Sebelum mengantarku pulang, Biru terlebih dahulu memarkirkan mobilnya di sebuah warung sate yang tidak begitu jauh dari apartemenku. Biru melepaskan seat belt nya dan juga membantuku membuka seat belt milikku. Sepanjang jalan sampai tibanya kami di kursi, Biru sama sekali tidak pernah melepaskan genggaman tangannya pada milikku. Ada perasaan hangat yang masuk ke dalam hatiku beberapa saat sebelum ingatan tentang sore tadi membuatnya hancur seketika. Aku menatap Biru yang sedang menikmati makanannya, melihat wajahnya berkali-kali dan berusaha mengalihkan pikiranku yang sekarang isinya hanya Mas Tarra dan perilakunya padaku. Namun, sangatlah sulit, berkali-kali aku mencoba sudah beratus ratus kali aku gagal atau bahkan aku telah gagal sebelum mencobanya. "Kamu udah ngga suka makan sate lag

