BAB 11

1029 Kata
Sore ini langit Jakarta menguning ditambah dengan angin yang kali ini begitu sering. Padahal perkiraan cuaca yang tadi aku tonton menyatakan tidak ada perkiraan hujan hari ini, tapi memang tak ada yang tahu apa yang akan terjadi sepersekian detik setelah ini. Bisa saja hujan tiba-tiba datang atau bisa saja panasnya matahari kembali menyengat. Seperti cuaca, maka perasaan manusia pun samanya. Tak menentu dan seringkali berubah-ubah. Bola mata milikku berputar, tak lagi menatap langit tapi kini menatap jalanan Ibu Kota yang masih sibuk seperti biasanya walaupun hari sudah menuju malam. Kemudian, aku menatap es kopi yang beberapa menit lalu baru saja tiba di mejaku. Gelasnya sudah berkeringat namun aku masih belum berminat untuk meminumnya. "Sya~" Aku melirik ke kanan, menatap orang yang baru saja memanggil namaku. Dia datang. Aku berdesis pelan, sementara dia tanpa aku persilakan sudah duduk di hadapanku. Aku seperti tak punya keberanian untuk menatapnya, maka yang aku lakukan adalah menundukkan kepalaku serta mencoba merangkai kata-kata yang akan kuucapkan nanti. "Udah lama?" dia bertanya dan membuatku harus menatapnya. Kini, Mas Tarra melebarkan senyumnya padaku membuat kedua lesung pipinya timbul. Ya, sore ini aku memutuskan untuk menemuinya karena ucapan Biru kemarin membuatku tak bisa tenang, aku tak ingin menuduh lagi maka dengan keberanian hari ini juga aku memutuskan bertemu dan bertanya langsung padanya. "Mas mau aku pesenin apa?" alihku tanpa menjawab pertanyaannya. "Udaranya lagi ngga nentu, aku mau es lemon aja." "Yaudah." kataku, "Mbak." aku memanggil pelayan kafe ini lalu memesankan pesanan Mas Tarra. "Udah lama?" Mas Tarra kembali mengulang pertanyaan yang belum aku jawab. Aku menatapnya. "Lumayan, sampai gelasku berkeringat." kataku dan dia hanya tersenyum tipis. "Mas." aku memanggilnya pelan, Mas Tarra yang tadinya lagi fokus melihat penampilan band kafe ini yang tengah membawakan lagu Sendu Melagu dari Barasuara. Kini ia kembali menatapku. Semua yang kau rindu Semua menjadi abu Langkahmu tak berkawan Kau telah sia-siakan Waktu yang kau tahu Waktu yang berlalu Ingatmu kau merayu Ingatnya kau berlalu Sendu melagu "Lagunya bagus ya." katanya padaku dan aku hanya tersenyum. "Gimana Sya? Kamu mau ngomong apa?" Aku kembali diam, tak tahu harus memulai dari mana. "Kok diam? Sya, kamu udah tahu jawabannya tentang permintaan aku?" ketika Mas Tarra bertanya itu aku langsung menatapnya dan teringat dengan malam itu, malam di mana ia menyatakan perasaannya padaku dan ingin menggantikan posisi Biru di hatiku. Aku menggeleng lemah tanpa berbicara apapun. "Ya, aku paham." Katanya dengan begitu lirih, seperti saat mengucapkannya ada pisau yang menancap di tubuhnya terasa sangat menyakitkan dan entah mengapa sepertinya pisau itu melukaiku juga, hingga bahkan hanya mendengar suara Mas Tarra juga begitu menyakitkan. Maka seperti biasa, kebisuan selalu tiba kala suasana yang mulai memanas. "Jadi, tadi kamu mau ngomong apa Sya?" tanya Mas Tarra yang berusaha untuk mencairkan suasana. Aku seperti tidak tahu harus berbuat apa, seperti semua kata dan maksud kedatanganku untuk menemuinya hilang begitu saja, di tiup angin atau tenggelam ke mana aku pun tak tahu. Bahkan, aku pun tidak sadar jika kini hujan sudah menyapaku di balik kaca, menjatuhkannya bulir-bulirnya yang begitu deras. "Mas pasti udah dengar beritanya kan? Sekarang aku di sini, dengan hormat untuk mengundang mas ke