"Kamu tuh bisa ngobatin luka gak sih? Kasih obat merahnya dengan lembut bisa kan?! Sakit tau"
Rania lalu memutar bola matanya malas. Laki-laki dihadapannya ini banyak omong sekali padahal yang tergores ranting pohon itu dahinya bukan mulutnya.
Seharusnya rania tadi tidak memukulnya. Jika ia tahu bahwa pukulannya itu ternyata sangat kuat dan membuat laki-laki menyebalkan yang ada dihadapannya ini terhuyung ke belakang dan terjatuh dari rumah pohon. Sialnya lagi saat jatuh ia tergores ranting pohon sehingga menyebabkan adanya luka gores di dahi dan sikunya -- rania jelas tidak akan melakukan hal seperti itu tadi.
Rania lalu berdecak pelan sambil membasahi satu kasa dengan obat merah. Tidak ada orang lain lagi selain mereka yang ada disini dan laki-laki ini tidak mau mengobati lukanya sendiri -- ia berkata dengan lantang bahwa rania harus bertanggung jawab dan mengobati lukanya atau dia tidak akan segan untuk bilang ke seisi sekolah kalau ternyata dia suka sama Azka. Rania hanya mampu menurutinya karena dia punya reputasi yang harus dia jaga dan juga ia tak mau kalau sampai teman-temannya tau tentang hal ini. Terkadang hidupnya memang sesial itu.
"Sebentar lagi istirahat kedua berakhir," ucap rania. Dia memasang wajah datar sambil menatap luka goresan didahi gilang. Dia menghindari segala bentuk kontak mata, malas sekali rasanya jika harus bertatapan dengan laki-laki aneh itu.
Tangannya dengan sangat hati-hati bergerak menempelkan kasa tersebut ke atas luka gilang -- membubuhinya dengan cairan obat merah. Gilang mendesis pelan.
"Kamu beneran gak bisa ngobatin luka ya? Kamu cewek atau bukan sih, ngerawat luka aja gak bisa"
"kamu kok protes terus sih dari tadi , nih kenapa gak kamu aja yang ngobatin lukamu sendiri?!" Rania sewot sekali saat ini. Dia melepas kasa itu dari luka gilang lalu menilai apakah semua bagian yang terluka sudah ia kasih obat merah. "Sudah salah, merepotkan, banyak protes lagi."
"Heh, kamu ya yang mukul aku duluan kenapa malah marah marah nyalahin aku"
Rania lalu berdecak. Dia menyingkirkan kasa yang sudah ia pakai dan mengambil kasa baru. "Kalau kamu gak nyebelin, aku juga tidak akan mukul kamu," jawab rania. Setelah ia memberi obat merah pada kasa baru, ia menatap gilang. "Sini, kemarikan sikumu yang luka. Sudah dibilas pakai air kan, tadi?"
Gilang lalu menatap rania dengan mata memicing dan penuh selidik. Rania memilih untuk mengabaikannya. "Sudah," kata gilang. Kemudian ia mengulurkan lengannya, memutarnya sedikit sehingga menunjukan bagian sikunya yang terluka. " Pelan-pelan kalo ngasih -- AW! KAMU TUH TAU ARTI DARI PELAN-PELAN TIDAK, SIH SAKIT TAU?!"
Rania lalu berjengit kaget. Dia tidak menyangka kalau gilang akan berteriak kepadanya sehingga ia menekan kasa itu ke luka gilang dengan sedikit kuat.
"Bisa gak sih gak usah teriak-teriak kayak gitu!! Ini sekolah bukan hutan. Lagi pula aku gak ngerti kalo yang ngomong itu kamu." Rania tetap memasang wajah datarnya. Gilang sedari tadi meringis dan berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman rania. "Jangan berisik. kamu tau, aku masih berbaik hati ya mau ngobatin luka kamu dan gak langsung pergi ninggalin kamu disini."
Keadaan diantara mereka berdua menjadi hening. Rania mengobati luka gilang dengan telaten sementara orang yang di obati sesekali meringis karena merasa perih. Rania menahan diri untuk tidak memutar bola matanya karena merasa jika laki-laki didepannya ini sangat berlebihan sekali.
"Sudah." Ucap Rania setelah ia selesai membersihkan luka disiku gilang. Dia mundur sedikit untuk mengambil pandangan yang lebih jelas.
Gilang ini tampan, sungguh Rania tidak akan berbohong untuk mengakui itu. Hidungnya yang mancung dengan mata double eye lids berbentuk seperti kacang almond. Garis-garis wajahnya tegas memberikan kesan lebih dewasa untuk remaja seusianya. Dia tanpa celah sedikitpun.
Yah, selain perilakunya yang menyebalkan dan luka diatas dahinya.
"Kayaknya luka kamu harus dikasih plester deh." Rania akhirnya bersuara setelah sekian lama memperhatikan Gilang.
Gilang lalu mengerjap. "Kenapa harus dikasih plester?"
"Luka kamu kalo dibiarin gitu aja bakal kotor kena debu kalau nanti infeksi gimana. Nanti malah nyalahin aku lagi." Rania menjawab sejujurnya. Dia mengambil satu plester luka dari kotak P3K. "Lagi pula rasanya pasti gak enak kan kalau luka kamu kena rambut dan angin."
Gilang lalu mengangguk paham. Dia hanya diam saja ketika rania memasangkan plester luka diatas dahinya.
Mengesankan. Dia bisa menjadi sangat menyebalkan, tetapi disaat yang sama dia bisa jadi orang yang cukup pendiam.
Ngomong-ngomong, sepertinya ini interaksi rania yang paling lama dengan gilang. Mereka benar-benar saling tidak mengenal sebelum kejadian ini. Itu membuat rania tersenyum kecut sambil merapikan plester didahi gilang. Seharusnya dia tidak mengeluh secara verbal.
"Berhenti pasang muka kayak gitu. Muka kamu kayak besok kiamat aja."
Gilang ini memang sepertinya tipe manusia yang sulit untuk berbicara baik. Itu membuat rania berdecak.
"Aku pikir bakalan bagus kalau besok kiamat," respon rania. "Aku gak perlu ketemu kamu lagi."
Sekali lagi, rania berdecak. "Karena kamu udah tau rahasiaku kalau aku suka sama Azka" Rania mundur dan melirik ja tangannya. Lima menit lagi bel masuk.
Gilang lalu mengangkat alisnya. "Kenapa jadi aku?," tanya gilang. "Lagi pula, apa kamu seputus asa itu cuma karena Azka pacaran sama Vira bisa aja kan kalau suatu saat mereka putus"
"Apa menyukai orang itu sesuatu yang harus dirahasiakan?"
Rania sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran Gilang saat ini. "Ya tentu saja gak harus dirahasiakan," kata Rania. "Sebenarnya menyukai orang itu bukan sesuatu yang harus dirahasiakan tapi ini situasinya berbeda kita itu sahabatan mana ada sahabat yang suka sama pacar sahabatnya sendiri terlebih kita satu circle."
Gilang lalu memicingkan matanya.
"Vira juga suka sama Azka kan"
"Iya memang Vira juga suka sama Azka, Mana ada orang pacaran tapi gak saling suka. Tapi kan perasaan Vira gak cuma perasaan sepikak Azka juga suka sama Vira makanya mereka pacaran. Sedangkan aku? Aku gak mau ngerusak persahabatan kita makanya aku lebih milih ngerahasiain perasaan aku eh sialnya kamu malah tau rahasiaku"
Itu lah poin nya. Rania ingin sekali berteriak didalam hati.
"Lupain deh soal masalahku," Rania pilih tidak ambil pusing. "Balik sana ke kelas kamu."
