Sepuluh hari berlalu sejak perbincangannya dengan Chanyeol waktu itu, dan selama sepuluh hari terakhir ini juga Sehun merasa bimbang karena perkataan Chanyeol.
Jika perkataan Chanyeol memang benar bahwa ia tengah jatuh cinta dalam artian yang sebenarnya dengan Tera maka dengan tegas otak cerdas Sehun menentangnya dan menyuruhnya segera melupakan niatannya untuk mendekati Tera lebih lanjut lagi. Ego seorang Oh Sehun itu setinggi langit, maka dari itu ia tidak mau menjadi b***k cinta seperti Ayahnya jika memang ia benar-benar menaruh rasa pada Tera.
Tapi, jika Sehun menuruti suara hati kecilnya, ia sangat ingin berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan Tera. Jujur saja, disudut ruang hati Sehun yang paling dalam, yang sudah lama kosong dan terasa hampa itu Sehun kembali merasakan kehidupan. Hatinya yang sudah lama beku itu kembali menghangat seiring dengan seringnya ia melihat senyuman ceria milik Tera, maka dari itu Sehun sangat tidak rela jika ia harus menyerah untuk sekarang.
Ah, entahlah. Sehun benar-benar bimbang sekarang, kepalanya bahkan hampir pecah rasanya saking kalutnya.
Jam menunjukkan pukul 12 siang, dan seperti biasa Sehun akan memarkir mobilnya dibawah pohon mangga hanya untuk mengawasi Tera dari kejauhan yang tengah menikmati makan siangnya bersama para rekannya dibengkel. Mungkin sampai kemarin Sehun masih ditemani sopirnya jadi ia hanya akan disana sekitar 10 menit saja, tapi karena sekarang gipsnya sudah dilepas sejak semalam jadi Sehun bisa lebih leluasa memerhatikan Tera dari sini tanpa perlu risih dengan kehadiran sopirnya.
Dari dalam sini Sehun mulai menajamkan matanya, berusaha mencari keberadaan Tera ditengah-tengah para lelaki dibengkel itu, tapi entah sudah berapa kali Sehun menghitung tetap saja ada yang kurang disana. Sehun sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan Tera, biasanya gadis itu akan duduk disamping laki-laki keturunan Jepang bernama Yuta itu, tapi kali ini dikanan kiri Yuta hanyalah para laki-laki lusuh yang dengan lahap memakan makan siang mereka.
Ada kerutan yang cukup kentara dikening Sehun, berentet-rentet pertanyaan muncul dikepalanya, seperti dimana kah Tera berada sekarang? Kenapa gadis itu tidak dibengkel? Apa dia sakit? Yah, Sehun sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.
Tok.. Tok.. Tok..
Ditengah-tengah kekalutannya tiba-tiba Sehun mendengar suara jendela mobilnya diketuk, dan betapa kagetnya ia saat tahu kalau si pelaku adalah gadis yang ia khawatirkan sejak tadi.
"mas ngapain disini?" tanya Tera setelah Sehun menurunkan jendela mobilnya.
"gak ngapa-ngapain kok" jawab Sehun kikuk, dia tidak pernah berpikir kalau akan terpergok seperti ini.
"kalau mau mampir masuk aja nggak papa, kenapa malah diem disini" kata Tera yang semakin membuat Sehun gelagapan, entah kenapa ia takut kalau Yuta dan yang lainnya juga ikut tahu tentang keberadaannya sekarang ini.
"saya cuma mampir neduh aja kok" jawab Sehun asal dengan raut canggungnya.
"Ooohhh... Kalau gitu mas udah makan siang?"
Sehun hanya menjawab dengan gelengan.
"mau ikut makan juga, katanya Yuta hari ini Budenya bikin pecel lele" tawar Tera yang sudah pasti langsung Sehun tolak.
"nggak usah, saya makan siang dikantor aja"
"yah, padahal saya mau nraktir Masnya" sesal Tera dengan bibir memberengut lucu.
Sehun terkekeh melihatnya, bagaimana bisa dia menyebutnya 'traktir' kalau dia saja numpang makan disana, gadis aneh memang.
"kalau gitu traktir saya ditempat lain aja, gimana?" kini Sehun yang memberikan tawaran.
"boleh, tapi jangan protes ya Mas soalnya ini dirumah makan biasa bukan kaya restoran yang Mas ajak waktu itu" jawab Tera antusias.
"iya, terserah kamu, ayo masuk"
...
18 menit kemudian setelah mengikuti berbagai arahan yang Tera tunjukkan akhirnya Sehun bisa memarkirkan mobilnya dengan (tidak) nyaman dipinggir jalan. Ah, cuaca sedang panas-panasnya saat ini, bagaimana kalau ban mobilnya kempes nanti.
"nggak nyesel kan?" tanya Tera begitu turun dari mobil.
Mengulaskan senyuman terpaksanya Sehun kemudian menjawab, "nggak kok, ayo masuk diluar panas"
Sehun pikir saat ia masuk, ia akan disambut dengan dinginnya air conditioner, tapi nyatanya didalam sini tak kalah panasnya ditambah lagi bau keringat yang menguar dari setiap manusia disini malah semakin memperburuk keadaan. Lupakan air conditioner, disini hanya ada kipas tua yang terlihat usang disetiap sudutnya, yang sama sekali tidak berefek apa-apa bagi ruangan sumpek ini.
"Mas duduk aja disini, biar saya yang ambil makanannya" kata Tera setelah menarik Sehun untuk duduk disalah satu meja yang kosong.
Ini merupakan pengalaman baru bagi Sehun, mengunjungi tempat makan yang sama sekali tidak pernah Sehun bayangkan eksistensinya, bahkan saat memasuki bangunan pengap ini Sehun sempat berpikir, apa yang menarik dari tempat ini sampai-sampai pelanggannya membludak seperti ini.
Suara tangisan bayi, tawa para bapak-bapak dan juga suara kecapan mulut para pelanggan bercampur aduk menjadi satu menimbulkan polusi suara yang begitu bising, membuat Sehun gerah sendiri dan sangat menyesal menginjakkan kaki disini. Yah, Sehun menetapkan kalau ini adalah pertama dan terakhir kalinya ia akan menginjakkan kaki disini.
10 menit berlalu dan akhirnya Tera kembali juga dengan dua piring makanan ditangannya, jujur Sehun merasa sedikit lega melihat kehadiran Tera ditempat asing ini, padahal mereka hanya terpisah tidak lebih dari 10 menit dengan jarak kurang dari 5meter.
"ini mas makanannya" kata Tera dengan senyuman cerianya yang mampu melenyapkan rasa jengkel Sehun akan tempat ini.
"Lho aku baru sadar kalo Masnya udah lepas gips... Selamat atas sembuhnya tangannya ya Mas" ucap Tera dengan ekspresi yang lucu.
"makasih. Ayo makan terus pulang, kita masih harus kerja lagi kan" timpal Sehun dan mulai menyuapkan nasi pecel yang ada dihadapnnya.
"nggak papa kan Mas nasi pecel aja? soalnya lauk yang lain udah abis" tanya Tera hati-hati.
"nggak papa kok, ayo buruan makan"
Lentera bukanlah gadis bodoh, ia tahu betul kalau Sehun sangat tidak nyaman ditempat ini sejak awal mereka memarkirkan mobil tadi, tapi entah kenapa Tera hanya ingin membawa Sehun kesini, salah satu tempat yang berarti bagi Tera.
"dulu waktu saya kecil saya sering kesini sama Ibu saya bahkan kadang saya juga ikutan bantuin pemiliknya kalau kuwalahan" cetus Tera tiba-tiba yang sukses membuat Sehun memusatkan atensinya padanya.
"kamu sering ketempat ini?" tanya Sehun dengan kernyitan alis yang begitu jelas.
Mengabaikan raut tidak menyenangkan Sehun, Tera lebih memilih menganggukkan kepalanya antusias dengan senyuman cerahnya seperti biasa, "tempat makan ini bukan murah lagi tapi bisa dibilang gratis"
Kemudian Sehun semakin mengernyitkan alisnya kebingungan mendengar tuturan Tera.
"Mas lihat tulisan ditembok sana" sambung Tera menunjuk pada spanduk besar yang menempel apik disepanjang tembok bagian belakang, kemudian Sehun mulai membacanya perlahan "makan sepuasnya... Bayar semampunya"
"tempat ini ramai bukan karena cita rasa dari makanannya atau sesuatu hal yang biasanya ditemukan dirumah makan lain atau restoran-restoran diluar sana, tapi karena banyak orang yang kurang mampu mengisi perutnya disini..." terang Tera
"coba Mas lihat bapak-bapak dan anaknya yang dideket pintu masuk sana..." Sehun lalu menuruti arah tunjuk Tera, disana ada seorang bapak-bapak dengan pakaian lusuhnya yang menurut Sehun sangat tidak layak untuk dikenakan lagi sementara dihadapan bapak-bapak itu ada seorang anak kecil laki-laki menggunakan seragam merah putihnya yang sudah kekuningan. Sehun sangat miris melihatnya.
"sejauh yang saya tahu, Bapak-bapak itu seorang pemulung dan istrinya kabur dari rumah sejak anaknya berusia lima tahun, mereka adalah pelanggan tetap disini" jelas Tera, sedangkan Sehun hanya bisa termenung mendengarkan.
"kayanya saya kebanyakan ngomong, maaf ya Mas. Selamat makan"
...
Hening. Setelah menandaskan makanan mereka benar-benar tidak mengucapkan kata sepatahpun, saling terdiam dan merenungkan diri masing-masing. Sampai akhirnya Tera mulai membuka suara setelah 15 menit sepi...
"maaf ya Mas, karena saya udah ngajak Mas ketempat itu, harusnya saya langsung tahu kalau Mas gabakalan mung--"
"gak kok, saya menikmati. Memang awalnya saya ngerasa risih dan gak nyaman disana, tapi setelah denger cerita kamu saya juga sadar, kalau saya juga harus lebih peduli dengan sekitar" sela Sehun dengan nada sarat akan rasa sesal yang mendalam.
"lain kali tolong ajak saya kesana lagi" imbuh Sehun yang pastinya membuat Tera menganga tidak percaya.
"oke, bisa diatur" dan akhirnya Tera bisa kembali menyunggingkan senyum cantiknya.
"oh iya, mulai sekarang bisa kita pakai bahasa yang lebih nyaman lagi? Rasanya kurang nyaman aja kalau pake saya-kamu, terlalu kaku" tukas Sehun dengan senyuman kikuknya.
"Masnya umur berapa?" tanya Tera membuat Sehun bingung.
"28. Emang kenapa?" jawab Sehun bingung
"saya 25, jadi tetep manggil Mas" kata Tera kemudian.
"panggil Sehun aja, kurang nyaman juga kalau dipanggil Mas"
"tapi kan nggak sopan"
"gapapa, gue lebih nyaman kaya gitu"
"o-oke" gagap Tera sedikit malu.
"kalau gitu gue balik kantor dulu, sampai ketemu lagi" pamit Sehun kemudian dengan bahasa yang lebih nyaman secara tiba-tiba.
"oke, daa..." balas Tera lalu turun dari mobil, menyaksikan mobil Sehun yang semakin lama semakin hilang dari pandang.
Dibawah pohon mangga ini Tera kembali termenung, kemudian tangannya terulur meraba d**a bagian kirinya yang bertalu begitu keras. Sehun adalah laki-laki pertama yang membuat jantung Tera berdetak begitu cepat sampai membuat sesak, dan gadis itu sudah memutuskan bahwa ia akan menjatuhkan hatinya sedalam mungkin pada Oh Sehun.