pernikahanku dengan Biru." aku menatapnya, aku tak bisa menebak apa perasaannya sekarang karena menurutku dia tak menunjukkan ekspresi apapun. "Makasih, mbak." Katanya pada pelayan kafe ini yang sudah membawakan es lemon pesanannya tanpa menjawab pertanyaanku. Mas Tarra masih diam, tak memberi respon apapun. "Mas." aku memanggilnya sekali lagi. "Apa tidak terlalu cepat?" tanyanya sambil menyesap minumannya dengan khidmat. Aku tersenyum, "Tidak, mas." "Kamu yakin? Memang kamu yakin dengan sikapnya padamu? Dengan semua perlakuannya padamu apa kamu pikir dia mencintai kamu?" katanya dengan nada penuh khawatir. Aku tersenyum. "Mas, mas sayang sama aku?" Mas Tarra mengangguk. "Mas mau jujur sama aku?" Mas Tarra kembali mengangguk. "Mas, memblokir nomor Biru dari ponselku? Tiga tahun yang lalu, saat mas meminjam ponselku untuk memasukan aku ke grup kantor. Benar mas?" aku melihat ekspresinya yang mendadak berubah, meski begitu aku masih tidak bisa menebaknya. Lima menit berlalu aku dan Mas Tarra tidak berbicara apapun, hanya kesunyian yang berada di antara kami padahal sejak tadi penyanyi kafe di sini sudah berganti-ganti lagu beberapakali. "Bukan kan? Karena aku pun berharap seperti it—" "Kamu menuduh aku? Memangnya apa yang diceritakan Biru sampai kamu sebegini percaya sama dia?" Mas Tarra menyunggingkan senyumnya. Seolah menganggap remeh. "Aku tidak menuduh, aku hanya bertanya. Jika pertanyaan aku ini menyinggung perasaan kamu, maafkan aku. Aku tahu kamu mas, kamu tak terlalu bodoh untuk melakukan itu—" aku melirik ke arah Mas Tarra, laki-laki itu kembali diam. "Mungkin memang aku yang melakukannya tanpa sen—" "Syani?" Aku langsung menatapnya. "Iya, aku yang melakukan itu. Tiga tahun yang lalu, maafkan aku. Aku melakukan itu karena—" Mas Tarra menggantungkan ucapannya, aku tahu dia beberapa kali menarik napasnya dalam. Aku tidak begitu kaget dengan pengakuan yang dikatakan Mas Tarra, karena sejak kemarin aku sudah bersiap dengan kemungkinan yang paling buruk. Tapi, rasanya masih sakit saja dan tak percaya bahwa yang aku tahu tentang sosoknya selama ini, sosok yang begitu aku percaya ini bisa melakukan hal yang tidak aku duga-duga. "Aku cinta sama kamu." Katanya dengan suara gemetar. "Lantas kalau mas mencintaiku mas bisa melakukan itu? Mas tahu seberapa tersiksanya aku mas, dan aku lebih tersiksa lagi saat aku tahu jika sekarang seseorang yang ada di hadapanku ini menjadi dalang dari semua rasa sakit di hatiku." Hatiku memanas mendengar ucapannya. Aku tak ingin menangis, demi apapun aku tak ingin. Maka dengan segala tenanga yang aku punya aku berusaha menahan tangisku. "Maaf, Sya." "Aku tak paham dan tidak ingin paham dengan alasan mas melakukan itu. Tapi, aku hanya ingin berterimakasih karena berkat mas. Aku dan Biru tahu jika penantian yang katanya berakhir indah bukan lagi kata-kata bahwasannya sabar tak pernah mengecewakan. Aku akan menikah, mas, dengan Biru." Aku tersenyum, meskipun begitu aku tahu aku telah menyakiti perasaan Mas Tarra. "Maaf." Mas Tarra kembali mengucapkan kata maafnya, sementara aku ikut mengeja kata itu dalam hati. Aku mengambil tas di sebelah kursiku, saat aku hendak pergi Mas Tarra kembali menahanku dan mengucapkan maafnya kembali. "Aku pamit ya." "Maaf." Dia mengulanginya lagi, aku menarik napasku. Meski terasa berat, aku menganggukan kepala, melepas genggamannya dan berjalan meninggalkan Mas Tarra di tempat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN