Aku tak tahu pasti sudah berapa lama aku berada di dalam kamarku, mengurung diri sambil terus menangis. Sesungguhnya aku pun tak paham mengapa aku bisa secengeng ini, namun percayalah aku sudah banyak memberi sugesti pada diriku bahwa tiket itu bukanlah apa-apa namun percayalah juga bahwa aku tak bisa menampik keberadaannya begitu saja, buktinya yang ada di dalam hatiku hanya rasa sakit yang makin bertambah setiap saatnya. Aku memandang jam dindingku, waktu bahkan sudah hampir larut dan tak aku temui tanda-tanda Biru akan pulang. Pikiranku jadi kalut sekali. Aku menarik napasku beberapa kali, mencoba menenangkan diri sambil berharap dan terus berharap. Ting Ponsel yang aku letakan di nakas yang berada di sampingku berbunyi, menandakan ada sebuah pesan di dalamnya. Biru. Nama itu yang t

