“Bangun, dasar malas!” ucap Andrew membangunkan istrinya dengan terus menggoyangkan tubuh tiada henti.
“Apa kamu bilang?” tanya Sandra memastikan sembari mengumpulkan nyawa dan tenaganya.
“Pemalas! Jam segini, harusnya sudah rapi dan semua keperluan suami tersedia,” ucap Andrew ketus.
“Maaf, aku bukan pembantu,” jawab Sandra dengan tenangnya.
“Tapi aku suamimu! Sudah menjadi tugasmu sebagai istri untuk melayani suami,” tegur Andrew.
“Saya rasa, semalam sudah sangat cukup sebagai bentuk aku melayanimu!” jawab Sandra ketus. Dirinya ingin ke kamar mandi, tapi, langkahnya terasa berat sekali, karena bagian bawahnya sangat sakit. “Aww,” rinithnya tapi tetap berusaha untuk terus berjalan perlahan.
“Nanti juga terbiasa,” ucap Andrew tidak memiliki empati sama sekali.
Tatapan tajam penuh amarah dilayangkan istrinya sembari berucap, “Perjanjian yang sudah ada, semudah itu kau langgar! Aku menyesal sudah sempat berpikir jika kamu ini orang baik!”
“Sudah aku katakan, mahkota jika yang mengambil suaminya itu sebuah kewajaran. Kenapa mempermasalahkan sih, oh, atau kamu mau lagi?” ucap Andrew mendapat tamparan cukup keras di pipinya.
“Beraninya!” Pekik Andrew murka.
“Dan kau juga beraninya menganggap kehormatanku sesuatu yang tiada harganya! Aku juga sakit mendengar jawabanmu, bahkan, balasan yang aku berikan tadi tidak ada seberapa!” pekik Sandra.
“Sudah kewajiban seorang suami merenggut mahkota istrinya, jangan berlebihan!” tegur Andrew.
“Sepertinya ada yang ingin mendapatkan tamparan untuk kedua kalinya,” sindir Sandra.
“Sudah, sana mandi dan siapkan keperluanku! Malas sekali pagi-pagi harus berdebat,” perintah Andrew langsung membopong istrinya ke kamar mandi meskipun terus memberontak.
Setelah selesai mandi dan menyiapkan keperluan suaminya, seperti jas kantor, dasi, kaos kaki dan juga tas. Kini, mereka turun bersama menuju ruang makan, yang di mana, sudah ditunggu oleh Angela.
“Selamat pagi, Mah,” sapa Sandra dengan senyum ramah dan mencium pipi Angela.
“Pagi, sayang, tadi mamah mau memanggilmu di kamar, tapi kalian sudah keburu turun dulu,” sapa balik Angela terlihat matanya masih bengkak.
“Mamah semalam menangis ya?” tebak Sandra.
“Mustahil jika baik-baik saja setelah mengetahui semua ini,” jawab Angela membuat Sandra bungkam sembari melirik suaminya yang bersikap acuh kepadanya.
“Yang terpenting semuanya sudah terkuak, tinggal bagaimana hukuman bagi mereka berjalan,” ucap Andrew disetujui oleh mertuanya.
“Dokter juga nanti akan ke sini untuk memberitahu hasil obat yang selama ini dikonsumsi dan mengganti dengan yang semestinya,” ucap Angela membuat Sandra dan Andrew tidak sabar menanti kedatangan dokter keluarga mereka.
Tidak berselang lama, dokter sudah tiba, mereka sepakat untuk sarapan terlebih dahulu sebelum akhirnya membahas masalah yang terjadi. Tidak bisa dipungkiri, suasana canggung sangat terlihat ketika mereka berada di satu meja yang sama, terlebih, kehadiran dokter keluarga ingin memberitahu yang sebenarnya. Sudah pasti, mereka tengah menahan kesabaran serta penasarannya demi sebuah adab ketika tengah makan.
Setelah selesai makan, dokter segera mengeluarkan obat palsu yang sempat diberikan Aminoto beserta laporan hasil laboratorium.
“Maaf, jika di pagi hari ini, saya harus menyampaikan berita kurang mengenakan, namun semua ini demi sebuah kebaikan dan kesembuhan seseorang yang di mana pasien saya. Menurut hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan, obat ini sekilas mirip antibiotic dan aman jika diminum, yang menjadi permasalahan ialah, sudah ada racikan racun di dalamnya yang membuat system kekebalan tubuh pasien menurun serta inflamasi atau peradangan yang sudah sangat kronis karena sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Dampak jangka panjang, dari berbagai kondisi serius yang menyebabkan perubahan besar pada jaringan, organ, maupun sel tubuh. Fungsi hati serta ginjal pasien juga terancam karena racun yang ada di obat ini dosisnya sangat tinggi,” Dokter menjelaskan dengan tenang, tapi Sandra serta Angela yang mendengarkannya menangis histeris, mereka tidak menyangka jika pembantu serta Aminoto akan berbuat jahat seperti ini.
“Lalu, apa yang harus dilakukan, Dok?” tanya Angela dengan sesenggukan.
“Hasil laboratorium ini akan saya laporkan pada pihak berwajib, agar nantinya menjadi bukti kuat, selain itu juga, saya sudah membawakan obat yang nanti akan dilihat selama satu minggu ke depan. Jika kondisi pasien belum mengalami perubahan, maka terpaksa dilakukan cuci darah,” jawab dokter semakin membuat Angela menangis bahkan rasanya tidak bertenaga.
“Apa tidak ada tindakan lain? Suami saya sudah sangat kesakitan,” tanya Angela memastikan.
“Sejauh ini, cuci darah adalah langkah paling aman yang bisa dilakukan sembari menunggu perkembangan pasien,” jawab dokter yang membuat semuanya hanya bisa pasrah.
Setelah menjelaskan semuanya, kini, dokter berpamitan pulang karena harus bekerja di rumah sakit.
Angela yang tidak kuasa mendengar semua ini membuat nafsu makannya hilang, lalu memilih ke kamar menemani suaminya. Tinggal Andrew serta Sandra yang berada di meja makan.
“Semua akan baik-baik saja,” ucap Andrew seolah tau dengan isi pikiran istrinya.
“Mudah bagimu mengatakan itu, merenggut mahkotaku saja kau anggap biasa!” sindir Sandra sangat ketus, terlebih, mengingat bagaimana mahkotanya direnggut dengan begitu mudahnya dan setelah mendapatkan, seolah tidak ada apa-apa.
“Untuk kali ini aku akan pastikan, ayahmu sembuh meskipun harus berobat ke luar negeri sekalipun. Saat ini, bukan hanya kamu saja yang menjadi tanggung jawabku, melainkan kedua orang tuamu juga dan aku akan berusaha mengembalikan perusahaan kembali sukses,” jawab Andrew serius bahkan tatapan mata kepada sang istri sangat dalam.
“Tidak perlu seperti itu, pasti imbalan yang akan kamu minta, jauh lebih besar,” tolak Sandra tidak mau berbangga diri dan merasa tersanjung dengan ucapan suaminya, meskipun terdengar memang sungguhan.
“Mudah saja syaratnya,” ucap Andrew membuat istrinya penasaran.
“Apa?” tanya Sandra ketus, untung saja dirinya tidak terbuai oleh ucapan suaminya dan memilih untuk segera menepis, jika terbuai, apa rasanya tidak seperti setelah terbang langsung terhempas?
“Layani aku, sebagaimana menjadi suamimu dan cintai aku,” jawab Andrew penuh percaya diri.
“Sepertinya permintaanmu terlalu berlebihan,” protes Sandra.
“Itu syarat yang mudah, bahkan di luar sana banyak wanita yang sangat senang jika mendengar permintaanku tadi,” ucap Andrew meredam emosinya dengan angkuh.
“Oh, jadi, dulunya pengemis cinta? Meminta para wanita untuk mencintaimu? Menyedihkan!” ejek Sandra justru membuat Andrew seperti kehilangan harga diri lantaran istrinya salah sangka.
“Bukan begitu! Jika wanita lain yang menjadi istriku dan mendengar permintaan sederhana tadi, sudah pasti akan setuju tanpa perlu pikir panjang, bukankah suami istri seharusnya begitu?” ucap Andrew tidak mau kalah.
“Sayangnya, kita bukan suami istri sungguhan! Jangan samakan dengan pasangan normal lainnya.” jawab Sandra tidak suka jika diminta sama dengan orang lain.
“Kamu pikir kita apa? Abnormal?” tanya Andrew tersinggung.
“Siapa yang mengatakan seperti itu, berarti kamu sendiri yang merasa,” jawab Sandra geli.
“Kamu, berani-beraninya mempermainkanku!” gertak Andrew terlalu tersinggung.
“Salah sendiri, beraninya meminta-minta dariku! Jalani sesuai kesepakatan awal, jangan malah makin kesana-sana!” protes Sandra.
“Rasa cinta akan datang ketika sering bersama, jika itu terjadi, aku harap, kamu adalah orang yang lebih dulu mencintaiku. Supaya ucapan-ucapanmu barusan bisa kamu tarik dan membuatmu menyesal,” ucap Andrew hanya dibalas senyuman tipis oleh istrinya.
“Sebelum itu terjadi, akan aku pastikan kamu yang lebih dulu mencintaiku,” batin Sandra menatap suaminya tajam.