Kian Kembali

1204 Kata
“Tuan, kenapa mengikat kedua tanganku?” tanya Miko dengan nada takut. Kian menyeringai tipis, wajahnya terlihat puas. “Aku suka bermain dengan cara yang berbeda. Sebelum aku berangkat, aku masih ingin menikmati tubuhmu.” Tanpa menunggu jawaban, Kian naik ke atas tubuh gadis itu, tatapannya penuh keinginan. “Tapi, Tuan… aku kesakitan,” lirih Miko, matanya mulai berkaca-kaca. Kian menatapnya dalam-dalam sambil tersenyum. “Miko, setelah ini kau akan menjadi model terkenal. Aku akan promosikan namamu melalui perusahaanku. Selagi layananmu bagus, kau akan tetap di puncak. Bahkan model lama pun tak akan bisa mengalahkanmu.” Miko hanya bisa menggigit bibirnya menahan rasa sakit ketika Kian mulai bertindak. Tangis kecilnya berbaur dengan suara napas Kian yang semakin berat. Kian tak peduli dengan keluhannya, pikirannya hanya tertuju pada kenikmatan yang dirasakan. Gerakannya semakin cepat dan intens, membuat suasana kamar dipenuhi suara kasur yang berderit. “Setiap kali aku kembali ke Jepang, kau harus datang untuk memuaskanku,” ujar Kian dengan suara dalam dan dingin, tatapannya tajam menusuk. “Tetap rawat tubuhmu. Aku akan kirim uang untuk semua perawatan itu. Jangan sekali-kali mengecewakanku.” “I-iya…” jawab Miko lemah, suaranya nyaris tak terdengar. Kian memejamkan matanya, menikmati momen itu hingga mencapai puncaknya. Namun, tampaknya ia belum puas. Dengan kasar, ia membalik tubuh Miko untuk mencoba posisi lain, gerakannya semakin tak terkendali. Miko hanya bisa menggigit bibir, menerima semua yang terjadi dalam diam. Dua jam kemudian, tubuh Miko terkulai lemas di atas ranjang mewah itu. Nafasnya tersengal-sengal, wajahnya pucat karena kelelahan yang tak tertahankan. Pada akhirnya, ia benar-benar tak sadarkan diri. Namun, Kian masih saja melanjutkan aksinya tanpa henti. Pria itu menatap wajah Miko yang terlelap, bibirnya melengkung membentuk senyuman puas. Matanya menjelajahi setiap garis wajah gadis itu, seakan-akan tengah mengagumi sebuah karya seni yang memuaskan hasr4tnya. “Wajah yang cantik dan tubuh yang luar biasa…” gumamnya lirih, suaranya terdengar penuh ketertarikan dan obsesi. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Miko, jemarinya menyusuri lekukan pipi gadis itu dengan lembut, kontras dengan apa yang ia lakukan beberapa saat sebelumnya. “Aku tidak akan melupakanmu.” Kian menyeringai, sementara tubuhnya masih bergerak dengan ritme cepat yang tak kenal ampun. “Sepertinya aku harus sering melakukannya denganmu. Agar adikku bisa selalu puas,” lanjutnya pelan, suaranya sarat dengan nada posesif. Gerakan Kian semakin liar, suara kasur berdecit terdengar memenuhi ruangan itu. Wajahnya memancarkan kepuasan yang begitu kentara, seolah Miko hanyalah objek kesenangan belaka baginya. Rasa lelah tak terlihat sedikit pun di wajah pria itu. Justru, ia seperti menemukan kesenangan baru yang tak ingin segera ia akhiri. Setelah beberapa saat, Kian akhirnya memperlambat gerakannya. Ia menarik napas panjang, memejamkan matanya sambil tersenyum puas. Pandangannya kembali tertuju pada tubuh Miko yang kini tak bergerak sedikit pun. “Kau sangat hebat, Walau aku sudah menikah. Tapi kau akan tetap menjadi simpananku. Karena tubuhmu lebih memuaskan aku dari pada tubuh wanita lain," ucap Kian. Mansion Hernandez Ashley duduk diam di ruang tamu megah itu, kedua tangannya mengepal kuat di atas pahanya. Sorot matanya tajam, penuh kemarahan yang berusaha ia tahan. Di atas meja kaca di hadapannya, lembaran-lembaran foto berserakan, foto-foto Kian Hernandez bersama beberapa wanita. Napas Ashley tersengal pelan, seperti berjuang menahan amarah yang meledak di dadanya. "Kian Hernandez, pria b******n sepertimu… apakah pantas aku maafkan? Bayi ini harus bagaimana? Kenapa harus di saat seperti ini kau hadir dalam hidupku?" bisiknya lirih, hampir tak terdengar, tapi penuh luka yang mendalam. Tangannya bergerak mengelus perutnya yang belum membesar, seolah mencoba mencari kekuatan dari dalam dirinya sendiri. Tiba-tiba, dering ponsel memecah kesunyian di ruangan itu. Ashley menoleh cepat, meraih ponsel yang tergeletak di samping tumpukan foto. Ia menarik napas panjang sebelum menjawab, suaranya terdengar dingin. “Hallo,” sapanya singkat. “Nona, Tuan Hernandez… dia sedang bersenang-senang dengan Miko. Model yang baru dikenal di Jepang,” ujar suara seorang pria dari seberang telepon. Ashley memejamkan mata sesaat, rahangnya mengeras. Ia berusaha mengatur emosinya agar tak meledak begitu saja. “Bersenang-senang? Apakah mereka bersama semalaman?” tanyanya, nada suaranya bergetar menahan amarah. “Iya, Nona. Tuan Hernandez bermalam dengan wanita itu, bahkan pagi ini mereka masih melakukannya,” balas pria itu dengan hati-hati. Ashley membuka matanya, tatapannya kosong namun penuh dendam. “Miko… apakah dia model di perusahaan Kian?” tanyanya lagi, memastikan. “Benar, Nyonya,” jawab pria itu singkat, seolah enggan menambah panjang percakapan yang memicu kemarahan. Ashley terdiam sejenak, mengatur napasnya yang mulai memburu. Namun, kemarahan itu tak bisa lagi ia redam. “Demi karier, dia rela melakukan hal yang memalukan…” gumamnya dengan nada sarkastis. “Lakukan sesuatu untukku. Pastikan ini berakhir, dan setelah itu, jangan sampai Kian mengenalmu atau tahu kau yang bertindak!” perintahnya dengan tegas sebelum memutuskan panggilan. Ponsel Ashley tergeletak kembali di sofa, sementara ia menyandarkan punggungnya. Sorot matanya kini tajam, dipenuhi kebencian yang tak tertahankan. “Kian Hernandez, luar biasa…” gumamnya sinis. “Kau sudah cukup puas bersenang-senang dengan wanita-wanita yang selama ini menjadi teman ranjangmu, dan kini di Jepang, kau malah memilih Miko. Model cantik yang baru kau kenal.” Suaranya bergetar di akhir kalimat, menandakan luka yang ia rasakan tak sekadar amarah biasa. Ashley menunduk, air mata tipis jatuh di pipinya. Namun, dalam sekejap ia menghapusnya. Tatapannya kembali tegas, seolah sudah membuat keputusan. “Aku tak akan membiarkan ini berlalu begitu saja, Kian. Kau akan menyesali semua yang telah kau lakukan.” Ruangan itu kembali sunyi, hanya suara detak jam dinding yang terdengar pelan—menjadi saksi bisu dari amarah yang siap meledak kapan saja. Setelah menempuh penerbangan selama sepuluh jam, Kian akhirnya tiba di rumahnya. Langkahnya terasa ringan, dan wajahnya menunjukkan kelelahan yang bercampur dengan kegembiraan karena akan bertemu istrinya. Namun, saat ia melangkah masuk ke dalam ruang tamu, langkahnya terhenti seketika. Di sana, Ashley duduk di sofa dengan tubuh tegak dan pandangan tajam tertuju padanya. Aura dingin yang memancar dari wanita itu langsung menyusup ke dalam suasana ruangan. Kian terkejut melihat keberadaan istrinya yang seharusnya berada di rumah sakit. “Honey, kenapa kau ada di sini? Bukankah seharusnya kau masih di rumah sakit?” tanya Kian sambil berjalan cepat menghampiri Ashley. Ekspresi bingung namun khawatir terlukis jelas di wajahnya. Ashley menatap suaminya dengan tatapan menusuk yang sulit ditebak. Setelah beberapa saat terdiam, ia membuka mulutnya dengan suara rendah namun tegas, “Aku hamil.” Kian terdiam sejenak, matanya melebar seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Hamil?” ucapnya dengan nada semangat, matanya mulai berbinar seketika. Namun, raut wajah Ashley yang tak menunjukkan kebahagiaan membuatnya merasa ada sesuatu yang salah. “Tapi…” lanjut Ashley, suaranya bergetar, “…aku sedih dan terluka, sehingga aku tidak bisa merasa bahagia dengan kehamilanku ini.” Wajah Kian langsung berubah. “Honey, apa maksudmu? Apakah karena aku di Jepang? Sehingga kamu merasa kesepian? Aku berjanji, mulai sekarang aku akan selalu ada di sisimu. Jangan khawatir, aku di sini sekarang,” ujar Kian dengan penuh penyesalan, berusaha mendekatkan dirinya ke arah istrinya. Namun, sebelum Kian bisa lebih dekat, Ashley tiba-tiba meraih tumpukan foto yang terletak di atas meja. Dengan gerakan cepat dan penuh emosi, ia melemparkan foto-foto itu ke arah suaminya. Lembaran foto itu berhamburan di lantai, satu per satu menampilkan gambar yang mengejutkan. Kian menunduk, wajahnya membeku ketika melihat foto-foto itu—foto dirinya bersama beberapa wanita yang berada di depan hotel
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN