"Assalamualaikum," aku mengetuk pintu itu terlebih dahulu sebelum dengan gerakan pelan aku membukanya. Mataku langsung menatap Nek Ida dan Pak Herman yang sedang menunjukkan ekspresi kebingungan tapi tak lama mereka langsung tersenyum dan Nek Ida juga langsung menghampiriku. "Waalaikumsalam, Mbak Syani?" Aku tersenyum, Nek Ida mempersilakan aku masuk, "saya cuma bawa ini, mohon diterima ya Nek, Pak." Aku memberikan bingkisan buah-buahan itu pada Nek Ida, Nek Ida mengambilnya dengan senyum di bibirnya kemudian ia mengucapkan terima kasih. "Pak Herman, bagaimana keadaannya? Sudah lebih baik?" sapaku pada Pak Herman yang kini sedang berbaring di ranjangnya, senyumnya masih menghiasi wajahnya meski pun wajah yang aku lihat sekrang sangatlah berbeda dengan wajah yang aku lihat saat pertama k