Gilang lalu memandang Rania dengan tatapan yang sulit untuk dibaca. "Kamu aneh banget sih," gumam Gilang. Dia lalu berdiri dan menaruh kedua tangannya ke dalam saku celana. "Aku pikir kamu sama kayak Azka dan temen-temennya yang lain. Nyatanya, kamu jauh lebih aneh dai mereka semua."
Deskripsikan rania dengan kata apa pun selain 'aneh'. Gilang adalah orang pertama yang bilang kalau rania itu aneh. Rania berpikir bagaimana bisa dia memiliki kesan aneh.
"Kamu tuh yang lebih aneh." Hanya itu tanggapan balik dari Rania.
Keduanya tidak berbicara lagi sebelum Gilang melangkahkan kakinya pergi dari taman. Rania masih berdiri di tempatnya -- Sibuk memikirkan sesuatu.
Rania langsung membalikan badannya dan menahan lengan Gilang.
Gilang menatapnya dengan terkejut.
"Kamu gak mau mempertimbangkan lagi soal tadi. Aku bisa ngerjain semua tugas-tugasmu percaya deh sama aku?"
Gilang lalu mengangkat alisnya. "Nggak," jawab Gilang. "Aku gak mau."
Tidak.
Itu tidak boleh terjadi.
"Kalau gitu, tadi kan aku udah ngobatin luka kamu. Apa kamu gak mau berbaik budi balas jasaku?"
"Rania Larasati, kamu udah gila ya?! Kamu yang mukul aku duluan loh!"
***
"Kamu gak keliatan sepanjang istirahat kedua tadi. Kamu kemana aja ran?" Vira bertanya sambil mendesis kepada rania yang baru kembali ke kelasnya. Tenang saja, dia tidak terlambat masuk karena gurunya emang belum datang.
"UKS," jawab rania enteng. Vira lalu membelalakan matanya.
"Kamu sakit ran?!"
"Nggak ih, aku cuma ada urusan aja."
Vira lalu menatap rania dengan tidak percaya. "Serius?" tanya wanita itu. Dia berusaha memegang kening rania, tetapi rania menepisnya lembut. "Aku mau coba ukur suhu badan kamu ran!"
"Nggak perlu, vir. Aku baik-baik aja kok." Rania lalu tersenyum sebelum menyadari guru pelajaran berikutnya telah masuk ke kelas. "Udah ada guru! Ayo duduk di bangku kamu!
***
Azka sedang mendengarkan lagu dari hpnya sambil memainkan pulpen ketika menyadari ada sosok manusia yang sedang berdiri didepan mejanya.
Gilang
"Azka."
"Ya?"
Azka buru-buru melepas airpodsnya. Gilang hanya berbicara dengannya jika itu menyangkut urusan kelas dan urusan OSIS seperti sertifikat kemenangan azka atau hal-hal penting lainnya. Mereka tidak pernah mengobrol selayaknya teman. Lagi pula azka bingung apa yang bisa dia bicarakan dengan gilang -- lingkaran pertemanan mereka saja berbeda.
"Temanmu itu aneh banget tau."
"Hah?" Azka terkejut. "Temanku yang mana?"
Gilang tidak menanggapi. Dia hanya menepuk bahu Azka dengan bersahabat, gestur yang sangat otentik milik Gilang karena dia selalu melakukannya setelah berbicara dengan orang.
Ini sungguh membuat Azka bingung.
"Temanmu yang aneh itu juga sedang punya masalah. kamu sebagai temannya harus nya sadar akan hal itu?"
Gilang berlalu pergi begitu saja setelah mengatakan itu lalu menuju ke tempat duduknya dibelakang. Azka lalu menoleh ke arah gilang, dia sudah mengambil ancang-ancang untuk menuju ke tempat duduk Gilang, tetapi guru sudah lebih dulu masuk ke dalam kelas.
Sepanjang pelajaran, Azka tidak ada hentinya memikirkan maksud dari perkataan Gilang.
***