"Tadi, aku ke kantor kamu. Ketemu Tarra dan ya, aku jadi mengetahui semua sebab mengapa tiga tahun belakangan ini aku tidak pernah bisa menghubungi kamu. Jauh di sana aku pun sama seperti kamu, kebingungan mencari kabar. Kita hanya dipermainkan oleh permainan Tarra, Sya."
Aku tak berbicara. Diam, meresapi segala ucapan Biru. Aku jadi teringat dengan obrolanku tadi dengan Nadin yang mengatakan jika Biru menemui Mas Tarra dan berbicara sangat lama, apa yang tadi dibicarakan Biru dan Mas Tarra adalah perihal ini? Jika iya, aku sudah tidak mengerti lagi dengan apa yang ada di kepalaku saat ini, begitu runyam dan sangat sulit untuk aku jelaskan.
"Aku tidak pernah benar-benar mendahuluimu dan meninggalkanmu di belakangku. Kamu ingat dengan janjiku tiga tahun yang lalu?" kata Biru yang terdengar sangat meyakinkan dengan tatapan yang begitu lembut dan aku tak kuasa untuk tidak menatap mata itu. Rindu, masih sama rupanya rasanya seperti saat pertama kali bertemu dengannya dulu.
Kita berjalan di tempat, sekalipun berhenti kita akan tetap berada di tempat yang sama.
Aku dan Biru mengucapkan kalimat itu berbarengan, dan dengan perlahan menimbulkan gerak di bibirku tapi hanya sebentar saja.
Aku masih merasa jika ada sesuatu yang mengganjal hatiku, masih ada pertanyaan yang berada di benakku.
"Aku tahu aku sudah menanyakan ini beberapa kali. Tapi, aku hanya ingin memastikan agar harapan yang kamu bawa sekarang tidak membuatku merasa tinggi dan membuatku kembali merasakan jatuh lagi."
Biru menyimak dengan begitu khidmat.
"Sebenarnya, kita ini apa?" setelah aku mengatakan itu aku menundukkan kepala. Aku sudah jatuh berkali-kali meski begitu aku masih saja tak siap dengan jawabannya.
"Kita adalah us." Biru masih menatapku, dengan posisi kami yang saling berhadapan. Baik aku atau pun dia bisa melihat jelas kedua bola mata kami.
"Di dalam kata us, ngga ada i. Jadi us berarti you and she?" bola mata Biru bergerak, berpindah-pindah kadang ia menatap seisi apartemenku lalu menatapku dan sesekali melihat ke arah bawah.
"Aku harap kamu ngga lupa dengam percakapan kita di mobil, kamu bilang kita hanya teman, kemudian kamu bercerita tentang kekasihmu dan besoknya kamu ingin nikahin aku. Aneh, kamu tahu ini aneh Bi? Ya, aku memang ngga paham apa yang lagi kamu rencanain ta—" aku menghentikan ucapanku, menarik napas dalamku perlahan-lahan mencoba melerai segala perasaan sakit yang entah mengapa kembali terusik. Akhirnya ya memang akhirnya sesak di d**a yang kutahan sejak tadi menemui jenuhnya, aku kembali menangis di hadapan Biru entah sudah untuk keberapa kalinya air mata ini jatuh, untuknya dan tetap padanya.
Biru bergeming, tatapannya sudah tak bisa aku tebak lagi.
"Aku tidak pernah berpacaran dengan wanita lain selain kamu, Sya." Katanya begitu lirih.
"Rasanya masih sakit Bi. Sakit, di sini." Aku menepuk-nepuk dadaku sendiri dengan diiringi isakan tangis.
"Aku tidak pernah berpacaran dengan wanita lain selain kamu, Sya." Biru kembali mengulangi ucapannya tadi.
Aku masih menangis tapi kini isakanku mulai berkurang. Biru menatapku lalu memegang kedua lenganku seperti memberi tanda untuk aku membalas tatapannya.
"Aku tidak pernah berpacaran dengan wanita lain selain kamu, Sya." Biru mengulang kalimat itu lagi, beberapa kali dengan suara yang semakin lama semakin kecil.
Aku tersenyum tipis. Jika memang ia tak pernah berpacaran dengan wanita lain, lantas untuk apa dia mengatakan padaku malam itu, di apartemen miliknya bahwa ia sedang menjalani hubungan jarak jauh dengan seorang wanita di Singapura.
"Lantas kenapa waktu itu kamu bilang kaya gitu ke aku? Maksudmu apa?!" aku berteriak tepat di hadapannya, sungguh aku tak bisa lagi menahan. Aku marah, kecewa dan sedih di waktu yang bersamaan dan sangat membuatku sulit untuk menahan perasaanku itu.
"Maaf—"
Biru—tetapa lah Biru. Sementara aku—tetaplah aku, yang bisa terbang tinggi dan jatuh begitu saja, tergantung pada kata-kata yang akan ia ucapkan. Dan sekarang, kata maaf yang ia ucapkan seperti membawaku ke dalam lubang yang aku gali sendiri.
"Aku ngga pernah bermaksud untuk membuat kamu sakit hati, semua yang aku katakan dan aku lakukan karena aku pun tak tahu harus melakukan apa. Pengakuan kamu ke mama jujur aja bikin aku sakit hati. Tapi setelah melihat kamu lebih terluka karena yang aku lakuin ke kamu, itu malah membuat aku semakin sakit hati." Kini tangannya tak lagi memegangi lenganku, tangannya sudah dengan mahir menghapus sisa-sisa air mata di wajahku.
Sementara pikiranku beralih mengingat-ingat kejadian itu. Waktu itu aku mengambil keputusan sendiri, karena Biru pun banyak memberi tanda padaku tapi sekarang setelah aku mengetahui semuanya, jika ini hanya lah sebuah permainan dan aku tak cukup mahir untuk berlakon. Harusnya aku bersabar lebih sedikit lagi, karena aku pun tak sendirian, Biru merasakan perasaan yang sama denganku.
Dia mencintaiku, dia mencintaiku.
Biru menatapku begitu dalam, "Sudah ya? Semua ini hanya permainan yang sudah dirancang tapi baik aku ataupun kamu tak tahu cara untuk bermain karena cinta yang kita punya sungguhan, tak pernah main-main." Biru menariku ke dalam dekapannya yang begitu hangat. Aku seperti meluapkan rindu yang selama ini lupa arah dan padanya, dalam dekapannya kini aku menemukan pulang.
"Biru," bisikku tepat di telinganya, Biru tak menjawabnya, ia hanya berdeham pelan.
"Aku mau."
Biru langsung melepaskan pelukannya, kini dia menatapku dengan binar-binar di matanya yang sangat terlihat.
"Aku mau menerima lamaranmu dan menjalankan wasiat terakhir ayahku." Aku menatapnya dan berucap sangat yakin. Karena, aku tak bisa membohongi diriku sendiri, sebab seharusnya memang itu yang aku katakan sejak lama, karena aku pun tak punya alasan untuk berkata tidak sebab cinta yang aku punya begitu berkuasa sesakit apapun aku pernah mencintainya namun hatiku selalu tahu jalan pulang dan padanya lah, hatinya aku mengenal pulang. Sebab berkat Biru, aku tahu bahwa rumah tak selamanya bangunan, ia bisa saja hatinya.
Biru tersenyum menatapku dan mau tak mau sudut-sudut di bibirku ikut tertarik ke atas. Lalu dengan satu gerakkan dia kembali mendekapku, kini begitu dalam dan begitu lama.
"Sekarang sudah saatnya aku dan kamu—kita yang membuat permainan dan dengan aturan yang kita buat sendiri." Ucapnya yang membuatku sedikit bingung. Tapi aku tak bisa berkata apa-apa, aku hanya ingin menikmati pelukannya saat ini.
"Aturannya sederhana, bertahan sampai mati dalam keadaan apapun."