneran suka sama cewek itu, siapa namanya? Len-- Tera?" kata Chanyeol sembari berusaha mengingat nama gadis yang sepertinya Sehun suka itu. Bukannya menjawab Sehun malah terkekeh dengan senyuman getirnya kemudian berkata, "awalnya gue risih waktu dia nolongin gue, mulutnya yang cerewet bikin kuping gue panas sendiri... " Ada sedikit jeda sebelum Sehun melanjutkan cerita dadakannya. "tapi, waktu gue lihat dia untuk kedua kalinya di rumah sakit tiba-tiba gue seneng tanpa alasan dan saat gue nyusul dia dibengkel... Jantung gue berdebar bukan main" Mendengar itu Chanyeol tidak bisa bereaksi, jujur ia bingung harus bagaimana menanggapi cerita Sehun. "kayanya lo beneran suka sama dia, sebagai temen yang baik gue dukung lo 100% buat deketin dia, siapa tahu lo bisa mulai percaya sama perempuan" kata Chanyeol sembari menepuk-nepuk pundak kiri Sehun. Sehun kembali menunduk, dengan lirih ia berkata "percaya sama perempuan.... Kayanya gue gak bisa"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN