Bab 7. Balas budi menyesakkan

1236 Kata
“Beberapa tahun lalu, suamimu hampir saja bangkrut dan saya adalah satu-satunya yang menggelontorkan dana sangat fantastis demi perusahaan yang sudah dibangunnya agar tetap berjalan. Namanya di dunia tidak ada yang gratis, jadi waktu itu saya meminta imbalan yang sebenarnya sangat sederhana, sayang sekali suamimu menolaknya mentah-mentah bahkan berencana menganggap bantuan yang sudah diberikan adalah hutang,” jawab Aminoto penuh dendam. “Jangan bertele-tele! Cepat sebutkan apa imbalan itu!” pekik Andrew geram. “Saya meminta untuk menceraikan istrinya supaya bisa menikah denganku dan nantinya bantuan yang sudah saya berikan akan dianggap lunas,” jawab Aminoto membuat semua orang yang mendengarnya sangat terkejut. “Sayang sekali suamimu menolaknya dengan keras bahkan makian tersebut membuat sakit hati, akhirnya saya memang berusaha untuk menghabisi nyawanya dengan cara perlahan. Agar dia merasakan bagaimana kesakitan setiap obat demi obat yang diminumnya!” ucap Aminoto tersenyum smirk kepada Angela yang membuat langsung bergidik ngeri. “Dasar tidak waras! Sampai kapan pun saya juga tidak mau menikah denganmu!” tolak Angela semakin membuat amarah dalam diri Aminoto membesar. “Wanita biasa sepertimu seharusnya bersyukur dipersunting oleh suami kaya raya seperti temanku! Bahkan sebentar lagi juga akan menjadi istriku. Aku yakin, sebentar lagi kamu akan ditinggalkan suamimu untuk selama-lamanya. Tapi tidak perlu risau karena setelah ini hidupmu tidak akan susah bahkan malah bergelimang harta, bukankah semua wanita menyukai harta dan tahta? Jangan munafik!” bentak Aminoto. “Sayangnya, saya bukan salah satu wanita yang kamu sebutkan itu! Maaf! Kesabaran saya sudah habis, kekecewaan yang ada di dalam hati sangat besar sehingga saat ini menatapmu saja enggan rasanya!! Masih ada hal yang ingin saya tanyakan, mengapa menyuruh bibi untuk melakukan semua ini?” tanya Angela. “Karena pembantumu itu terobsesi denganku, jadi bisa dikatakan, saya memanfaatkan situasi itu untuk melancarkan rencanaku tanpa perlu kedua tangan ini mengotorinya,” jawab Amintoto dengan percaya dirinya membuat Bibi yang mendengar langsung seketika murka. “B4ngs4t! Dasar pria tidak tau diri! Ternyata selama ini hanya memanfaatkanku saja! Menyesal rasanya bertahun-tahun membantumu! Aku membencimu, Aminoto! Kamu beraninya mempermainkan perasaanku seperti ini,” pekik Bibi dengan wajah penuh amarah. “Salah sendiri jadi perempuan mudah sekali tergoda!” hina Aminoto semakin membuat sakit hati dan juga malu. Tidak berselang lama, ada polisi datang untuk menangkap mereka berdua. Bibi yang mengetahui berusaha memberontak karena tidak terima jika masuk penjara. Berbeda dengan Aminoto yang terlihat tenang. “Masuk penjara bukan masalah yang besar bagiku! Aku memiliki kuasa untuk segera keluar, tunggu saja!” ucap Aminoto sebelum dibawa ke kantor polisi dengan kedua tangan yang diborgol. “Tuan, Nona, tolong Bibi. Di sini justru saya yang menjadi korban rayuan mautnya! Saya di janjikan jika berhasil menghabisi Tuan, saya akan di nikahi. Tolong bebaskan saya, setelah ini saya berjanji akan mengabdi dengan keluarga anda sepenuh hati bahkan tidak dibayar bukan menjadi masalah,” pinta Bibi berusaha menolak dan memberontak ketika dibawa. “Silakan minta pengampunan di penjara saja, saya bukan Tuhan yang maha pemaaf! Kejahatan yang anda dan Aminoto lakukan sangat kejam bahkan hewan saja masih memiliki naluri untuk berbuat jahat!” sindir Angela setelah itu masuk rumah dan membiarkan pembantunya terus berteriak tidak jelas sampai akhirnya mobil polisi sudah menghilang dari rumahnya. Sandra yang tengah syok dengan kondisi semua yang baru saja terkuak hanya bisa menangis dan menangis sembari meratapi nasib rumah tangganya yang sangat malang akibat keserakahan satu orang. “Obsesi Aminoto memang sangat mengerikan, rumah tanggaku sampai seperti ini karena dia! Tidak adil rasanya jika hanya di hukum beberapa tahun,” ucap Angela sembari mengepalkan tangan. “Mamah maunya bagaimana? Biar kepolisian yang memprosesnya,” tanya Sandra. “Hukum dia seumur hidup, pastikan di dalam bui mendapat siksaan yang membuatnya sampai gila!” jawab Angela dengan sangat dendam. “Itu keterlaluan, Mah,” tegur Sandra. “Lebih keterlaluan mana dengan yang selama ini dilakukannya kepada kami terutama Papah, jika sampai sekarang belum juga ketahuan, bisa saja nyawa Papah benar-benar hilang,” pekik Angela membuat Sandra bungkam. “Mamah tenang saja, akan saya pastikan hukuman untuk mereka berdua setimpal,” ucap Andrew disetujui oleh Angela. “Mamah percaya kepadamu. Terima kasih sudah membuka semua ini dengan terang. Kamu penyelamat keluarga ini,” puji Angela terharu dan Andrew hanya tersenyum saja, sedangkan istrinya memalingkan muka karena merasa jika saat ini suaminya tengah besar kepala. “Merasa jadi pahlawan kesiangan!” batin Sandra kesal. Setelah itu, Andrew serta Sandra pamit ke kamar untuk istirahat begitu juga dengan Angela yang ingin melihat kondisi suaminya. **** Di dalam kamar, Andrew terus menatap istrinya dengan sangat lekat sehingga membuatnya tidak nyaman. “Ngapain liat-liat begitu? Jangan m***m ya!” nada bicara Sandra sangat ketus. “Saya tidak nafsu denganmu!” jawab Andrew membuat istrinya sangat kaget hingga membuka mata lebar-lebar. “Aku juga gak nafsu dengan pria penuh percaya diri sepertimu!” protes Sandra. “Percaya diri itu baik, beda dengan malu-maluin!” ucap Andrew. “Apaan sih! Aku mengantuk mau tidur dulu,” ucap Sandra hendak rebahan, tiba-tiba suami menindihnya sehingga membuat refleks berteriak. “Aaa, minggir, gak!” pekik Sandra histeris. “Diam, atau nanti bawahku akan menerobos milikmu!” gertak Andrew. “Minggir atau aku tendang!” ancam Sandra. “Silakan kalau bisa, aku ini mau menyampaikan sesuatu!” tantang Andrew. “Cepat bilang, tapi posisinya gak gini juga,” protes Sandra. “Kenapa gak mengucapkan terima kasih kepadaku?” tanya Andrew membuat istrinya mengernyitkan dahi. “Untuk apa?” tanya Sandra bingung. “Karena sudah membuka kebenaran yang tersimpan rapi selama bertahun-tahun, kalau bukan karena aku, siapa lagi?” jawab Andrew begitu sombongnya. “Ish!! Kalau gak ikhlas nolongin jangan sok jadi pahlawan kesiangan,” protes Sandra. “Cepat ucapkan terima kasih atau,” Suara Andrew menggantung sehingga membuat istrinya menunggu hingga selesai. Setelah ditunggu, suaminya tidak juga mengatakan. “Atau apa? Bicara yang jelas,” protes Sandra kesal. “Atau kamu harus membayarnya saat ini juga,” jawab Andrew tersenyum penuh arti. “Dengan apa?” tanya Sandra memastikan, tapi bagi Andrew ucapan istrinya sangat menantang. “Sepertinya, kamu memang sengaja menggodaku,” jawab Andrew lalu kembali menindih istrinya dan menjelajahi leher putih Sandra sehingga membuat sekujur tubuh terasa merinding, apalagi deru nafas suaminya sangat membangkitkan gairahnya. “Stop! Jangan lakukan ini!” protes Sandra berusaha menghentikan. “Jangan halangi atau aku akan semakin buas!” ancam Andrew. “Ta-tapi kita sudah terikat perjanjian,” Sandra berusaha mengingatkan. “b*****h dengan perjanjian! Semua harus ada harganya, ingat kata Aminoto, jika di dunia ini tidak ada yang gratis,” Andrew membuat Sandra tidak bisa menghentikan nafsu yang tengah menguasai suaminya. “Tolong jangan,” pinta Sandra terus memohon dan memberontak namun tenaganya kalah dengan suaminya. Suara kesakitan Sandra menjadi penanda, jika saat ini, kehormatan yang berusaha di jaga dengan sangat baik, harus terenggut begitu saja demi sebuah rasa balas budi. Setelah selesai melampiaskan hasrat, senyum mengembang tersungging di bibir suaminya sembari mengucapkan. “Setelah ini, aku akan selalu teringat dengan ucapan Aminoto, jika di dunia ini tidak ada yang gratis. Apalagi, saya juga sudah memberikan banyak sekali kepadamu serta keluargamu,” “Dasar b******k! Menyesal aku menerima pernikahan ini! Pertolonganmu ternyata tidaklah tulus! Yang kau dapatkan sangat lebih dari apa yang kamu berikan! Mahkotaku berada dalam genggamanmu!” pekik Sandra berlinang air mata. “Setidaknya, suamimu yang sudah merenggutnya, bukan pria lain,” jawab Andrew lalu meninggalkan kiss mark di leher istrinya sebelum ke kamar mandi. “Sialan! Akan aku pastikan, kamu bertekuk lutut dan bucin padaku!” umpat Sandra di dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN