Miko melepaskan pakaian hingga tak tersisa sehelai benang pun di tubuhnya. Sementara itu, Kian sudah terbaring di kasur tanpa balutan apa pun. Sorot matanya tajam, memperhatikan tubuh polos gadis itu yang begitu sempurna dan menggoda. Keinginannya membuncah, senjatanya telah menegang seolah siap menyerang.
"Marilah puaskan adikku," ujar Kian dengan suara serak yang penuh g4irah, bibirnya melengkungkan senyum penuh arti.
Miko melangkah perlahan ke atas tubuh Kian, tubuhnya bergetar ringan—antara malu dan antisipasi yang membakar. Ia mendekat, lalu menunduk untuk mencium bibir Kian. Ciuman itu lembut pada awalnya, tapi segera berubah menjadi penuh n4fsu. Tangan Kian mulai bergerak, menyentuh kulit halus gadis itu, lalu beralih memainkan kedua gundukan bulat yang begitu sempurna di d4danya. Sentuhan itu membuat Miko memejamkan matanya, tenggelam dalam sensasi yang baru pertama kali ia rasakan.
Kian, yang sudah tak sabar, dengan cepat membalikkan tubuh Miko hingga terbaring di bawahnya. Pria itu menatapnya lama, pandangan matanya beralih ke bagian inti wanita itu yang kemerahan, sebuah tanda kemurnian yang membuat g4irahnya semakin membara. Tanpa menunda lagi, Kian memposisikan dirinya dan mendorong masuk senjatanya yang keras.
"Aahh!" Miko menjerit, tubuhnya menegang seiring rasa sakit yang menusuk. Air matanya hampir jatuh, tapi Kian hanya tersenyum puas saat melihat jejak darah perawan yang kini mengotori seprai putih di bawahnya.
"Tenanglah," ujar Kian dengan suara rendah, lalu menunduk mencium kening Miko, seakan memberi penghiburan. Namun, tubuhnya tak berhenti bergerak maju dan mundur dengan ritme yang mulai intens.
Kian menatap wajah gadis itu. Di balik rasa sakit yang tampak di wajahnya, kecantikan Miko begitu jelas terlihat—kulitnya memerah di beberapa bagian, bibirnya terbuka mencari napas, dan matanya masih memejam sambil menahan setiap dorongan. Pesona itu membuat Kian semakin tenggelam.
"Kau pintar menjaga tubuhmu," ucapnya sambil menekan pinggul Miko dengan kedua tangannya agar lebih mendalam, gerakannya semakin cepat. "Selalu rawat dirimu dengan baik, sayang. Jangan sampai ada yang menyentuhmu selain aku."
Setiap kata diucapkannya dengan penuh otoritas, seolah mengklaim Miko sebagai miliknya. Tubuh mereka bergerak seirama, sementara suara des4han dan desingan napas memenuhi ruangan. Kian terus menatapnya, menikmati setiap inci ekspresi yang muncul dari wajah cantik itu.
“Tuan, sakit sekali!” rintih Miko dengan suara bergetar, air mata mengalir membasahi pipinya. Rasa nyeri yang menusuk membuat tubuhnya tegang, tapi ia tak punya kekuatan untuk melawan.
Kian menatap wajah Miko yang berlinang air mata. justru membangkitkan gair4hnya. Dengan suara rendah dan penuh otoritas, ia berujar, “Menjerit saja kalau sakit! Tidak lama kemudian, kamu akan merasakan nikmat.”
Tanpa memberi kesempatan bagi Miko untuk menenangkan diri, Kian terus menggerakkan pinggulnya dengan ritme yang semakin cepat dan dalam. Setiap dorongan membuat tubuh Miko terguncang di bawahnya. Gadis itu memejamkan mata erat-erat, berusaha menahan rasa sakit yang semakin menjadi, namun setiap gesekan dari tubuh Kian menciptakan sensasi asing yang perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Suara desah4n Kian semakin berat, napasnya memburu. Ia memejamkan matanya, merasakan betapa goa sempit milik Miko menjepit erat senjatanya. Sensasi itu membuatnya tak bisa berhenti. Kepuasannya memuncak begitu cepat, tapi ia tak ingin malam ini berakhir begitu saja. Ia membungkuk, mencium leher Miko, membiarkan napas panasnya menyapu kulit halus gadis itu.
“Begini seharusnya,” gumamnya, setengah berbicara pada dirinya sendiri. Pinggulnya kembali bergerak, lebih cepat dan lebih kasar dari sebelumnya.
Miko hanya bisa pasrah. Tubuhnya lelah, tapi ia tahu perlawanan sia-sia. Di kepalanya hanya ada satu hal: semua ini harus dilakukannya demi kariernya. Jeritannya memenuhi ruangan setiap kali Kian menekan lebih dalam, membuat tempat tidur berderit seirama dengan gerakan tubuh mereka.
“Aaahhh!” Jeritan kesakitan keluar dari bibir Miko lagi, tapi kali ini bercampur dengan rasa asing yang mulai merambat di dalam dirinya. Tubuhnya mulai bereaksi meski ia tak sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi.
Kian, sementara itu, tak bisa lagi menahan dirinya. Dengan satu dorongan kuat, tubuhnya menegang, dan ia mencapai puncak kenikmatan. Sensasi luar biasa itu membanjiri seluruh tubuhnya, seolah membakar setiap syaraf yang ada. Tapi ia belum puas. Senjatanya yang masih menegang berdenyut, menuntut lebih.
