Seminggu berlalu sejak malam itu, baik Tera maupun Sehun tidak ada usaha untuk saling bertemu sama sekali, mereka terlalu terlarut dalam kekecewaan masing-masing.
Seperti biasa malam ini Tera ke rumah sakit untuk sekedar memberi salam pada sang Ibu, dengan langkah gontainya yang menyedihkan ia mulai memasuki kamar rawat milik Ibunya itu.
Bukan ruangan kosong seperti biasanya yang Tera dapati setiap kali memasuki ruang rawat tersebut, di dalam sana Tera mendapati seorang pria paruh baya tengah menatap kearah Ibunya dengan sorot mata yang begitu memilukan.
"maaf, anda siapa?" tanya Tera sopan yang sukses membuat pria asing tersebut menoleh kearahnya.
"apa anda mengenal Ibu saya?" tanya Tera lagi.
Bukannya menjawab pria itu malah menatap Tera dengan pandangan terkejutnya, "dia Ibu kamu?"
Tera hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Ibu kandung?" tanya pria asing itu sekali lagi yang semakin membuat Tera mengernyit bingung.
"tentu saja Ibu kandung dia yang melahirkan saya, apa anda mengenal Ibu saya?"
"tidak. Maaf saya salah kamar" jawab orang asing itu dan berlalu pergi dengan tergesa-gesa.
Tanda tanya besar mulai timbul dikepala Tera. Pandangannya kian menajam karena berpikir, dari gerak-gerik aneh pria tua tadi terlihat sekali kalau dia mengenal Ibunya tapi kenapa beliau mengelak dan berkata salah kamar? Kepala Tera sampai pusing sendiri memikirkannya.
Drtt~~drtt~drtt~~~
"halo" sapa Tera setelah menggeser tombol hijau pada ponselnya.
"lo dimana?" suara diseberang sana.
"di rumah sakit" jawab Tera seadanya.
"gue kesana ya, mau dibawain apa?"
"gak usah bawa apa-apa"
"ohh martabak telur, oke" kata si penelpon, kemudian sambungan diputus sepihak.
Kenapa banyak orang aneh hari ini?
....
"dari mana?" tanya sang Istri begitu melihat suaminya memasuki ruang tamu dengan raut gelisahnya.
Tak menghiraukan pertanyaan tersebut, pria itu kembali melanjutkan langkahnya mengabaikan keberadaan sang istri.
"dia sudah koma selama 2 tahun, gimana perasaan kamu melihat dia?" tanya sang Istri lagi dengan nada sinisnya.
"diam! Jangan jadi istri yang menjijikkan" balasnya tak kalah sinis.
"kalau kamu kesana di jam-jam ini harusnya kamu ketemu sama putrimu, gimana? Ketemu nggak?"
"AKU BILANG DIAM YA DIAM!!!!" teriak pria tua itu pada akhirnya, amarahnya tersulut begitu cepat.
"tenang aja, ada kemungkinan kalau dia bukan anak kamu" tukas sang Istri
"dia bukan perempuan murahan" desis laki-laki paruh baya itu menatap nyalang kearah istrinya.
"aku nggak pernah bilang kalau dia perempuan murahan, bisa saja 'kan setelah menggugurkan bayimu dia bertemu dengan laki-laki yang lebih bertanggung jawab, lalu mereka menikah dan dikaruniai anak. Jangan berpikiran buruk lagi darah tinggimu sudah parah suamiku" sindir sang istri
Terdiam. Air mukanya tiba-tiba menyendu, pikirannya kembali terlempar ke masa 26 tahun silam, dimana ia berselingkuh dibelakang istrinya sampai menghasilkan bayi.
"apa kamu menyesal? Sudah nggak ada waktu untuk menyesal, waktu itu aku sudah menyuruhmu untuk menceraikanku dan segera menikahi dia sebelum kandungannya membesar, tapi sayangnya karena rasa ego dan ambisimu yang tinggi kamu nyuruh dia untuk menggugurkan janinnya" sindir sang Istri lagi.
Yah, laki-laki itu ingat betul bagaimana kasarnya ia menyuruh selingkuhannya untuk segera menggugurkan kandungannya, bahkan sampai sekarang pun perkataannya malam itu selalu menjadi mimpi buruknya setiap malam.
"nggak ada yang tahu dia benar-benar menggugurkan kandungannya atau tidak, tapi semoga saja dia benar-benar bukan putrimu. Anak sebaik dan secantik itu nggak pantas punya Ayah keji sepertimu"
...
"Mas Kai ngapain kesini?" tanya Tera begitu mendapati laki-laki yang tadi menelponnya sudah sampai di ruang rawat milik Ibunya.
"bosen gue kalo langsung pulang" jawab Kai.
"kenapa bosen?" tanya Tera lebih lanjut.
"gue tinggal sendiri, gak ada yang bakalan nyambut gue kalo dirumah"
"panggil temen 'kan bisa" kata Tera.
"Dio gak bakalan mau, dia lebih cinta rumah sakit dari pada sahabatnya yang lagi kesepian. Krystal.... Walaupun kita balik sahabatan lagi gak mungkin 'kan gue ngajak dia ke apartemen gue, bisa-bisa gue khilaf nanti"
"oh iya ini martabaknya silakan di makan" imbuh Kai dan mencomot satu potong martabak.
