Bab 2. Sebuah Perjanjian

1020 Kata
Setelah berhasil tidak satu kamar bersama istrinya, ternyata tidak membuat Andrew merasa mengantuk. Akhirnya, terbesit di dalam pikiran untuk membuat surat perjanjian pernikahan yang nantinya akan mereka tanda tangani bersama. Banyak poin-poin yang ditulis olehnya, dengan harapan, istrinya nanti tidak menemukan celah untuk menolak sehingga ketika surat tersebut nantinya dibaca, istrinya langsung memilih menandatangani tanpa banyak bertanya. Setelah merasa cukup, akhirnya Andrew mencetak surat tersebut, lalu disimpan di laci meja dan bersampul sebuah map berwarna coklat Sedangkan Sandra yang berada di kamar sebelah juga merasakan hal yang sama, susah untuk tidur, padahal tempat tidurnya sangatlah empuk dan nyaman. "Kenapa susah sekali untuk tidur? Ah, menyebalkan!" Akhirnya, Sandra memilih menonton film drama korea melalui ponselnya sampai akhirnya tertidur dengan sendirinya. *** Pagi harinya, Andrew memanggil istrinya yang tengah bermain ponsel di ruang tengah. “Duduk sini!” perintah Andrew kepada istrinya dengan wajah serius. “Ada apa?” tanya Sandra penasaran. “Baca ini dengan baik-baik. Setelah itu, tanda tangani!” jawab suaminya menyerahkan beberapa lembar kertas yang menjadi satu di dalam map. Dengan teliti, Sandra membaca poin demi poin yang tersusun dengan rapi dalam bentuk ketikan komputer, ada beberapa poin yang sebenarnya membuatnya keberatan. Namun dirinya memilih menahan hingga selesai membaca semuanya. "Aku sudah membaca semuanya dan ada beberapa poin yang memberatkanku," ucap Sandra dengan tenang sambil meletakkan kertas di atas meja. "Apa saja? Coba sebutkan! Nanti kalau aku setuju, bisa aku revisi." Andrew bertanya dengan angkuhnya. "Pertama, aku tidak setuju jika apa pun yang ingin kulakukan harus izin lebih dulu sama kamu." "Apa kamu lupa jika aku suamimu?" Andrew mengingatkan, menegur dengan penuh penekanan. “Dan apa kamu lupa jika setelah pernikahan, kita sepakat untuk tidak saling ikut campur dalam hal apa pun. Kamu sendiri yang mengatakannya, kita layaknya suami-istri hanya saat di depan kedua orang tua serta keluarga saja, masih ingat?” tegur balik Sandra membuat suaminya terdiam. “Lanjutkan lagi!” ucap suaminya kesal. “Kedua, jika salah satu dari kita memiliki pasangan, sebisa mungkin, jangan diperkenalkan, aku tidak mau, nanti ada kesalahpahaman. Ketiga, aku setuju, jika kita tidak memiliki anak, tapi bukan berarti kamu bisa meminta nafkah batin dariku karena itu mustahil terjadi! Keempat, urusan pribadi kita berdua, bukan menjadi tanggung jawab bersama, kecuali melibatkan orang tua dan keluarga. Kelima, meskipun aku sudah menjadi istrimu, tapi aku menolak keras jika terlalu diatur, aku tetap ingin bebas seperti biasanya,” ucap Sandra tanpa ragu sedikit pun. “Mengapa penolakan itu hanya untung di kamu saja?” sindir Andrew. “Jika tidak setuju, aku menolak tanda tangan,” jawab Sandra tidak mau tau. “Menyebalkan! Harusnya kamu bersyukur menjadi istriku. Banyak di luar sana yang mendambakan posisimu,” keluh Andrew. “Jika tersisa satu pria di dunia ini dan itu adalah kamu, lebih baik aku hidup sendirian,” ucap Sandra sangat mengejutkan suaminya. “Kamu ini, ya! Jika bukan karena permintaan kedua orang tuaku, aku akan berpikir seribu kali untuk menikahimu!” “Dan jika bukan demi kesembuhan ayahku, tidak akan mau aku menikah dengan pria menyebalkan serta arogan sepertimu! Ingat! Kita menikah karena terpaksa. Jadi, jangan banyak aturan! Jalani saja seperti air mengalir dan yang terpenting, di depan mereka kita bersikap layaknya suami-istri!” ucap Sandra tak kalah menyebalkannya. “Sampai kapan aku harus bertahan dengan wanita susah diatur seperti dia!” Andrew bermonolog kesal, menghela napas beberapa kali. “Aku punya perjanjian lagi, bagaimana?” tanya Andrew terpotong oleh istrinya yang langsung ngegas. “Apa lagi? Sudah aku bilang, jalani saja seperti air mengalir, jangan banyak aturan!” “Diamlah! Aku belum selesai berbicara, main potong saja!” tegur Andrew geram yang dijawab senyuman tanpa dosa oleh Sandra, meski tidak bisa dipungkiri jika istrinya memang memiliki senyum yang menawan. “Kita terikat perjanjian pernikahan dan itu hanya berlaku lima tahun saja, setuju?” usul Andrew. “Lima tahun itu lama, kenapa tidak enam bulan atau satu tahun?” protes Sandra. “Itu terlalu mencolok! Mainlah dengan rapi agar keluarga kita tidak menemukan celah,” ucap Andrew ketus. “Ah, oke, baiklah. Aku setuju.” Sandra terpaksa setuju karena sudah malas terus berdebat dengan suaminya. “Oke, nanti aku akan membuat surat perjanjian dan kita tanda tangan di atas materai,” ucap Andrew senang karena istrinya tidak bawel seperti tadi. Setelah selesai membahas perjanjian pernikahan, mereka langsung sibuk dengan urusan masing-masing. Sandra harus mengantarkan ayahnya berobat sedangkan Andrew pergi bekerja. Demi tetap terlihat baik di depan keluarga istrinya, Andrew mengantarkan sampai ke rumah orang tua Sandra. “Aku masuk dulu sebentar, setelah itu pamit kerja,” ucap Andrew yang hanya dijawab anggukkan kepala saja. Setelah itu, istrinya langsung nyelonong keluar dari mobil. Hal itu membuat Andrew kesal. Namun, hanya bisa ditahannya. “Dasar istri aneh!” Mereka berjalan beriringan sembari tangan Sandra merangkul lengan suaminya, tak lupa senyum merekah tersungging di bibir keduanya. “Apa kabar, Mah?” sapa Andrew setelah bersalaman dengan mertuanya. “Kabar baik, bagaimana dengan kalian?” tanya balik Angela dengan senyuman ramah. Namun, tidak bisa menutup kemungkinan jika hatinya tengah gundah. “Kabar kami juga baik, Mah. Bagaimana dengan Papah? Apakah sudah ada kemajuan?” tanya Andrew penuh perhatian. Senyuman ramah yang tadi diperlihatkan untuk menantunya, kini berubah sendu. Siapa yang tidak merasa sedih, jika suaminya sudah bertahun-tahun sakit namun tidak ada pertanda menuju sembuh. Bahkan biaya yang sudah keluar, sangat menguras harta mereka yang kini terancam gulung tikar. Setelah memasuki rumah dan sempat basa-basi sebentar dengan mertuanya, tiba-tiba Andrew merasa ingin buang air kecil. Pria itu pun izin untuk ke toilet sebentar dan kebetulan letaknya berdekatan dengan dapur. Saat sudah selesai, Andrew tak sengaja mendengar pembantu rumah tangga mertuanya tengah bicara di telepon dengan seseorang dan itu terdengar sangat serius. “Baik, saya akan jalankan tugas seperti biasanya. Tidak perlu ragu dengan kinerja saya karena selama bertahun-tahun ini tidak pernah ketahuan. Hari ini, tuan besar ada jadwal check up dan setelahnya, saya akan melakukan sesuai rencana kita, asal bayarannya kali ini, dua kali lipat.” Mendengarnya, Andrew merasa curiga. Diam-diam ia terus mendengar semua pembicaraan itu hingga selesai. “Apa yang ingin dia lakukan sama ayah mertuaku?” gumamnya lalu bersikap seolah tidak mendengar apa-apa dan kembali menemui istri serta mertuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN