Rania menusukan sedotannya ke s**u kotaknya sebelum ia menolehkan kepalanya ke arah dina. "Iya?"
"Dalam dua minggu lagi, Azka dan tim basketnya akan mengikuti perlombaan tingkat Asia," jelas Dina. Remaja itu saat ini sedang membuka plastik roti nya.
"Tesnya akan dilakukan pada akhir pekan jadi itu tidak akan mengganggu waktu sekolah. Vira mengajak kita untuk menonton Azka dan tim basketnya. Bagaimana, kau mau ikut tidak ran?"
Rania lalu memasukan sedotan ke dalam mulutnya dan mulai menyesap s**u kotaknya perlahan.
"Apakah ada tiket masuknya?" tanya rania.
Dina terlihat sedang berpikir. "Ku pikir ada? Karena area ini lomba se asia kan dan gak sembarang orang bisa masuk ke sana." Dina menjawab beberapa detik kemudian. "Jika kau mau ikut, aku akan bawa mobil ku dan jemput kamu dirumah."
Rania-lah yang sekarang tengah berpikir. Dia memainkan sedotannya dengan lidah sembari menimbang-nimbang apa dia akan ikut melihat pertandingan basket itu.
"Aku lihat nanti dulu aja, deh din," jawab rania. "Di akhir pekan, mama ku suka minta ditemani belanja bulanan dan segala macam lainnya. Kalo aku sempet nyusul, aku akan susul kalian kok. Bargaimana?"
Dina lalu mendengus kecil. "Kamu anak yang berbakti banget, sih ran" katanya tanpa nada mencemooh. "Kamu gak bisa minta izin dulu sebentar ran?"
"Akan ku usahakan soal itu."
Dina akhir nya memasang senyum cerah. "Tapi aku gak maksa kamu untuk berangkat bareng juga, sih ran. Aku takut malah kegiatan kita ini bikin mama kamu marah sama kamu" ucap Dina
*****
Rania tidak kenal Gilang.
Dia hanya tahu siapa laki-laki itu. Siapa yang tidak tahu Gilang? Si anak OSIS yang suka tertawa ribut dipinggir lapangan pada saat jam istirahat. Si anak kelas unggulan yang selalu dipertanyakan kenapa bisa masuk ke kelas unggulan ketika kelakuannya nakal sekali. Si anak yang jelas dalam sekali pandang bukan lah orang yang akan bisa mengobrol lama dengan rania.
Akan tetapi, pertemuannya dengan Gilang sehari lalu membuatnya menyadari sesuatu. Setelah bertanya ke beberapa orang yang ia tahu adalah teman sekelas dari Gilang dan semua jawabannya adalah ketidaktahuan mengenai di mana Jay berada sekarang, rania rasa ia memiliki satu tebakan tentang dimana keberadaan Gilang.
"Gilang?"
Rania lalu kembali lagi ke area taman di belakang sekolah nya. Kali ini, ia memilih menelusuri taman tersebut siapa tahu gilang tidur di belakang salah satu pohon yang ada di taman itu. Dia berusaha menemukan keberadaan laki-laki dengan reputasi eksentrik itu.
Tidak ada respon verbal yang jelas, tetapi rania mendengar suara dengan jelas rania dengar suara seperti orang yang sedang menguap mengantuk tepat dari rumah pohon yang tak jauh dari posisinya berdiri.
"Gilang Mahendra?"
"Ow, sepertinya aku mengetahui suara ini."
Rania lalu menaiki rumah pohon itu dan tersenyum kecut saat menemukan seonggoh manusia yang sedang tidur rebahan dengan nyaman disana. Memang itu terlihat sangat nyaman -- penuh dengan sinar matahari, tetapi tidak menyorot langsung sehingga kesan nya terang sekaligus teduh. Di tambah lagi dengan dedaunan kecil yang mengelilinginya ... Ini adalah suasana yang jauh berbeda dari hiruk-pikuk sekolah.
"Ah, Rania Larasati." Gilang bangkit untuk duduk sambil mengucek matanya pelan. "Ada apa? Ingin mengeluh soal kamu yang menyukai sahabatmu lagi?"
