BAB 12

802 Kata
Pertemuanku tadi dengan Mas Tarra masih berputar di dalam kepalaku, aku masih tidak habis pikir dengan apa yang dia lakukan padaku. Aku sangat percaya, sangat menghormatinya sebagai seorang kakak maka ketika aku mengetahui semua jujur saja hatiku sangat sangat sakit. "Tenang, Sya. Tenang." Nadin dari arah depanku datang membawakan minuman teh kaleng yang baru saja ia ambil dari kulkas yang berada di dalam kamar kosnya. "Gue cuma ngga habis pikir aja, Nad." Aku meraih teh kaleng yang diberikan Nadin, membukanya dan meminumnya perlahan. Nadin duduk di sebelahku, aku meliriknya sekilas lalu kembali menatap kumpulan awan menggantung di langit yang bisa kulihat dengan jelas dari sini, dari atas atap kamar kos Nadin. "Dia punya alasan kenapa dia melakukan itu." Nadin membenarkan posisi duduknya, ia menghadapku sekarang. Sementara aku masih memandang bentangan langit. "Katanya dia cinta sama gue." "Bukan, bukan itu." Nadin menyanggah ucapanku dan membuatku penasaran hingga kepalaku memutar untuk menatapnya heran. "Cinta ngga akan bikin dia jadi sebodoh itu." "Jangan muter-muter kayak kipas angin Nad, pusing gue." Aku menatap Nadin yang sedang menyunggingkan senyumnya. "Dia pengin milikin lo Sya. Melabeli lo dengan hak miliknya. Sadar?" Diam-diam aku menganggukkan kepalaku. "Selama ini dia berusaha keras untuk bisa dipandang sama lo. Tapi lo yang udah terlalu bodoh dan d***u masih aja menanti Biru." Kata Nadin sarkas. "Nad," panggilku lirih, Nadin yang mendengar itu langsung menatapku. "Gue mau nikah." Nadin diam, wajahnya benar-benar bingung sekarang. "Gue mau nikah, nikah. Gue mau nikah sama Biru, Nad." Lanjutku dengan riang seolah-olah aku ingin menyadarkan Nadin dari lamunannya sekarang. Tapi percuma saja, Nadin masih diam tidak memberikan respon apapun. "Syaninda Nitisamasta, lo sehat?" Nadin menempelkan punggung tangannya di dahiku, mengecek keadaanku. "Gue sehat, Nadin." "Tapi apa yang barusan lo bilang itu tidak menunjukkan kalau lo sehat." Katanya yang masih tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Aku tersenyum. "Gue baru tahu surat wasiat ayah gue Nad, permintaan terakhirnya sederhana beliau ingin gue menikah dengan Biru." "Biru udah punya pacar, Sya." Nadin memotong pembicaraanku, ia menatapku dengan tatapan khawatir. "Gue nolak waktu tahu itu meskipun sebenarnya gue ingin sekali. Tapi cinta, ngga bikin gue setolol itu untuk jadi wanita kedua. Besoknya, Biru kayak datang terus di hidup gue, meyakinkan gue sampai akhirnya gue tahu tentang pemblokiran nomornya dari ponsel gue itu karena Biru, Nad." Aku menarik napasku untuk melanjutkan pembicaraan ini. "Lo tahu kenapa gue bilang gue udah berakhir dengan Biru ke Tante Melli? Karena gue ngga tahu apa yang harus gue lakuin setelah tiga tahun Biru hilang dan dia muncul di hadapan gue lagi sebagai sosok yang ngga gue kenali siapa membuat gue akhirnya menyimpuli kalau di antara kita memang udah ngga ada apa-apa lagi. Dan lo tahu kenapa dia bilang kalau dia udah punya pacar ke gue? Karena dia ngerasain hal yang sama yang gue rasain. Jauh di sana, dia juga sulit menghubungi gue. Permainan yang dibuat Mas Tarra sangat sukses buat gue dan Biru sakit hati, Nad." Aku menghapus air mataku yang tanpa aku sadari sudah jatuh dengan mulus ke pipiku. Aku melirik Nadin, ia masih memerhatikanku tanpa memberi respon apapun. "Lo percaya itu?" Dan pertanyaan yang dikatakannya sukses membuat sekujur tubuhku kaku. "Gimana rasanya tan?" aku bertanya pada Tante Melli yang lagi mencicipi kue nastar buatanku yang baru saja keluar dari oven. "Enak, Sya." katanya sambil tersenyum lalu kembali mengambil kue nastar lagi. Hari ini, tiba-tiba aku ingin sekali makan kue nastar, ah tidak, ralat, maksudku aku ingin sekali membuat kue nastar. Namun, karena aku tak terlalu pandai membuat kue maka aku memutuskan ke rumah tante Melli memintanya untuk membimbingku membuat kue nastar ini. "Dapurnya jadi berantakan deh, nanti Syani beresin ya tante." kataku sambil mengelap lelehan keringat diwajahku dengan tissu. "Kalau panggilan itu diganti jadi mama gimana? Calon menantu?" kata tante Melli sambil menggodaku, aku hanya membalasnya dengan tersenyum. Dari arah berlawanan aku melihat kedatangan Biru yang baru saja pulang dari rumah sakit, kini dia langsung menghampiri kami di dapur dan langsung mengambil kue nastar buatanku. Aku menepuk punggung tangannya, "cuci tangan dulu pak dokter." pintaku. Dia terkekeh pelan diikuti dengan tante Melli. "Sekali aja. Calon istri aku belajar bikin kue buat nyenangin suaminya kan?" katanya yang semakin membuat kekehan tante Melli semakin kencang. Aku memilih untuk tidak menjawabnya. "Oh iya, besok kamu jadi ketemu adik ayah kamu?" tante Melli bertanya padaku, karena memang besok aku berkeinginan untuk menemui om ku untuk membahas pernikahanku dengan Biru sebab setelah ibu dan ayahku meninggal, aku tak punya siapa-siapa lagi selain Om Hamdi yang mereka titipkan untuk menjagaku. Aku mengangguk. "Aku antar ya?" kini Biru yang bertanya. "Ngga usah, nanti aja di acara lamaran yah?" kataku dengan tersenyum. Biru menatapku. "Kamu tuh keras kepala, untung aku cinta." katanya. "Ya, untung aku mau sama kamu." kataku terkekeh, diikuti dengan yang lain sambil dalam hati aku berdoa dan berharap, jika saat ini kebahagiaanku akan dimulai bersama Biru. Ya, semoga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN