“Tabunganku sudah terkuras untuk biaya pengobatan suamiku, meskipun sudah ada kemajuan, tapi, jika begini terus, bagaimana nanti melanjutkan hidup? Tidak mungkin merepotkan Sandra,” gumam Angela ketika berada di kamar sembari mengecek saldo rekeningnya di ponsel.
Kebetulan, Sandra ingin menjenguk ayahnya, tidak sengaja mendengar keluhan yang membuat hatinya menjadi sedih. “Aku harus bekerja, tidak mau jika hanya bergantung pada Andrew,” batinnya setelah itu mengurung niat untuk menemui ayahnya dan berlalu ke kamar.
Di sana, ia membuat banyak sekali surat lamaran pekerjaan yang ditunjukkan ke berbagai perusahaan. Cuaca yang panas, apalagi debu serta polusi yang bebas bertebaran, membuatnya merasa pusing dan kelelahan, sampai akhirnya, bertemu suaminya yang kebetulan lewat.
“Tuan, sepertinya saya melihat istri anda di pinggir jalan,” ucap supir pribadi Andrew memastikan lagi melalui spion mobil.
“Ngapain juga sampai sini?” tanya Andrew lalu membuka kaca mobil untuk memastikan apa yang dikatakan supirnya benar atau tidak. Ternyata, memang benar, istrinya tengah berada di pinggir jalan sembari membawa tas dan memakai kemeja putih, layaknya orang hendak melamar kerja. Andrew segera meminta sopirnya untuk berhenti dan bergegas turun menemui Sandra.
“Ngapain di pinggir jalan seperti ini?” tanya Andrew sembari melepas kacamata hitam yang menambah penampilannya semakin tampan.
“Kamu juga ngapain ada di sini?” tanya balik Sandra terkejut, ketika tiba-tiba suaminya sudah berada di depannya.
“Saya mau meeting, kebetulan, liat kamu jalan di sini. Ngapain? Dan ini apa? Surat lamaran kerja?” Andrew merebut paksa map coklat yang ada di tangan istrinya.
“Jangan lancang!” protes Sandra berusaha merebut namun gagal.
“Apa pemberianku selama ini kurang, sampai membuatmu diam-diam melamar kerja?” tanya Andrew dengan tegas dan merasa tersinggung.
“Aku tidak mau terlalu hutang budi, selagi masih sehat dan mampu bekerja, why not?” jawab Sandra membuat suaminya kesal.
“Pulang! Aku tidak suka kamu bekerja, apa kata orang nantinya?” tolak Andrew merasa marah dengan jawaban Sandra.
“Bodo amat dengan kata orang! Selagi tidak jual diri dan nama baikmu masih terjaga, itu bukan suatu masalah yang besar,” jawab Sandra semakin memancing emosi suaminya.
Tanpa banyak bicara, Andrew menarik paksa istrinya untuk masuk ke mobil dan membuang semua surat lamaran di tempat sampah dengan penuh amarah.
“Apa-apaan sih! Apa yang kamu lakukan itu menyebalkan, tau gak!” pekik Sandra.
“Lebih menyebalkan kamu yang tinggal duduk manis di rumah, menikmati fasilitas yang ada, malah memilih susah!” sindir Andrew membuang muka.
Sandra melayangkan protes karena apa yang dilakukan suaminya, tidak sesuai dengan isi perjanjian yang sudah disepakati, “Kita sudah sepakat untuk tidak ikut campur masalah masing-masing,”
“Perjanjian itu sudah di bakar! Tidak ada lagi seperti itu,” jawab Andrew dengan mudahnya.
“Kenapa tidak diskusi dulu denganku?” protes Sandra tidak terima karena lagi-lagi suaminya bersikap seenaknya sendiri.
“Tidak penting untuk diskusi seperti itu, sekarang, yang kamu lakukan hanyalah patuh terhadap ucapan suami,” perintah Andrew ketus.
“Lebih baik tidak punya suami, ketimbang terkekang seperti ini,” gumam Sandra terdengar jelas.
“Berani sekali mengatakan itu,” ucap Andrew penuh penekanan.
Setibanya di kantor, Andrew tidak pernah melepas genggaman tangan istrinya, yang membuat semua karyawan melihat dengan tatapan iri. Banyak dari mereka yang tidak menduga, jika bosnya bisa bucin seperti itu. Padahal, di kantor, bosnya terkenal sangat dingin, tegas, disiplin, bahkan banyak dari mereka yang tidak pernah melihatnya tersenyum.
Di ruang kerja, Andrew langsung mengunci pintu dan menyimpan kuncinya di saku celana.
“Apa yang membuatmu selalu berani kepadaku?” tanya Andrew memegang dagu istrinya ke atas supaya langsung berhadapan dengannya dengan jarak yang dekat.
“Karena pernikahan yang terjadi bukan atas perasaan, melainkan sebuah perjanjian. Jadi, aku hanya menjalankan apa yang sudah terjadi,” jawab Sandra dengan beraninya.
“Saya tidak suka mendengar itu! Bisa-bisanya seorang nyonya Andrew melamar kerja, apa tidak menjadi bahan candaan orang-orang?” protes Andrew geram.
“Aku bekerja, ingin membantu Mamah, kamu pikir, selama ini aku dan keluargaku punya uang banyak apa? tabungan Mamah sudah menipis untuk berobat Papah. Tidak mungkin aku sebagai anak hanya diam saja! Mikir dong!” protes Sandra seperti memberi tamparan keras bagi Andrew, karena sebagai suami, dirinya sampai lalai terhadap kesehatan orang tua istrinya. Dirinya memang berencana ingin memberikan pengobatan yang terbaik, bahkan jika harus ke luar negeri sekalipun tidak menjadi masalahnya. Namun, sampai saat ini, semua itu masih sebatas angan-angan. Ucapan istrinya kali ini baru kembali menyadarkannya.
“Kenapa tidak bicara denganku?” tanya Andrew ada rasa kecewa.
“Tidak penting!” jawab Sandra balas dendam.
“Sandra! Jangan bercanda! Berapapun biaya pengobatan ayahmu akan saya tanggung, bahkan sampai cuci darah dan berobat ke luar negeri sekalipun,” pekik Andrew kesal karena jawabannya tadi dibalas oleh istrinya.
“Aku tidak mau berhutang budi dan nanti diminta balasannya!” tolak Sandra.
“Jangan memancing emosiku! Mana pernah aku menganggapnya hutang budi? Cukup jadi istri yang baik dan penurut, saya jamin, semua kebutuhan keluargamu tercukupi,” ucap Andrew dengan sangat serius.
“Aku menolaknya!” tolak Sandra terdengar menantang bagi suaminya.
“Itu sama saja kamu membiarkan ayahmu terus merasa kesakitan! Sikapmu tidak jauh berbeda dengan Aminoto dan pembantumu,” ternyata, sindiran Andrew sukses menyentil hati istrinya.
“Jangan samakan aku dengan mereka yang tidak punya hati!” protes Sandra tidak terima.
“Maka dari itu, jika tidak mau, bersikaplah baik terhadapku, jika kamu lakukan secara terpaksa, tidak masalah, yang terpenting, ayahmu sembuh. Bukankah itu tujuan kita menikah?” Andrew mengingatkan kembali bagaimana awal mula mereka sepakat menikah tiba-tiba.
“Kenapa perempuan selalu dilarang untuk memiliki pilihan? Aku juga berhak menentukan hidupku!” Sandra sangat marah, hatinya terasa sesak lantaran sejak kecil, dirinya tidak pernah diberi kebebasan untuk memilih sesuai kata hatinya. Sampai suami pun juga harus pilihan orang tuanya.
“Kamu sudah menentukan hidup dengan setuju menikah denganku, katakan, apa saja kebutuhan ayahmu? biar aku segera urus,” ucap Andrew membuat Sandra semakin kesal.
“Aku mampu mengusahakannya sendiri, terima kasih!” tolak Sandra tetap menjunjung harga dirinya. Merasa kapok dengan suaminya, karena selalu akan ada imbalan yang diminta.
“Jangan keras kepala! Biaya pengobatan ayahmu tidaklah murah!” protes Andrew geram.
“Aku tetap akan mengusahkan semampuku!” ucap Sandra masih kekeh dengan pendiriannya.
“Sandra Angelique,” pekik Andrew tertahan, lantaran mendengar ketukan pintu berulang kali tiada henti. Keduanya lalu saling menatap satu sama lain, sampai akhirnya, Andrew berjalan menuju pintu untuk membukanya.
Sembari berjalan, dirinya terus bergumam karena merasa kesal sudah berani ada yang mengganggunya, “Siapa sih? Bukankah aku sudah memerintahkan sekretarisku melarang siapa pun menemuiku!” terpaksa membuka pintu, setelah itu ekspresinya berubah terkejut.