"Ibu lo gimana keadaannya?" tanya Kai
"masih gak ada kemajuan, bahkan kata dokter titik vitalnya makin lemah" jawab Tera dengan nada sedihnya.
"Ibu lo pasti bakalan bangun kok, jangan ngomong yang aneh-aneh dulu ini cepetan makan" tukas Kai dan menawarkan satu potong martabak yang kemudian diterima oleh Tera.
"makasih" lirih Tera.
"udah jangan sedih lagi, nanti Ibu lo makin gak mau bangun kalo lo sedih mulu"
"Mas Kai jangan ngomong gitu dong!!" rengek Tera.
"ya makanya jangan sedih mulu!!" balas Kai.
"oh iya tadi ada orang kesini" cetus Tera.
"siapa?" penasaran Kai.
"gak tahu, Bapak-bapak sih, katanya salah kamar" cerita Tera.
"tapi yang aneh itu waktu gue masuk orang itu mandang Ibu lama banget, tatapannya juga kelihatan sedih tapi waktu gue tanya apa dia kenal sama Ibu katanya enggak" lanjut Tera disela kunyahannya.
"aneh juga sih, mulai sekarang lo harus hati-hati jangan kesini sendirian" khawatir Kai.
"biasanya gue kesini selalu bareng Yuta tapi karena sekarang Yuta lagi sakit jadi dia nggak bisa ikut kesini" ujar Tera.
"bukannya orang sakit harus ke rumah sakit?" bingung Kai.
"dia gak mau, kalau ke rumah sakit dia pasti di infus sedangkan dia phobia sama jarum" terang Tera yang membuat Kai manggut-manggut mengerti.
"lo beneran udah nggak ada kontakan lagi sama Sehun?"
"nggak ada. Nggak mungkin dia bakalan ngehubungin gue lagi setelah gue tolak" jawab Tera.
"bagus deh kalau gitu, jangan sedih lagi gue pasti cariin cowok yang seribu kali lipat lebih baik dari Sehun buat lo, jadi sekarang lo fokus aja sama kesehatan Ibu lo" kata Kai mengelus lembut rambut pendek Tera.
"makasih Mas tapi gausah kapan-kapan aja dicariin cowoknya" cengir Tera.
"bisa gak lo gausah panggil gue Mas? Berasa Mas-mas tukang cukur gue"
"ya terus gue harus manggil apa?" tukas Tera.
"nama aja juga boleh, gue seumuran sama Sehun, lo aja bisa panggil dia nama aja sedangkan gue pake embel-embel Mas segala" protes Kai lebih lanjut.
"nggak ah nggak enak kalau cuma manggil nama aja" tolak Tera.
"yaudah kalau gitu pake embel-embel lain jug gak papa asal jangan Mas, kedengerannya ndeso banget tahu nggak"
"masa Bang sih, jadinya Bang Kai dong, mau?"
"sialan lo!" umpat Kai.
"terserahlah pokoknya jangan Mas" imbuh Kai masih sedikit kesal.
"oke Kak" cengir Tera sekali lagi.
"udah malem lo nggak pulang?" tanya Kai.
"iya, keburu gak ada taksi nanti" jawab Tera.
"lo nggak bawa motor?"
"bannya bocot tadi" jawab Tera.
"yaudah ayo gue anter"
"gak ngerepotin nih?"
"asal lo nggak ngeselin aja nanti" sahut Kai.
....
Jam sudah menunjukkan pukul 22.40 dan Kai baru saja menghentikan mobilnya tepat didepan rumah Tera.
"makasih Kak udah nganterin sampe rumah" ucap Tera dengan senyuman tengilnya.
"lo dirumah sendiri 'kan? Jangan lupa kunci semua pintu sama jendelanya, dan juga buat jaga-jaga lo harus selalu bawa ini" kata Kai yang kemudian memberikan sebuah benda pada Tera.
"apaan nih?" bingung gadis itu.
"itu namanya stun gun atau alat kejut listrik, lo bisa pake barang ini kalau lagi dalam bahaya" jelas Kai.
"wahh keren" takjub Tera.
"perempuan tinggal sendirian itu rawan jadi lo harus super hati-hati" nasihat Kai.
"siap bos" jawab Tera sembari memberikan pose hormat kepada Kai.
"yaudah sana masuk tidur besok lo kerja"
Baru satu langkah Tera menjalankan kakinya tapi harua terhenti karena matanya menangkap sosok tak asing didepannya dengan jarak kurang lebih 4 meter, sosok yang seminggu ini ia rindukan.
"lo ngapain disini?" sinis Kai yang sudah berdiri dihadapan Tera agar sosok itu tidak semakin mendekat kearah gadis itu.
"jadi lo nolak gue buat deketin dia?" desis sosok itu tak kalah sinisnya.
"bukan gitu--"
"okelah gue ngerti" katanya kemudian berlalu pergi dengan langkah sempoyongan.
"Sehun!!" teriak Tera berusah menyusul laki-laki itu tapi tangan Kai lebih dulu menghentikannya.
"biar gue aja yang nyusul dia" kata Kai.
"kayanya dia mabuk, tolong anterin dia" adalah permintaan tulus dari Tera untuk Kai.