Prisa mengulurkan tangannya kepadaku dan aku menyambutnya, "Ah iya, Syani. Biru sudah menceritakan tentang pernikahannya dengan kamu. Maaf ya, kemarin-kemarin aku tidak tahu." Katanya. Aku menyambut uluran tangannya dengan senyum di bibirku. "Maaf juga kalau aku tampak kaget dengan kehadiran kamu karena Biru tidak memberi tahu aku sebelumnya, tapi aku senang bertemu dengan kamu lagi." Lanjutnya lagi. Aku kembali menanggapinya dengan senyuman lalu menatap Biru dengan raut wajah yang tak bisa ditebak. "Ayo, duduk." Biru mempersilakanku duduk. Kemudian kami sibuk dengan piring berisikan makanan yang sudah dipesankan Biru sebelumnya. Beberapa kali Biru dan Prisa berbicara tentang pekerjaannya. Sebetulnya, aku tak mempermasalahkannya. Hanya saja entah mengapa, malam ini terasa lebih sunyi d

