Bab 3. Salah Paham

1205 Kata
Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh pembantu rumah tangga mertuanya, kini Andrew memanggil Sandra untuk membahas hal itu di kamar. “Ada apa sih? Aku mau berangkat!” tanya Sandra. “Biasanya setelah selesai periksa, ayahmu dijaga siapa? Terus yang menyiapkan obat siapa?” tanya Andrew memastikan. “Dijaga sama mamah. Untuk kebutuhan seperti obat dan lain-lain, itu siapkan oleh pembantu. Memang kenapa?” tanya balik Sandra merasa heran. “Apa kamu tidak curiga sama pembantu kamu?” “Curiga? Untuk apa? Tidaklah, dia sudah bekerja sangat lama dan kami menganggapnya bagian dari keluarga ini,” jawab Sandra membuat Andrew berpikir ulang untuk mengatakan apa yang didengarnya. “Sebaiknya setelah ini, lebih hati-hati sama pembantumu itu.” Sandra sampai mengernyitkan dahi karena tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Andrew. “Apa sih maksudmu? Baru datang ke sini beberapa kali, tapi udah main curiga sama pembantuku itu.” “Udah nggak usah dipikirin, sekarang kamu antar saja ayahmu ke rumah sakit. Soal kecurigaanku ini, biar jadi urusanku. Aku juga tidak mau asal tuduh tanpa bukti,” ucap Andrew membuat Sandra marah karena merasa gelagat suaminya aneh. “Aneh! Kalau memang curiga itu jelaskan, bukan hanya ngasih peringatan aja! Lagian selama ini pembantu yang bekerja di sini sangat baik dan pekerjaannya selalu memuaskan,” protes Sandra membuat Andrew memilih diam yang semakin membuatnya merasa kesal. Karena tidak mau ambil pusing, akhirnya, Sandra kembali menemui ayahnya lalu mengantarkannya ke rumah sakit. Diikuti Andrew yang tepat menyusul di belakangnya sembari mengambil ponsel miliknya, lalu pria itu mulai mengirimkan sebuah pesan kepada orang suruhannya untuk diam-diam mengamati istri serta ayah mertuanya dan juga mengirimkan satu orang mata-mata untuk melaporkan gerak-gerik asisten rumah tangga yang tengah dicurigainya. Kondisi David yang semakin memburuk, membuat hati Sandra merasa sangat sedih, padahal sudah beragam cara dilakukannya hingga berobat ke luar negeri. Namun, semua itu tidak ada hasil yang memuaskan. Bahkan obat yang selalu diminum, seolah tidak memberikan efek apa pun, malah membuat kondisi ayahnya drop. Dokter yang menangani juga merasa heran, padahal banyak pasiennya selalu sembuh setelah ditanganinya. Namun, entah kenapa kasus kali ini berbeda. Sampai suatu waktu, dokter pernah mencurigai pihak keluarga pasiennya dengan menanyakan, apakah obat yang selalu diresepkan itu diminum secara rutin atau tidak karena melihat keadaan pasien yang tak kunjung membaik. Akan tetapi, pertanyaan itu malah memicu kesalahpahaman meskipun akhirnya berakhir damai. *** Tiba di rumah, ayahnya tengah berbaring di ranjang kamar. Sementara itu, obat yang telah diberikan oleh dokter kini sudah berpindah tangan ke pembantunya agar segera disiapkan untuk diminum. Tanpa mereka sadari, pembantu yang sudah sangat dipercaya, selama ini, sudah tega mengganti obat itu dengan obat yang sangat berbahaya. Setiap meminum obat tersebut, sama saja menggerogoti tubuh bagian dalam secara perlahan sehingga kondisinya akan semakin parah. Obat yang kali ini, dosisnya semakin tinggi, dalam sekali minum, akan langsung membuat orang itu tertidur. “Ini obat untuk Tuan, Bibi letakkan di meja, ya,” ucap pembantu rumah tangga sembari meletakkan nampan berisi segelas air putih serta obat. “Terima kasih, Bi.” Sandra tersenyum ramah pada pembantunya. Setelah itu, ia berlalu pergi untuk melanjutkan pekerjaan. Dengan telaten, Sandra mulai meminumkan obat untuk ayahnya sesuai petunjuk dokter, tapi kali ini ada yang berbeda, baru sekali minum, ayahnya sudah tertidur dan sempat mengatakan jika matanya terasa berat. “Mungkin efek obatnya seperti itu, bukankah jika setelah meminum obat dan orang tersebut tertidur, maka obat akan segera bekerja? Semoga kali ini ada hasilnya,” batin Sandra lalu meninggalkan ayahnya seorang diri di kamar. Di lain sisi, ada seseorang yang tengah melaporkan hasil pengintaiannya kepada Andrew. Orang suruhan: Bos, saya sudah menemukan bukti. Isi chat orang suruhan Andrew seraya mengirimkan beberapa bukti bahwa pembantu rumah tangga mertuanya tengah mengganti obat hasil resep dokter dengan yang sudah disiapkan yang disimpan di saku celana. “Kerja bagus, terus pantau dia, bahkan jika bisa, korek informasi sebanyak-banyaknya,” balas Andrew rasanya sudah tidak sabar untuk memberitahu ini kepada istrinya, tidak mau asal bicara jika tidak memiliki bukti, maka dari itu, lebih baik menunda sampai pulang kerja setelah itu memberikan semua bukti. Suara ponsel Sandra menandakan ada notifikasi masuk. Andrew: Tunggu aku pulang kerja, karena ada hal yang ingin aku sampaikan dan itu sangatlah penting. Sandra: Hal penting apa? Ngapain nunggu nanti! Kasih tahu sekarang aja. Andrew: Jika aku bicara di sini kamu tidak akan percaya, sudahlah tunggu aku pulang. Sandra: Gak jelas banget! Kalau gitu gak usah chat! “Jadi wanita menyebalkan sekali, bisa-bisanya dia dijodohkan untukku, ah, buruk sekali nasibku!” gerutu Andrew seraya meletakkan ponsel mahalnya di meja kerja. Pulang dari kantor, Andrew terus memanggil istrinya tiada henti sehingga membuat pemilik nama merasa bising. “Ada apa? Bisa gak, kalau manggil itu santai aja? Ini rumah bukan hutan, apa kamu lupa ini di rumahku? Ada orang tuaku di sini!” protes Sandra setengah berbisik. “Habisnya, sejak aku masuk ke rumah, kamu tidak ada, makanya aku manggil-manggil kamu. Aku tuh mau ngasih informasi penting sekali.” Andrew tampak mengeluarkan ponsel mahalnya. “Berita apa? Awas aja kalau gak penting!” tanya Sandra malas. Namun, matanya terus mengikuti gerakan tangan suaminya. “Sini duduk di sebelahku!” perintah Andrew seraya menepuk sofa empuk. “Gak mau! Jangan cari kesempatan!” protes Sandra. “Ini berita penting, Sandra! Mana mungkin aku mencari kesempatan? Lagian kamu itu kan istri aku, bisa saja saat ini juga aku meminta hakku. Udah sini duduk daripada aku melakukan itu!” Andrew tidak bisa menahan emosinya yang membuat istrinya bergidik ngeri ketakutan. “Oke, oke. Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan?” Sandra pun menurut untuk duduk di sebelah suaminya. “Lihatlah gambar-gambar ini, tapi aku mohon, kamu jangan histeris! Kamu harus tetap tenang,” perintah Andrew memberikan benda pipih miliknya yang memperlihatkan video serta gambar pembantu rumah tangganya tengah berkutat dengan obat yang diberikannya. “Lalu? Ini kan obat yang tadi aku kasih ke Bibi?” tanya Sandra masih belum menyadari. “Astaga, Sandra! Lihat dengan detail! Di situ, terlihat jelas jika pembantu yang sudah kalian percayai dan anggap sebagai keluarga sudah menusuk kalian dari belakang, dia menukar obat yang kamu berikan dengan obat yang sudah disiapkannya! Selama ini, ayahmu meminum obat palsu makanya kondisinya tidak juga membaik.” Andrew yang merasa geram lalu memutar sebuah video. Sandra pun terkejut dan merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. “Gak! Mana mungkin Bibi sejahat itu! Kamu jangan ngarang!” protes Sandra. “Kamu lihat semua bukti ini aja masih tidak mau percaya, gimana kalau tadi aku ngasih tahunya cuma lewat pesan?” Ucapan Andrew seketika membuat Sandra terdiam. Jujur saja ia masih syok dan sulit percaya dengan apa yang dilihatnya. Tidak mau menduga-duga, Sandra pun memanggil asisten rumah tangganya yang tengah menyiapkan makan malam. “Bi, ke sini dulu deh!” teriak Sandra masih coba bersikap sopan. “A-ada apa, Non?” tanya bibi terengah-engah karena setengah berlari mendengar panggilan itu. “Lihat ini dan tolong jelaskan!” jawab Sandra memperlihatkan video dirinya tengah menukar obat. Wajah asisten rumah tangga itu langsung pucat. Keringat mulai tampak di dahinya. “Ini … ma-afkan saya, Non. Saya ben–” Tiba-tiba suara tamparan terdengar keras, menjeda permintaan maaf yang diucapkan oleh sang asisten rumah tangga. Sandra benar-benar merasa kecewa. Bagaimana tidak, sudah dipercaya, tetapi malah tega membuat kondisi ayahnya semakin memburuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN