*Happy Reading* Setelah dokter menyelesaikan pemeriksaannya. Papa kembali masuk bersama istrinya. Namun, kali ini tanpa Pak Vino. Entahlah, mungkin pria itu sedang ada urusan, atau sudah diusir oleh papa. Aku tidak tahu. "Bagaimana perasaan kamu? Lebih baik?" Papa duduk di dekat tempat tidurku. Sementara istrinya seperti memberi waktu untuk kami berdua untuk bicara, dengan mengambil duduk di sofa yang tak jauh dari pintu. Papa menggenggam tanganku erat dan mengusap kepalaku dengan lembut. Binar matanya memancarkan kasih sayang yang sama seperti dulu. Membuat kerinduanku semakin menjadi. Aku ingin mengangguk sebagai jawaban. Namun, terkendala oleh penyangga leher yang masih harus aku kenakan. Rasanya benar-benar tidak nyaman. "Meski masih ngilu, tapi lebih baik dari pas awal siuman.

