Pagi yang kelam ditanggal merah, pasalnya hujan sudah membasahi bumi sejak pukul 4 subuh tadi, tapi sampai sekarang sepertinya sang langit masih betah bersedu-sedan dengan mengeluarkan semua air matanya.
Kalau sesuai jadwal, harusnya sang surya sudah mulai meninggi saat ini tapi sepertinya langit kelabu itu tak mau mengalah, mengakibatkan hari yang harusnya indah ini malah menjadi suram dan cocok sekali untuk gundah gulana. Dan Tera adalah salah satu dari sekian banyaknya manusia yang mengeluh karena hujan yang tak kunjung reda itu.
Hujan memang begitu deras diluar sana, tapi itu tak melunturkan semangat Tera untuk mengunjungi sang Ibu yang masih betah berbaring dibrankar rumah sakit, kemeja putih kotak-kotaknya dan celana jinsnya kuyup karena ia nekat menerjang hujan deras bercampur angin lebat walaupun ia memakai payung sekalipun.
Rambutnya yang lepek beserta gigilan dari bibirnya yang membiru sukses membuat semua orang yang ada dirumah sakit menatapnya nanar, gadis muda yang malang.
"kenapa gak nunggu hujannya reda dulu, jadi basah semua kan kamu" tegur seorang suster cantik yang menyodorkan sebuah handuk putih bersih pada Tera.
"udah tiga jam aku nunggu hujannya reda tapi gak reda-reda" jawab Tera setelah menerima handuk tersebut.
"keringin dulu badan kamu baru masuk nemuin Ibu kamu" kata sang Suster sembari membantu Tera mengeringkan rambutnya.
"keadaannya Ibu gimana?" tanya Tera kemudian.
"masih belum ada kemajuan, kayanya kamu kurang rajin doanya" jawab sang Suster dengan sedikit gurauan.
Sedangkan yang dilontari gurauan itu malah termenung untuk sesaat, lalu akhirnya berucap "makasih ya Sus udah rawat Ibu saya"
"ngapain kamu bilang makasih itu kan memang pekerjaan saya.. Saya tinggal dulu ya, jangan lupa nanti beli paracetamol buat jaga-jaga kalau nanti kamu demam" pamit sang Suster pada akhirnya dan berjalan meninggalkan Tera menuju ruang rawat yang lainnya.
Dengan langkah yang diseret karena masih menggigil Tera berjalan mendekati brankar milik Ibunya kemudian mendudukkan diri pada kursi biru yang tersedia disamping brankar tersebut. Dilingkislah lengan kemeja putih kotak-kotaknya yang basah kemudian tangannya yang keriput karena kedinginan itu menggenggam erat tangan lemah Ibunya.
"Bu..." panggil Tera lirih
Merasa tidak ada sahutan, akhirnya Tera lebih memilih melanjutkan perkataannya.
"kayanya Tera jatuh cinta"
...
Pemeriksaan telah usai, dibandingkan tiga minggu yang lalu bisa dibilang luka-luka disekujur tubuh Kai tidaklah parah, hanya sekedar luka lebam bekas pukulan dari tongkat golf yang Ayahnya hadiahkan padanya dua jam yang lalu.
Bagi Kai ini bukanlah apa-apa, bahkan dia sudah lebih dari empat kali menjalani operasi karena tulang rusuknya yang sering kali patah akibat ulah bengis Ayahnya. Alasannya apalagi kalau bukan karena kegagalannya memimpin ST. Corp, Ayahnya selalu murka jika mendapati ST. Corp berada jauh dibawah NeoZ Group.
"sepertinya aku hanya perlu memberikan salep saja untukmu, tidak ada luka serius lainnya selain luka lebam" kata sang Dokter tua tersebut.
"jangan bilang ke Dio Om kalo Kai dipukul lagi" pesan Kai setelah mengenakan kembali kemeja birunya.
"kenapa? Kamu malu?" goda sang Dokter.
"bukannya gitu, tapi dia pasti bakalan marah lagi, panas kuping Kai" adu Kai dengan bibir manyunnya.
"kamu tenang aja, Om gak bakalan ngasih tahu Dio tentang ini, lagian anak itu juga jarang pulang kerumah" tukas sang Dokter kemudian.
"yaudah Om, kalo gitu saya permisi dulu ya" pamit Kai dengan senyuman lembutnya.
Disela langkahnya Kai mulai merogoh kantong celananya, mengambil ponsel pintarnya dan mencoba menghubungi sang kekasih untuk kesekian kalinya tapi sayangnya nihil, ini sudah hari ke-5 sejak Krystal tidak dapat dihubungi tanpa alasan.
"hujannya belum reda" monolog Kai yang tidak berani menerobos air dari langit itu.
Tiba-tiba ada suara yang lumayan mengagetkan Kai, yang bersumber dari wanita disebelahnya. Awalnya laki-laki berperawakan tegap ini merasa lucu melihat polah gadis disebelahnya yang terlihat kesusahan membuka payung birunya itu, tapi begitu mata Kai mendapati tatapan nakal dari laki-laki gendut nan botak yang ditujukan pada gadis disebelahnya itu, Kai merasa geram seketika.
Jika dilihat lebih teliti lagi penampilan gadis disebelahnya ini bisa dibilang sangat kacau. Kemeja putih yang dikenakannya basah kuyup yang mengakibatkan pakaian dalam gadis itu tercetak jelas didepan mata.
