Seminggu memang sudah berlalu tapi Sehun masih belum bisa melupakan detik-detik dimana Tera menolaknya. Setiap kali Sehun mengingat kata-kata menohok yang dilontarkan Tera ia benar-benar merasa perih bahkan d**a bagian kirinya serasa diremat-remat sampai hancur lebur.
Sehun adalah tipikal laki-laki yang sangat mencintai tubuhnya, selama 28 tahun ia hidup tidak pernah sekalipun ia menyentuh yang namanya minuman beralkohol, karena selain larangan dari sang Ayah menurut Sehun sendiri minuman-minuman itu hanya akan membuatnya tampak menyedihkan.
Tapi itu tidak berlaku untuk malam ini dan malam-malam sebelumnya. Setelah penolakan dari Tera, Sehun setiap malam rutin mengunjungi salah satu bar mewah yang hanya sekali teguk mampu menipiskan isi kantong, bahkan kelakuan nyelenehnya yang terlalu mendadak ini cukup membuat Chanyeol terkaget-kaget diawal. Dan memang benar apa yang dikatakan Sehun, alkohol hanya akan membuatnya terlihat menyedihkan.
"baru jam 8 malem lo udah mabuk-mabukan" keluh Chanyeol melihat sahabatnya yang sudah teler.
"Yo, bro!! Akhirnya lo dateng juga" cengir Sehun yang sudah hilang kendali itu.
Kesal dengan pemandangan di depannya, Chanyeol dengan segera merogoh saku jas milik Sehun dan mengambil dompet kulit berwarna coklat itu kemudian mengambil salah satu kartu kredit yang ada di dalamnya.
"bayar pake ini ya Mas" kata Chanyeol pada sang bartender.
"ayo pulang, besok lo harus kerja" bujuk Chanyeol pada Sehun.
"enggak!! Gue masih mau minum!" tolak Sehun dan kembali meraih gelasnya yang kosong.
"isi lagi!!! Gue mau minum!!" marah Sehun pada sang bartender. Bar yang semula tenang berselimutkan musik jazz itu tiba-tiba riuh karena rengekan dari Sehun.
"udah b**o!!! Malu gue diliatin orang-orang" desis Chanyeol kesal dan segera menarik tangan kanan Sehun untuk ia rangkul kemudian ia bawa keluar secara paksa.
Setibanya diluar Bar, dengan kasarnya Chanyeol langsung melempar tubuh Sehun ke jok belakang mobil milik Sehun sendiri kemudian ia menyusul untuk duduk dikursi kemudi, dari balik kaca spion Chanyeol bisa melihat bagaimana mengenaskannya keadaan Sehun akhir-akhir ini.
"ini terakhir kalinya gue jemput lo. Berhenti mabuk-mabukan ini nggak lo banget" gumam Chanyeol 10 detik sebelum ia menjalankan mobil Sehun.
15 menit perjalanan berlalu dan kini Chanyeol tengah sibuk menggendong Sehun di punggungnya karena sudah tepar duluan selama di mobil. Nafas Chanyeol memburu menahan beban abot dipunggungnya, belum lagi lantai apartemen yang dihuni temannya ini lumayan tinggi membuat kakinya lemas karena terlalu lama berdiri didalam lift.
Badan Chanyeol sudah bermandikan peluh begitu ia melempar tubuh Sehun yang berbau alkohol itu ke atas sofa depan TV diruang keluarga, Chanyeol sudah tidak kuat kalau harus menggendong Sehun sampai ke kamarnya yang berada di lantai 2 lututnya mungkin sudah remuk.
"gue dimana?" seru Sehun dengan suara paraunya.
"gausah ngomong lo, mulut lo bau!" tukas Chanyeol yang masih berada dipuncak amarah.
"perut gue mual" lirih Sehun dan berlari dengan sempoyongan kearah kamar mandi.
Dari sini bahkan Chanyeol bisa mendengar bagaimana tersiksanya Sehun saat mengeluarkan isi perutnya. Salah dia sendiri sih bukan salah Chanyeol.
Bermenit-menit akhirnya berlalu, Chanyeol kini sudah tidak mendengar pekikan tersiksa dari Sehun lagi tapi yang aneh kawannya itu tak kunjung keluar dari kamar mandi dekat dapur, akhirnya Chanyeol pun berinisiatif untuk menghampirinya.
"ngapain lo?" tegus Chanyeol saat menemukan teman sejawatnya itu tengah melamun didalam kamar mandi.
"kenapa sih semua cewek harus minta nikah? Emang apa pentingnya secarik kertas pernikahan?" gumam Sehun dengan wajah kosongnya.
Merasa iba Chanyeol pun mulai menjongkokkan diri dihadapan Sehun agar mereka bisa berbincang lebih leluasa.
"karena mereka akan merasa aman dengan secarik kertas itu" jawab Chanyeol.
"emang apa bedanya sih? Toh gue juga gak akan ninggalin dia, gue bakalan terus ada buat dia sampai kita tua. Kita bisa hidup bareng punya anak dan tua bareng tanpa harus nikah" gumam Sehun lagi yang merasa tidak habis pikir.
"pikiran cewek emang rumit, tapi siapa pun ceweknya mau itu Tera atau cewek-cewek yang lain mereka gak akan mau nerima tawaran gila lo, semenggiurkan apapun tawaran yang lo buat mereka gak akan luluh kalau lo gak nikahin mereka" terang Chanyeol sepelan mungkin agar temannya yang setengah mabuk itu mengerti.
"gue pikir Tera beda. Ternyata dia sama aja" lirih Sehun.
"jangan 'kan Tera, gue kalau jadi cewek pun juga gak akan mah nerima tawaran lo" sindir Chanyeol yang mulai jengah dengan pemikiran menyimpang temannya itu.
Sedangkan Sehun yang sadar akan sindiran itu menatap tajam kearah Chanyeol kemudian berdiri dengan tenaga lemahnya dan pergi meninggalkan Chanyeol.
"mau kemana lo?" panggil Chanyeol yang tidak dihiraukan sama sekali oleh Sehun.
"terserahlah capek gue" pasrah Chanyeol pada akhirnya saat melihat Sehun keluar dari apartemen.
....
Angin malam berhembus sarkas menusuk tiap pori-pori Sehun yang terbuka. Kondisi dari pemuda ini tidak dalam kondisi baik tentunya, lihat saja rambutnya yang semrawut sangat tidak menyenangkan dilihat oleh mata.
Lalu setelan kerjanya yang awut-awutan juga semakin menambah nilai minus Sehun. Belum lagi wajah yang merona karena mabuk serta bau alkohol yang menguar dari dalam tubuhnya, membuatnya tidak menarik lagi walaupun wajahnya sangat tampan.
Sehun sudah bagaikan orang gila baru yang tengah lontang-lantung dipinggir jalan, entah dia mau kemana sedari tadi dia hanya berjalan tanpa arah.
Sepertinya kesadaran Sehun mulai berkumpul, karena laki-laki ini mulai mengedarkan pandangannya kearah jalanan kota yang sangat sibuk walaupun malam sudah hampir larut, dan kebetulan ada taksi lewat jadi Sehun memberhentikannya.
"mau diantar kemana Mas?" tanya si bapak sopir taksi.
"jalan dulu aja Pak" jawab Sehun dengan pandangan sendunya.
Taksi pun mulai terus berjalan tanpa arah, sampai tiba-tiba Sehun memutuskan untuk diantar ke bengkel milik Yuta. Jujur Sehun saat ini amat sangat merindukan Tera tapi karena kondisi hubungan mereka yang kurang baik dalam semalam Sehun tidak ada keberanian dan kemauan untuk menemui Tera, jadi siapa tahu kalau ia mengunjungi tempat kerja gadis itu rindunya bisa terobati walaupun hanya sedikit.
Jam sudah menunjuk pukul 9 malam dan Sehun tengah sibuk memandang kearah bangunan yang biasa Tera kunjungi untuk bekerja, dari sini Sehun bisa melihat kilasan-kilasan bayangan saat Tera tengah bekerja dan itu semakin memperparah rasa rindunya.
Tetes demi tetes tanpa sadar mengalir begitu saja dari kelopak mata cantiknya, rasa rindu Sehun sudah mencapai puncaknya ia benar-benar ingin menemui Tera saat ini juga.
Langkah kaki yang masih sedikit sempoyongan itu terus melaju perlahan, menelusuri gang dengan gapura bertuliskan 'Selamat Jalan'. Hati Sehun mulai tentram saat ia sudah sampai didepan kediaman Tera.
"selamat malam, gue kesini karena gue kangen lo" monolog Sehun yang terdengar menyedihkan.
Lampu rumah Tera sudah padam semua dan Sehun mengartikan bahwa gadis itu sudah terlelap dengan nyamannya, membayangkan Tera yang tengah terlelap dengan dengkuran halusnya membuat Sehun tersenyum lembut, jika saja pemandangan itu terjadi rutin setiap malam menjelang ia tidur dan saat ia bangun dipagi hari mungkin hari-harinya akan lebih menyenangkan.
Waktu kembali berlalu begitu cepatnya. Tak terasa sudah satu jam lebih Sehun berdiri tegap memandangi rumah Tera, karena rasa rindunya sudah sedikit membaik mungkin ia akan pulang sebentar lagi, sebentar lagi saja dan Sehun akan benar-benar pulang.
Tiba-tiba sebuah mobil mulai memasuki pekarangan rumah Tera membuat Sehun tanpa sadar mulai menyingkir untuk memberi ruang pada mobil tersebut, dan yang terjadi berikutnya adalah sebuah adegan manis yang mampu mengoyak relung hati Sehun yang dari awal memang sudah berantakan.
Rasanya bagaikan tertusuk jutaan anak panah saat Sehun menyaksikan secara langsung bagaimana manisnya Kai memperlakukan Tera dan juga betapa bahagianya raut wajah Tera saat Kai memberinya stun gun.
Sorot kecewa langsung saja Sehun tunjukkan saat Tera mulai menyadari kehadirannya, ia ingin Tera tahu bahwa gadis itu sudah sangat mampu untuk memporak porandakan hatinya yang tengah hancur lebur.
"jadi lo nolak gue buat deketin dia?" desis Sehun sinis.
"bukan gitu--"
"okelah gue ngerti" katanya kemudian berlalu pergi dengan langkah sempoyongan.
"Sehun!!" teriak Tera yang tidak Sehun pedulikan sama sekali.
Sehun terus melangkah dengan amarah dan kekecewaan yang bercampur aduk jadi satu sampai sebuah mobil berhenti di depannya dan si pemilik mulai mencekal langkahnya.
"masuk gue anter" kata Kai
"gak usah sok peduli, hubungan kita gak sedeket itu" geram Sehun.
"gausah banyak omong. Cepetan masuk dasar tukang mabuk!" sindir Kai.
"kenapa kalau gue tukang mabuk? Apa lo sekarang merasa lebih hebat dari gue karena udah ngerebut dua cewek yang gue cinta?!" amuk Sehun yang amarahnya sudah melebihi puncak.
"gak usah ngaco kalo ngomong, kalo lo mau gue anterin pulang cepetan masuk" kesal Kai.
"gak usah gue bisa pulang sendiri. Gue gasudi masuk mobilnya cowok murahan kaya lo yang sukanya ngerebut cewek orang"