"Sialan," gumam rania pelan -- sangat pelan.
"Kamu baru saja mmengumpat pada ku!" Gilang membelalakan matanya lalu benar-benar menegakkan badannya. "Rania Larasati yang Maha Agung baru saja mengumpat?!"
"Bisa tidak, untuk tidak mengungkit-ungkit hal itu lagi?!" Rania jadi kesal saat ini. "Aku menemui mu kesini untuk negosiasi sama kamu bukan untuk mengungkit-ungkit hal itu lagi!"
Gilang lalu menyeringai. Seringainya menyebalkan sekali, rania ingin sekali menonjok wajahnya. Ah, tidak mungkin bisa. Dia tidak mau menambah lagi masalah di hidupnya.
"Negosiasi tentang apa nih?"
Pertanyaan dari Gilang di biarkan menggantung lama diantara mereka oleh Rania. Rania menatap Gilang dengan datar sambil berpikir apa ini yang terbaik? Apa gilang mau menurutinya.
"Jadi gini aku mau kamu tutup mulut kamu dan jangan cerita apa yang udah kamu dengar kemarin ke siapa pun jangan sampai ada orang lain yang tau selain kita berdua dan sebagai gantinya aku akan mengerjakan semua tugas-tugas kamu selama 1 bulan. Bagaimana?" Ucap Rania menjawab setelahnya.
Gilang terlihat sedang berpikir kemudian ia menjawab "aku gak mau"
"aku gak mau kalo kamu yang jadi ngerjain tugas-tugas ku. Kamu kan anak IPA, kalo aku IPS. Siapa tahu kamu ngerjain tugas-tugasku dengan asal-asalan." Gilang menambahkan dengan cepat
Rania menatapnya dengan tidak percaya. Hei, dia sudah berteman lama dengan Azka! Beberapa tugas-tugas Azka bahkan ia yang kerjakan jika laki-laki itu sibuk latihan basket! Azka tidak pernah mendapat nilai jelek pada tugas-tugas yang ia buat.
"Lagi pula, kita sebelumnya gak pernah saling kenal. Aku juga gak percaya sama kamu. Aku bukan orang yang mudah percaya sama orang baru" Gilang bangkit berdiri kemudian menyeringai menatap rania yang masih tercekat.
"GILANG MAHENDRA!"
Tidak salah lagi, pada akhirnya rania meninju bahu gilang dengan kuat hingga ia terjatuh dari rumah pohon.
"AKKHHH..... Rania Larasati tega banget kamu ya" ucap gilang sambil meringis lalu menugusap bahunya yang ditinju oleh rania dan punggungnya yang terasa sakit.
Rania buru-buru turun dari rumah pohon
"Eh maaf ya, aku gak sengaja"
"Gak sengaja gak sengaja sakit nih"
"Ya lagian kamu dulu yang ngeselin kan aku jadi pingin mukul eh mala kebablasan. Maaf ya"
"Gak. Gak aku maafin"
"Loh kok gitu?"
"Kamu gak liat dahi aku berdarah. Pokoknya aku gak mau maafin kamu sebelum kamu obatin luka aku"
"Aku gak bisa aku bukan anak PMR"
"Emang cuma anak PMR yang bisa ngobatin luka?"
"Iya deh. Tunggu sini bentar aku mau ke UKS dulu"
"Gak nanti kamu kabur lagi"
"Ya ampun aku gak bakal kabur kok aku cuma mau ambil p3k aja di UKS"
"Awas aja ya kalo kamu sampe kabur aku gak akan segan-segan bilang ke Azka sama Vira kalo kamu suka sama Azka"
"Iya iya bawel deh. Tunggu sini bentar"
Rania pergi meninggalkan gilang menuju uks
Tak lama Rania datang dengan membawa p3k ditangannya
Rania mulai mengobati luka gilang yang tergores ranting pohon
"Kamu tuh bisa ngobatin luka gak sih? Kasih obat merah nya dengan lembut bisa kan?! Sakit tau"
Rania lalu memutar bola matanya malas. Laki-laki dihadapannya ini banyak omong sekali padahal dahinya yang tergores ranting pohon bukan mulutnya.
*****