Merasa jengah dengan laki-laki tambun tak ingat usia itu akhirnya Kai pun bertindak, "apa yang anda lihat!!!!" gertak Kai dengan nada mengintimidasi.
"maksud anda?" balas laki-laki buncit tersebut.
"kenapa anda melihat pacar saya dengan tatapan genit seperti itu?!!! Dengan kepala botak dan perut buncit itu tidak akan ada wanita yang menyukai anda, jadi lebih baik perbaiki tabiat anda!!!" bentak Kai lagi yang tentunya sudah menjadi pusat perhatian sejak ia bertindak tadi.
Merasa tak terima laki-laki buncit tadi hendak membalas perkataan Kai, tapi Kai sudah lebih dulu merangkul gadis disampingnya itu dan menggiringnya menuju mobilnya dengan naungan payung biru yang sudah ia ambil alih. Tak hanya disitu saja, Kai juga mulai membukakan pintu mobilnya menyuruh gadis itu masuk tanpa suara. Dan suasana semakin terasa canggung begitu mereka berdua berada didalam mobil.
"maaf untuk yang tadi" ucap Kai pada akhirnya.
"nggak, harusnya saya yang terima kasih karena sudah ngelindungin saya dari orang tua tadi, dari awal saya emang udah curiga dia ngikutin saya terus"
"ini, lebih baik kamu pakai ini" kata Kai setelah meraih jaket levisnya dijok belakang.
"oh i-iya, makasih" ucap Tera canggung begitu menyadari keadaannya.
Setelahnya Kai mulai memanuver mobilnya keluar dari daerah rumah sakit, tidak ada hal lain yang bisa mereka perbincangkan lagi dan suasana menjadi hening seketika dengan kecanggungan yang luar biasa.
"saya antar kamu, bisa tulis alamat kamu di GPS?" ucap Kai setelah kebingungan hendak membawa mobilnya kemana.
"gak usah Mas" tolak Tera yang merasa tidak enak.
"gapapa, sebagai ucapan terima kasih saya karena tumpangan payung kamu" balas Kai dengan senyuman lembutnya.
"tapi Mas kan tadi udah nolongin saya juga" lirih Tera
"nanggung kan kalo saya nurunin kamu dijalanan kaya gini, diliar juga masih hujan" kata Kai dan mau tak mau setelah meyakinkan diri Tera pun mulai menuliskan alamatnya pada GPS tersebut.
"nama saya Tera, nama Mas siapa?" tanya Tera pada akhirnya guna memberantas rasa penasarannya.
"nama saya Kai" jawab Kai
"Mas kerumah sakit tadi ngapain?" tanya Tera lagi yang sepertinya tidak mau tenggelam dalam suasana hening.
"cuma cek kesehatan, tahu sendiri kan kalau akhir-akhir ini sering hujan jadi saya gak mau sakit" bohong Kai.
"kamu sendiri ngapain?" imbuh Kai
"saya jenguk Ibu saya" jawab Tera seadanya.
"emang Ibu kamu sakit apa?" tanya Kai lagi yang murni basa-basi.
"ibu saya koma" jawab Tera lagi
Kai sempat terhenyak disela acara mengemudinya, kini dia benar-benar bingung hendak bereaksi seperti apa.
"maaf, saya gak maksut--"
"gapapa kok Mas, gak usah merasa gak enak toh Ibu saya kan bukannya meninggal, minta doanya aja semoga Ibu saya bisa siuman dalam waktu dekat" sela Tera dengan senyuman getirnya.
"saya pasti doain kok" balas Kai tulus.
Tak terasa waktu berlalu sembari mereka bercerita selama perjalanan, dan akhirnya mereka sampai juga pada tempat tinggal Tera yang tanahnya sudah mulai mengering, sepertinya hujan sudah reda lumayan lama di sekitar sini.
"jaketnya gimana Mas?" bingung Tera saat ini
"hubungin saya kalau kamu mau balikin jaketnya" kata Kai sembari menyodorkan kartu namanya.
"sekali lagi makasih ya Mas" ucap Tera untuk terakhir kalinya yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Kai.
Menjauh, mobil Kai semakin terlihat kecil dan saat itu juga Tera ingat bahwa payungnya masih ada didalam mobil Kai.
"habis dari mana?" sebuah suara yang membuat Tera terjingkat.
"loh Sehun... Ngapain disini?" tanya Tera yang tentu saja kaget dengan keberadaan Sehun.
"niatnya mau ngajak lo jalan tapi lo gak dirumah, kemana?"
"gue habis kerumah sakit, kenapa gak bilang kalo mau kesini?" balas Tera
"lo sakit?" khawatir Sehun
"enggak, cuma jenguk Ibu, lo sendiri kenapa nggak bilang kalo mau kesini?"
"gue udah Chat lo, tapi gak lo read, bahkan gue udah nelfon tapi nggak lo angkat" terang Sehun
"oh iya, hape gue ketinggalan dikamar, maaf" sesal Tera.
"yaudahlah sana masuk ganti baju nanti lo sakit" kata Sehun
"tapi... Tadi siapa?" imbuh Sehun yang hampir saja lupa dengan kehadiran orang yang mengantar Tera tadi.
"ohh.. Cuma orang baik yang gue temuin di rumah sakit tadi" jawab Tera sekenanya.
"jaket yang lo pake itu punya orang yang tadi?" tanya Sehun lagi.
"iya, emang kenapa?"
"kayanya gue kenal jaket itu" gumam Sehun
"pabrik gak bikin satu kali, gausah dipikirin" kekeh Tera
"hey... Itu jaket limited edition tahu"