“Goa sempitmu sungguh memuaskan,” bisiknya serak di telinga Miko. Ia mencengkeram pinggang gadis itu, menarik tubuhnya lebih dekat, lalu kembali menggerakkan pinggulnya. Gerakannya lebih liar, seakan tak pernah kenyang.
Miko mengerang lemah. Tubuhnya sudah tak mampu lagi mengikuti ritme Kian. Rasa sakit masih menyelimuti dirinya, namun di sela-sela itu ada kehangatan yang menjalari perutnya. Napasnya tersengal-sengal, sementara jeritan terlepas setiap kali Kian mendorong lebih kuat.
Kian tersenyum puas, matanya berkilat menikmati setiap ekspresi yang muncul di wajah cantik gadis itu. Gerakannya tak berhenti hingga ia kembali mencapai puncak berulang kali. Keringat membasahi tubuhnya, tapi h4sratnya belum juga mereda.
Miko, di sisi lain, tak lagi sadar. Tubuhnya yang lemah terkulai di kasur, tak berdaya setelah kelelahan yang luar biasa. Pandangan matanya kabur sebelum akhirnya ia benar-benar jatuh pingsan.
Kian memandang Miko yang terbaring diam, napasnya masih memburu. Dengan puas, ia menyeka keringat di dahinya, lalu tersenyum kecil. “Tidurlah. Malam ini baru permulaan.”
Kian berbaring di sisi Miko, memandang langit-langit kamar dengan rasa puas yang membuncah. Bagi Kian, malam ini adalah malam yang sempurna, dan ia tahu, gadis itu telah memuaskannya.
Kian akhirnya tertidur setelah kelelahan semalam. Des4han napasnya terdengar teratur, menunjukkan betapa nyenyaknya ia beristirahat. Namun, pagi datang dengan cepat. Sinar matahari mulai merambat masuk melalui celah jendela, menyinari ruangan yang masih dipenuhi keheningan.
Kian membuka matanya perlahan, tubuhnya terasa lebih segar. Ia bangkit dari tempat tidur dengan malas, membiarkan seprai kusut itu jatuh dari pinggangnya. Tatapannya tertuju pada ponselnya yang tergeletak di atas meja kecil di samping ranjang. Rasa bersalah sempat menyelinap di hatinya, mengingat sosok wanita yang menunggunya di rumah—Ashley, istrinya. Dengan cepat, ia mengambil ponsel dan menekan nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala.
“Halo!” sahut suara Ashley dari seberang sana.
Kian tersenyum kecil mendengar suara istrinya, meskipun nada dingin yang menyertainya tak bisa ia abaikan. “Honey, selamat pagi,” ucapnya dengan suara yang dibuat semanis mungkin.
“Di sini sudah menjelang sore,” jawab Ashley tajam.
Kian mengusap wajahnya, menyadari kesalahannya. “Iya, aku lupa,” katanya dengan nada canggung. Ia kemudian berusaha mencairkan suasana. “Bagaimana denganmu? Aku akan pulang dua hari lagi.”
Ashley terdiam sejenak di seberang sana, lalu dengan suara yang sengaja dibuat datar, ia berkata, “Apa kau bisa pulang sekarang? Aku ada di rumah sakit.”
Kian langsung menegakkan tubuhnya, matanya melebar. “Honey, apakah kamu sedang sakit?” tanyanya panik. Hatinya dipenuhi kekhawatiran, meskipun ia tak bisa sepenuhnya lepas dari kebingungan yang menyelimuti pikirannya.
Ashley mendes4h pelan, sengaja membiarkan suaminya gelisah. “Apa kamu bisa pulang dulu? Aku bosan berada di rumah sakit,” ujarnya, suaranya terdengar seperti ujian tersembunyi.
“Aku akan pulang besok,” jawab Kian cepat. Bagaimanapun, ia masih memiliki urusan yang belum selesai di kota ini.
Suasana di seberang telepon mendadak berubah dingin. “Tidak bisa! Kau harus berangkat sekarang juga!” bentak Ashley, suaranya penuh tuntutan sebelum akhirnya memutus panggilan tanpa memberi kesempatan bagi Kian untuk menjawab.
“Honey? Honey!” panggil Kian panik, memandangi layar ponsel yang sudah gelap. Ia mendesah panjang, membuang napasnya dengan kasar. “Kenapa sifatnya tiba-tiba berubah?” gumamnya dengan heran. Ada sesuatu yang tak beres, dan itu membuatnya gelisah.
Namun, lamunannya segera terhenti ketika suara gerakan halus dari ranjang menarik perhatiannya. Kian menoleh dan menemukan Miko yang baru saja terbangun. Mata gadis itu membulat ketika ia menyadari kedua tangannya diikat ke besi ranjang. Tubuhnya yang masih polos bergetar samar di bawah tatapan Kian.
"Tuan!"
Kian berdiri di sisi ranjang, menatap tubuh telanjang Miko dengan sorot mata tajam. Bibirnya melengkung membentuk senyuman samar—senyuman yang sulit diartikan. Dalam benaknya, perintah Ashley tadi bergema, memerintahnya untuk segera pulang. Namun di hadapannya, ada sosok Miko, gadis cantik yang tubuhnya seakan memanggil kembali gair4h yang semalam belum sepenuhnya padam.