Apa yang kita lihat memang tak selalu sama dengan yang kelihatannya. Sebuah tawa yang pada akhirnya menertawakan diri sendiri karena tidak terlalu pandai untuk menutupi sebuah luka, obrolan yang pada akhirnya hanya seperti angin yang berhembus ke sana-sini tanpa arah dan tujuan yang jelas. Dan aku, harus bertahan dengan keadaan ini sampai setidaknya satu atau dua jam ke depan, mengamati gerak-gerik lawan, kadang aku tertawa dan ikut berbicara seolah aku senang dan baik-baik saja. Aku memang senang dan baik-baik saja tapi tidak setelah salah satu temanku memanggil Mas Tarra untuk bergabung di meja makan kami, entahlah aku kira aku masih perlu banyak waktu untuk merasa baik-baik saja ketika berdekatan dengan Mas Tarra. Tapi, bukankah aku sudah memaafkannya? Namun, masih saja terasa begitu

