Pagi ini pukul 10 lewat menjadi pagi yang paling mendebarkan bagi Victoria. Bagaimana tidak, pasalnya yang datang bukanlah sekedar kakek tua berusia uzur, melainkan seorang Presiden Direktur yang memegang kendali penuh untuk dua perusahaan raksasa yaitu NeoZ Group dan ST. Corp.
Mungkin Victoria bisa bernafas tenang jika atasannya yang bernama Oh Sehun itu ada disini, tapi sayangnya bosnya sudah tidak ada kabar sejak 3 hari yang lalu. Telfon darinya tidak pernah diangkat dan saat ia berkunjung ke tempat tinggal bosnya itu juga tidak ada sahutan sama sekali walaupun ia sudah menunggu lebih dari tiga jam.
"bagaimana? Apa Sehun sudah bisa dihubungi?" tanya sang Presdir dengan nada tegasnya.
"belum Pak" jawab Victoria dengan suara bergetar.
"ini bukan pertama kalinya 'kan dia bolos kerja sepert ini?" tanya beliau curiga yang mampu membuat Victoria kepayahan menelan salivanya sendiri.
"kenapa kamu nggak jawab? Apa kamu bisu?!" gertak laki-laki tua itu saat ia tak kunjung mendapat jawaban dari Victoria.
Badan Victoria semakin panas dingin mendengar kalimat sarkas itu, jujur atau tidaknya jawaban darinya sekarang pasti akan membuatnya berakhir mengenaskan nantinya. Jika dia bohong maka ia akan berakhir ditangan sang presdir tapi jika sekarang dia menjawab jujur maka ia akan berakhir ditangan bosnya, Oh Sehun.
"sudah sejak 3 hari yang lalu Pak Sehun tidak masuk kerja tanpa kabar seperti ini...." dan akhirnya Victoria lebih memilih jujur, untuk nasibnya kedepannya ia sudah pasrah.
"saya sudah berusaha menelfon beliau tapi tidak pernah diangkat dan setiap saya berkunjung ke kediaman Pak Sehun, beliau juga tidak kunjung keluar padahal saya sudah menunggu selama 3 sampai 4 jam-an" lanjut Victoria menerangkan tentunya dengan suara gemetar dan sedikit terbata-bata.
"baiklah saya mengerti, kalau begitu bagaimanapun caranya sampaikan pada Sehun kalau dia harus menghadiri makan malam keluarga malam ini jam 7 malam" pesan bernada perintah itu terlontar begitu saja dari mulut keriputnya sebelum akhirnya pergi dari ruangan kebanggaan cucunya itu dengan membawa rasa jengkel.
Punggung ringkih yang mulai membungkuk itu sudah hilang tertelan pintu membuat Victoria bisa bernafas lega walaupun kakinya sudah lemas duluan sampai-sampai ia harus bersimpuh dilantai karena menahan hawa tegang nan mencekam tadi.
"ini cara ngabarin Pak Sehun 'nya gimana?" monolog Victoria kebingungan.
...
Mengerjap pelan Sehun tengah berusaha membuka kelopak matanya, entah sudah berapa jam ia tidur yang jelas matahari diluar sana sudah sangat tinggi, mungkin kalau ada yang menjemur pakaian sudah dapat dipastikan kalau pakaian-pakaian tersebut akan langsung kering, sedangkan disini seorang laki-laki tampan bernama Oh Sehun ini malah baru mulai membuka mata akibat clubing sampai subuh.
Pening langsung menghantam kepalanya begitu saja saat Sehun mulai bangkit dari posisi tidurannya, semua yang ada didepannya seolah-olah berputar-putar sampai jungkir balik mengakibatkan perutnya tiba-tiba bergejolak sampai-sampai ia harus tunggang langgang menuju kamar mandi.
Bermenit-menit pun berlalu, setelah dirasa cukup bagi Sehun untuk mengeluarkan semua isi perutnya, laki-laki yang selama 3 hari terakhir ini sangat abai pada penampilannya itu terlihat begitu pucat dan lesu, bahkan kini rahang tegasnya yang selalu terlihat bersih nan mulus mulai ditumbuhi bulu-bulu halus, yah walaupun masih tipis.
"kepala gue pusing" keluh Sehun sembari memegangi kepalanya.
Baru saja Sehun berniat untuk kembali berbaring diranjang empuknya tapi sayangnya langkahnya harus terinterupsi oleh bunyi bising yang berasal dari ponselnya, berdecak malas Sehun pun mulai mengambil benda pipih yang tergeletak mengenaskan dilantai tersebut.
Awalnya alis Sehun tertaut karena kesal begitu melihat notifikasi berupa 17 panggilan tak terjawab dari sekretarisnya tapi begitu ia membaca satu persatu spam chat yang juga dari sekretarisnya itu Sehun otomatis membulatkan kedua bola matanya karena kaget dan kemudian mengusak rambutnya gusar mengabaikan rasa pening yang menghantam kepalanya.
Victoria:
-Pak Sehun.... Bapak dimana?
-Presiden Direktur saat ini sudah duduk manis diruangan Bapak menunggu kehadiran Bapak
-tolong angkat telfon saya
-Bapak sebenarnya ada dimana?
-Presdir sudah pulang, kata beliau Bapak harus menghadiri makan malam keluarga malam ini
-Tolong baca pesan dari saya
...
Menu makan siang kali ini adalah sayur asem dan ikan pepes yang bisa dibilang salah satu makanan favorit Tera, tapi entah kenapa sedari tadi gadis itu hanya mengacak-acak makanan yang ada dipiringnya tanpa ada niatan untuk menyuapkan barang sesuap saja pada mulut kecilnya.
Pandangan Tera terlihat sendu dan kosong sampai-sampai Yuta muak sendiri melihatnya. "mikirin Sehun lagi?"
"eh.. Enggak kok" sadar Tera dan mulai menyuapkan nasi ke mulutnya.
"udah 3 hari ya lo kaya gini, kalau besok kaya gini lagi gue buang lo ke kali" marah Yuta dan bangkit dari duduknya tentunya karena ia sudah selesai makan.
Tiga hari berlalu sejak kejadian kesalah pahaman malam itu dan jujur saja Tera sangat kepikiran, apalagi mengingat fakta bahwa Sehun dalam keadaan mabuk waktu itu membuat Tera khawatir bukan main bahkan malam itu Tera sampai tidak bisa tidur karena saking kepikirannya.
"janji adalah janji. Lo udah janji sama Ibu lo buat nikah dan hidup bahagia, sedangkan Sehun, dia gak mau nikahin lo jadi gak usah lo pikirin lagi" tegur Yuta
"gue gak mikirin Sehun kok" elak Tera.
"lo pikir gue kenal lo baru sejam yang lalu? Gausah ngelak dan lupain semua perasaan lo ke Sehun. Kalaupun Sehun mau nikahin lo, lo pikir keluarganya bakalan diem aja? Inget Sehun itu kastanya tinggi beda sama kita, keluarganya pasti mau punya menantu yang selevel sama mereka. Jadi berhenti suka sama Sehun dari sekarang dari pada kena masalah nantinya" ujar Yuta yang membuat akal Tera kembali terbuka lebar.
Semua yang dikatakan Yuta memang benar, mulai dari janjinya pada sang Ibu untuk menikah dengan laki-laki yang mencintainya dan hidup bahagia, harusnya ia tidak lupa dengan itu. Dan juga, betapa bodohnya ia yang sangat tidak sadar dengan kondisi ekonominya sendiri, mungkin Sehun bukannya tidak mau menikahinya melainkan tidak bisa karena keluarganya pasti akan menentang hubungan mereka, yah harusnya ia sadar dari dulu bukannya lupa daratan seperti ini.
...
Jam menunjukkan pukul tujuh malam lewat 20 menit dan Sehun baru saja sampai dikediaman Kakeknya. Terlambat selama 20 menit, apakah Kakeknya bisa mentoleransinya?
"selamat malam Kek, maaf Sehun telat" ucap Sehun dan segera duduk disamping Ayahnya.
"kenapa kamu terlamba" tanya sang Kakek dengan aura mengintimadasi seperti biasa.
"tadi jalanan lumayan macet Kek" terang Sehun.
"benarkah? Kalau begitu kenapa kamu tidak ada diruangan kamu tadi pagi?" lanjut sang Kakek kembali melontarkan pertanyaan yang begitu memojokkannya.
"Sehun sakit Kek, jadi Sehun gak bisa berangkat kerja" jawab Sehun setenang mungkin agar tidak ketahuan bahwa ia tengah berbohong.
"sakit? Kalau kamu sakit kenapa sekretaris kamu gak tahu? Katanya sudah 3 hari kamu gak masuk kerja tanpa keterangan" gertak sang Kakek yang membuat suasana menjadi menegangkan.
Kecuali Kibum, laki-laki paruh baya itu malah terlihat senang mendengar gertakan dari sang mertua yang ditujukan pada keponakannya itu kemudian berbisik pada sang anak, "ini kesempatan kamu buat ambil hati kakek"
"Sehun gak sempet ngasih tahu sekretaris Sehun Kek" alasan Sehun yang sangat tidak masuk akal ditelinga sang Kakek.
"KYUHYUN!!!" marah sang Kakek memanggil menantu pertama
"apa begini cara kamu membesarkan anak kamu? Selalu membuat alasan dan tidak bertanggung jawab sama sekali!!" murka sang Kakek dan melempar sebuah amplop coklat ke pelukan Kyuhyun.
"apa sekarang hobimu mabuk-mabukan dan clubing tidak jelas?!" marah sang Kakek lagi pada Sehun. Dari situ Sehun mulai sadar bahwa ia akan terkena masalah.
"Kakek benar-benar kecewa denganmu!! Peringkat bulanan dan mingguan NeoZ Group menurun drastis dan kamu tidak ada tanda-tanda ingin memperbaiki semuanya...." marah sang Kakek.
"Kakek sudah bilang 'kan kalau saham yang Kakek berikan padamu itu bukan permanen? Kakek akan cabut saham yang Kakek tanam pada NeoZ Group dan akan Kakek berikan pada ST. Corp" lanjut beliau.
"Kai, Ini kesempatan untuk kamu menunjukkan keunggulan kamu, siapakan semua dokumennya Kakek akan menandatanganinya besok"
"baik Kek" balas Kai
"dan Sehun, cepat sadarkan dirimu dan jangan pernah berharap untuk mendapatkan perhatian dari Kakek sebelum kamu menyadari kesalahan kamu dan memperbaiki semuanya. Kakek benar-benar kecewa sama kamu!"
Setelah meluapkan semua amarahnya sang Kakek kemudian pergi meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan makan malamnya, perutnya sudah terlalu kenyang memakan kekecewaan dari sang cucu kebanggaan.
"kamu ada masalah?" tanya Kyuhyun pada sang anak.
"Sehun pengen sendiri, Yah" kata Sehun dan berlalu pergi meninggalkan meja makan dengan rasa kesal dan amarah yang membuncah.
Semuanya telah hancur. Sehun merasa bahwa saat ini adalah titik terendah baginya, Kai telah merebut segalanya darinya. Baik Tera maupun tahta semuanya telah dirampas oleh Kai.