Bab 1. Tiba-tiba Menikah

1150 Kata
Melihat anaknya baru saja pulang, tidak membuat David Byron membuang-buang waktu lagi, Sandra diminta untuk duduk di halaman belakang bersama kedua orang tuanya. Suasana serius langsung terasa ketika baru beberapa detik dirinya duduk. “Satu minggu lagi, kamu akan menikah dengan anak rekan kerja Papah,” ucap David Byron dengan suara tertahan karena dadanya terasa sesak. “Apa? Kenapa mendadak seperti ini? Aku gak mau! Menikah bukan sebuah candaan!” tolak Sandra mentah-mentah. Tentu saja, siapa yang tidak terkejut saat mendengar kabar jika dalam waktu dekat harus menikah dengan seseorang, bahkan dirinya sendiri tidak mengenalinya. “Semua sudah disepakati, tidak ada yang bisa menolaknya. Ini demi kesembuhan Papah agar bisa terus menjalani pengobatan, tanpa kamu tau, harta yang susah payah dikumpulkan, kini sudah hampir habis. Papah gak mau hidup susah, makanya ini adalah satu-satunya jalan,” ucap David yang sebenarnya berat memutuskan hal itu. “Papah jahat!” Sandra merasa sangat marah. Setelah itu, ia masuk kamar dengan membanting pintu. “Kamu yang sabar, ya! Nanti anak kita juga pasti akan mengerti,” ucap Angela Byron berusaha menenangkan suaminya agar sakitnya tidak kambuh. Di dalam kamar, tentu saja Sandra terus menangis tiada henti sebagai bentuk rasa kecewa. Orang tua yang selalu ia hormati, bahkan selalu menuruti apa kemauannya, kini malah menghancurkan masa depannya–memaksanya untuk menikah dengan pria yang sama sekali tak dikenalnya. Lebih tepatnya pernikahan bisnis. “Pernikahan adalah ibadah terpanjang dan terjalin seumur hidup, bagaimana bisa aku menjalaninya dengan pria yang sama sekali tidak aku cintai? Bagaimana jika nantinya anak dari rekan kerja Papah adalah pria yang arogan juga kejam?” gerutu Sandra di tengah tangisannya. *** Di tempat berbeda, Andrew Cameron Benedict juga dipanggil kedua orang tuanya untuk duduk bersama di ruang tengah. Pria sudah merasa akan ada hal serius yang dibahas, Andrew pun terlebih dulu membuka obrolan. “Ada apa, Pah, Mah?” tanya Andrew tidak bisa basa-basi. “Dengan berat hati, kami ingin mengatakan jika satu minggu lagi kamu akan menikah dengan anak rekan kerja Papah. Semua sudah kami sepakati bersama, tolong patuhi!” ucap Astor Benedict–ayah Andrew dengan serius. “Ini bukan jaman Siti Nurbaya, Pah, Mah! Andrew masih sanggup mencari pasangan, kenapa kalian malah seenaknya mengatur hidupku? Kesepakatan apa yang tidak melibatkan yang bersangkutan, ini namanya main hakim sendiri dan semena-mena!” Andrew menolak mentah-mentah, bahkan saat ini, ia sangat emosi dengan keputusan ayahnya. “Papah tau itu, tapi kami melakukan semua ini karena ada alasannya, calonmu adalah wanita baik-baik, bisa Papa pastikan itu! Dan kelak, saat kalian menikah nanti, dia akan jadi istri yang patuh. Dulu, ayahnya pernah membantu Papah tanpa pamrih sampai bisa sukses seperti ini. Jadi, Papah pikir, ini waktu yang tepat untuk membalas kebaikannya.” Meski ragu-ragu, Astor coba menjelaskan dengan baik-baik pada putranya yang masih terlihat kecewa setelah mendengar kabar darinya. “Tinggal berikan uang berapa yang dia minta, atau gak, kasih saja berapa persen saham perusahaan, gampang, ‘kan? Kenapa harus sampai menikahi anaknya? Ini gak masuk akal!” Andrew masih terlihat penuh amarah. Coba menolak dengan penuh penekanan di setiap ucapannya. “Jika menolak, semua fasilitas yang Papah kasih ke kamu, akan Papah tarik!” ancam Astor terdengar bukan main-main. “Apa kalian tidak memikirkan perasaan putrinya? Bagaimana jika dia juga sama seperti aku, dia kecewa dan menolak perjodohan ini? Kalian memang egois!” protes Andrew yang pergi entah ke mana tanpa menunggu jawaban sang ayah. Namun, pria itu masih dapat mendengar ancaman Astor yang kembali mengulang ucapannya. **** Tanpa terasa, hari yang sudah disepakati pun tiba. Pernikahan yang bagi Andrew dan Sandra adalah sebuah mimpi buruk, kini akan segera menjadi kenyataan. “Di mana orangnya, Pah?” tanya Andrew terus memperhatikan sekeliling untuk mencari tahu di mana calon istri yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya. Pria itu memang tidak pernah bertatap muka dengan calon istrinya sebelum hari pernikahan berlangsung. “Nanti juga keluar, segera lakukan akad nikah,” jawab Astor berbisik. Tidak berselang lama, penghulu menanyakan kepada mempelai pria, apakah sudah siap untuk melangsungkan akad nikah? Jika ingin jujur, tentu saja merasa tidak siap, bahkan ingin sekali rasanya kabur dan meninggalkan kedua orang tuanya. Namun, jika memilih jalan nekat seperti itu, sama saja membuatnya tiba-tiba menjadi miskin. Jadinya, dengan terpaksa Andrew mengatakan kepada penghulu jika sudah siap dan ingin segera melakukan akad nikah. “Baiklah kalau begitu, nanti ikuti ucapan saya!” perintah penghulu dijawab anggukan kepala oleh Andrew. “Saya terima nikah dan kawinnya Sandra Angelique Byron dengan mas kawin satu kilogram emas dan juga satu unit rumah, dibayar tunai,” ucap penghulu dengan tegas. “Saya terima nikah dan kawinnya Sandra Angelique Byron dengan mas kawin satu kilogram emas dan juga satu unit rumah, dibayar tunai!” ucap Andrew terpaksa mengucapkan ijab qabul dalam sekali nafas. Setelah dinyatakan sah, barulah, mempelai wanita keluar dari ruangan dengan balutan kebaya berwarna putih gading dengan make up simple dan riasan yang sederhana. Namun, tetap terlihat mewah. Tidak ada senyum yang tersemat di wajah mempelai perempuan karena pernikahan yang terjadi merupakan sebuah paksaan. Andrew yang baru kali ini melihat istrinya, terpana pada pandangan pertama hingga tidak berkedip. Tidak bisa dipungkiri jika istrinya memang terbilang cantik, terlebih kulitnya yang putih bersih serta hidung mancung dan bibir yang mungil, membuat Andrew merasa jika pernikahan terpaksa yang baru saja terjadi, setidaknya tidaklah sia-sia. “Ehem! Sudah Papah katakan jika istrimu ini baik-baik, terlihat ‘kan dari auranya,” goda Astor membuat Andrew kesal. “Apaan sih! Biasa aja gitu!” Setelah mereka resmi menikah, orang tua Andrew langsung menghadiahkan rumah yang menjadi mas kawin pernikahan di kawasan elit yang tidak jauh dari rumah mereka. “Ingat, ya! Kita menikah hanya untuk menjaga perasaan serta martabat kedua orang tua kita. Jangan harap aku bakal mencintaimu, apalagi menganggapmu sebagai istri! Camkan itu baik-baik!” gertak Andrew setelah mereka berada di kamar. “Aku juga tidak akan mencintai pria arogan sepertimu! Aku juga tidak akan bersikap layaknya istri yang patuh terhadap suaminya!” gertak balik Sandra. “O-oke, kalau begitu, kita juga tidur terpisah! Berhubung ini rumah pemberian orang tuaku. Jadi, kamu yang tidur di luar! Sana minggir! Aku mau ganti baju!” usir Andrew. “Apa?? Tega sekali menyuruh perempuan tidur di luar, kalau aku sakit, gimana?” Sandra merasa sangat syok. “Di rumah ini, memangnya hanya ada satu kamar saja? Banyak! Silakan pilih sesukamu!” ucap Andrew dengan ketus. Karena geram, Sandra keluar dari kamar sembari terus menggerutu tiada hentinya. “Astaga, gini amat menikah sama pria menyebalkan! Ini baru beberapa jam menikah sudah seperti ini, gimana nantinya aku menjalani di sisa umurku? Bisa masuk rumah sakit jiwa nanti!” Di saat Sandra terus melangkah kesal, Andrew yang sudah selesai berganti pakaian, kini terlihat tiduran di sofa empuknya. “Akan kupastikan, wanita itu tidak akan betah menjadi istriku! Biarkan nanti dia yang pergi dengan sendirinya, dengah begitu, Papah dan Mamah pasti tidak akan memarahiku,” ucapnya dengan senyum mengembang karena baginya itu adalah ide yang brilliant.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN