Tea Plantation

1887 Kata
Udara sejuk dan bebas polusi adalah salah satu daya tarik tersendiri di tempat itu. Pemandangan yang indah di Puncak serta hamparan kebun teh adalah poin plus. Puncak Bogor adalah rumah bagi orang-orang yang lelah dengan kesibukan di ibu kota. Rumah bagi orang-orang yang rindu dengan aslinya alam ciptaan Tuhan. Sama seperti orang lain, tempat ini pun adalah rumah bagi wanita cantik yang kini menikmati indahnya alam ciptaan-Nya dengan duduk di sebuah ayunan kayu yang tergantung di sebuah pohon mangga yang batangnya sangat besar. Tempat wanita itu memiliki segalanya, keluarga dan kenangan. Di sinilah semua kenangan itu berawal, yang sedetik pun tidak pernah bisa hilang dari ingatannya. Meski, mungkin saja, objek kenangan itu sudah lupa, namun wanita itu tidak peduli. Karena baginya, semuanya sudah sirna. Tinggal kenangan ini saja yang tersisa, salahkah dia jika menyimpan sebuah kenangan masa lalunya? Bukankah masa lalu ada untuk dikenang? Dirapatkannya sweeter merah jambu yang dia kenakan, udara di sini memang tidak bisa diajak kompromi. Meskipun begitu, wanita berambut hitam panjang itu tidak pernah jera untuk datang ke tempat ini. Orang lain pun sepertinya berpikiran sama dengannya. Selain pemandangannya yang indah, kita bisa mendinginkan sejenak pikiran dari berbagai keegoisan dunia. "Bunda!" "Assalamualaikum, Sayang," ucap wanita itu pada putra kecilnya yang kini berlari menyongsong. Namanya Ardian Bagaskara, umurnya sudah sepuluh tahun. Dia anak yang manis, menurut wanita itu. Tapi hei, ibu mana yang tidak mau memuji anaknya? Semua ibu pasti akan menganggap anaknya adalah sosok yang sempurna, malaikat kecil ibunya. "Oke, assalamualaikum. Bunda, Ian punya PR. Nanti Bunda bantu, ya?" tanyanya dengan memasang mimik yang lucu. Wanita itu menoel ujung hidung Ian dan tersenyum hangat. Setelah mengiyakan permintaannya, mereka segera masuk ke dalam rumah. Kebetulan---ah, bukan juga sih---perkebunan teh di depan rumah adalah milik suaminya. Itu sebabnya dia tidak bosan berada di tempat ini. Sambil menunggu Ian berganti pakaian, wanita itu segera menuju dapur. Bersiap menyediakan cemilan untuk bersantai sambil menemani Ian belajar setelah makan sian nanti. Anaknya itu memang sangat suka belajar dengannya. Katanya, guru di sekolah galak jadi dia susah menyerap pelajaran, tetapi kalau belajar dengan ibunya, Ian cepat mengerti. Ketika Ian berkata seperti itu, wanita itu hanya geleng-gelengkan kepala. "Bunda sedang apa?" Wanita itu tersentak kaget saat Ian memeluknya dari belakang. Dia tersenyum. "Ehm, sedang ... sedang apa, ya?" Ian cemberut mendengar jawaban ibunya. Bibirnya jadi manyun, setiap dia melakukan itu ibunya akan segera tertawa. Oh iya, perkenalkan, wanita itu Rihana Wulandari. Biasa dipanggil dengan Hana oleh teman-temannya. Pasaran? Tidak apa-apa, yang penting bukan orangnya yang pasaran. Hana adalah ibu dari satu orang anak, si Ian itu. Oke, kembali ke topik. Kini Ian menikmati makanannya dengan cemberut. Hana memasang wajah sedih, hingga raut wajah Ian jadi berubah. "Bunda kenapa?" Ian meletakkan sendok dan garpunya. Ia turun dari kursi lalu mendekati Hana. "Bunda jangan sedih, maafkan Ian, ya?" Mendengar itu, hati Hana jadi menghangat. Anak ini benar-benar lucu. Hana memilih tidak meresponnya. Biar saja dulu. Sangat senang rasanya ketika Ian seperti ini---bukan berarti Hana senang jika anaknya sedih---dia jadi semakin imut. Kulitnya yang putih, jika dia sedang sedih atau menahan perasaannya, akan berubah warna jadi merah. Dan itu yang kini terjadi pada Ian. "Bun?" Mungkin karena dia ngeuh kalau ibunya sedang marah, dia setengah berlutut di hadapan Hana dan menggenggam kedua tangan ibunya. "Bunda jangan sedih. Kalau Ian salah, maafkan Ian, Bunda. Ian tidak mau kalau Bunda sedih, apalagi itu karena Ian, bisa-bisa Ian akan benci diri sendiri. Ka---" "Hush!" Ucapan Ian terhenti saat Hana menempelkan jari telunjuk pada bibir Ian, menyuruhnya untuk diam. "Ian tidak boleh bilang seperti itu. Ian tidak boleh benci diri sendiri ya, Nak?" Ian menggeleng, keras kepala. "Kalau Bunda terluka karena Ian, Ian rela melakukan apa pun agar Bunda bisa kembali sayang sama Ian." Hana mengulas sebuah senyum untuk menenangkannya. Menangkup wajah Ian dan menatap langsung ke manik matanya yang hitam pekat seperti milik suaminya. "Ian rela melakukan apa pun agar Bunda sayang sama Ian?" Ian mengangguk. "Kalau begitu, jangan benci dirimu sendiri ya, Bunda sayang sama Ian. Sayang sekali." Ian menyongsong Hana dan memeluknya. Mungkin, meskipun Hana tengah berada pada titik terendah hidupnya, di mana ia tidak bisa berbuat apa-apa, dia akan tetap bahagia hanya dengan pelukan putra kecilnya itu. Harta paling berharganya, Ardian Bagaskara. "Bunda! Bunda! Bunda!" Panggilan Ian yang bernada itu membuat Hana menghentikan aktivitas yang sedang dilakukannya, yaitu menjahit. Hana mendesah. “Ada apa lagi?” Wanita itu segera beranjak dari duduknya lalu menghampiri Ian yang berada di teras rumah. Hana bingung, tidak biasanya sore-sore seperti ini anak itu berada di tempat ini. "Ada apa, Ian? Kenapa di sini? Kan sudah sore. Dingin loh, di sini," ujar Hana seraya masuk ke rumah, menuju kamar untuk mengambil sweeter lalu kembali ke teras dan memakaikan Ian sweeter tersebut. "Yuk, masuk. Dingin sekali di sini, Sayang," ajaknya. Ian menggeleng lalu berdiri. Meraih lengan ibunya dan menuntunnya ke arah perkebunan teh di depan sana. Di perkebunan, terdapat sebuah tempat kosong yang berada di tengah-tengah jejeran teh. Di sanalah Ian membawanya, mereka akhirnya duduk di sana tanpa alas. Hana mengerutkan keningnya, bingung. Bertanya-tanya apa yang akan dilakukan anak itu? "Kita kenapa ke sini?" tanya Hana, penasaran. "Bun, apa Ayah sayang pada kita?" Deg! Jatung Hana seakan berhenti berdetak saat mendengar itu. Pertanyaan itu ... apa suaminya sayang padanya? Pada anaknya? Pada mereka? Entahlah. Karena selama dua tahun terakhir ini, suaminya sangat jarang berada di rumah. "Ayah sayang sekali pada kita, Ian. Tidak mungkin kalau Ayah tidak sayang pada kita," ujar Hana setelah diam beberapa saat. Wanita itu tidak ingin jika Ian menganggap kalau ayahnya tidak menyanginya. Walau Hana sendiri pun tidak yakin dengan ucapannya sendiri. Dia dan Rama, suaminya, memang menikah karena perjodohan. Mereka bahagia, tentu. Awal-awal menikah Rama memperlakukan dia layaknya seorang ratu. Rama sangat menyayangi mereka. Mencukupi segala kebutuhan, menjaga dan merawatnya ketika ia sedang sakit. Jadi, dia cinta kan pada mereka? Sayang kan? Ian memperhatikan ekspresi ibunya. Dia memang masih kecil, tetapi Ian cukup tahu apa yang terjadi dengan hubungan orang tuanya. Terlebih karena selama ini Ian menyimpan rahasia besar sang ayah. Dulu Ian ingin sekali mengadukan perbuatan ayahnya, tetapi Ian takut hubungan orang tuanya makin memburuk. Ian berharap ayahnya akan mengakhiri hubungan gelapnya dan kembali bahagia bersama keluarga kecilnya. Ian menunduk, hatinya nelangsa. "Semoga saja, Bun," gumam Ian, yang masih bisa didengar Hana. Huh, semoga saja Sayang. Bunda bahkan sudah merasa jika ayahmu tidak menyayangi kita lagi. Terbukti dari sikapnya beberapa tahun belakangan ini. Semenjak kejadian itu .... "Bun, lihat!" seru Ian. Hana menengadah dan seketika tertegun. Takjub dengan apa yang ia lihat di atas sana. Sebuah pemandangan paling mengagumkan. Panorama alam yang begitu indah, sunset! Hanya beberapa detik, namun bisa membuat Hana tenggelam dalam pesonanya. Hanya beberapa detik, menarik semua yang melihatnya tenggelam dalam keterpanaan. Hanya beberapa detik ... ya, sama dengan saat itu. Hanya beberapa detik semuanya menjadi berubah. Tidak ada lagi tatapan penuh kelembutan, tidak ada! "Bun, ayo, kita pulang!" Ajakan Ian menyadarkan Hana. Wanita itu menghapus air mata yang menggenang di sudut mata. Untung saja sudah gelap, kalau tidak, Ian pasti akan bertanya-tanya. Dan saat ini dia tidak ingin menjelaskan apa pun, belum. "Bun?” "Kamu duluan saja ya, Bunda masih mau di sini dulu." Ian menatap ibunya sejenak. Hana berdoa semoga saja anaknya itu tidak menyadari kalau dia sedang sedih. "A ... ehm, baiklah, Bu." Setelah mengangguk Ian segera pergi. Hana mendesah berat, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Merasa sesak hanya dengan pertanyaan Ian yang kembali melintas di pikirannya. “Kenapa aku jadi seperti ini? Harusnya aku bisa kuat jika pertanyaan seperti itu keluar dari Ian,” lirihnya. Hana merasa bersalah dengan semua ini, hingga membuat suaminya marah. Dia begitu bodoh sehingga bisa-bisanya mengatakan apa yang harusnya tidak ia katakan. Setelah bertahun-tahun menikah, kenapa bisa-bisanya dia mengatakan hal itu? Berharap jika seseorang yang sudah lebih dari dua puluh tahun, akan datang dan menepati janjinya. “Huh, Rin, sadar! Dia pasti sudah menikah! Tidak mungkin dia masih memegang janjinya. Janji yang bisa dibilang hanya omong kosong belaka, hanya janji anak kecil. Tidak lebih.” "Permisi!" Hana menengadah kala seseorang menyapanya. Wanita itu tersentak kaget saat melihat seorang lelaki muncul di hadapannya tiba-tiba. Dia segera berdiri, waspada. Takut jika tiba-tiba lelaki itu menyerangnya, zaman sekarang orang-orang bisa melakukan apa saja. Lagi pula, tempat dan waktunya saat ini sangat cocok untuk melakukan tindak kriminal pada seseorang. Walaupun Hana tidak jago dalam bela diri, tapi dia cukup tahu dasar-dasar ilmu Tae Kwon Do, mematahkan satu tangan seseorang masih bisa. "Ehm, maaf. Saya hanya mau numpang tanya, keluar dari tempat ini lewat mana?" Hah? Hana melongo beberapa saat. "Saya ke sini bersama anak saya." Lelaki itu menoleh ke belakang, di mana puteranya berdiri, memperhatikan. Lelaki itu kembali menatapnya. "Tadi Niko minta diantar jalan-jalan ke tempat ini. Karena keindahannya, kami sampai lupa waktu. Dan karena gelap, kami tidak tahu jalan pulang," jelasnya. Tubuh Hana yang tadi reflek tegang kini berangsur-angsur menghilang. Dia lega karena ternyata orang di hadapannya ini bukanlah orang jahat. Hanya orang yang tersesat. Memang tempat itu sangat luas. Jadi tidak heran orang-orang yang datang ke sini bisa tersesat. "Maaf, Pak. Tadi saya kira orang jahat. Hehe," ringisnya. Lelaki itu terkekeh, setelah mengobrol sebentar akhirnya Hana mengajaknya untuk mengikutinya, menunjukkan jalan. Lelaki itu memperkenalkan dirinya dengan nama Bambang, seorang kepala sekolah di Jakarta. Entah apa nama sekolahnya, tadi dia menyebutnya tapi Hana sudah lupa. "Jadi Bapak ke sini tadi sama istri?" "Iya, tapi karena dia tidak tahan hawa di sini, dia segera pulang. Maklum, Jakarta kan panas.” Hana mengangguk mendengar ucapannya. Ya, di sini memang dingin. Sedingin hatinya. "Pak! Pak Bambang!" Teriakan seseorang mengejutkan mereka. Hana melirik Pak Bambang, dia kelihatan bingung. Hana menebak kalau Pak Bambang tidak tahu siapa yang memanggilnya. "Ah, akhirnya ketemu!" Seorang lelaki kini berdiri dengan sedikit membungkuk di hadapan mereka, kedua tangannya bertumpu pada lutut. Napasnya ngos-ngosan terbukti dari badannya yang nampak naik turun tidak beraturan. "Siapa kau?" Pak Bambang bertanya, lelaki itu menegakkan tubuhnya. Hana menilik lelaki tak dikenal itu yang ternyata sedikit tinggi darinya. Karena gelap, Hana tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya. Apa dia tampan? Ah, kenapa otakku gesrek seperti ini? "Ini saya, Pak. Ibu di villa menunggu, karena khawatir beliau meminta saya mencari Bapak.” "Oh, kau. Saya dan Niko tadi tersesat. Untungnya ada wanita ini yang mau mengantar kami pulang." Pak Bambang menunjuk Hana. Tatapan lelaki di hadapan mereka kini beralih menatap Hana. Dia mengangguk sedikit, memberi hormat, yang dibalas dengan anggukan pula oleh Hana. "Terima kasih," ujar lelaki itu pada Hana. Suaranya itu ... membuat Hana tertegun. Hana pernah mendengar suara itu, namun dengan versi lain. Suara itu, begitu familiar di telinganya. Suara yang ... entah kenapa membuat dadanya bergemuruh. Suara yang membuatnya rindu. "Hei, Anda tidak apa-apa?” Haa mendongak saat Pak Bambang menggoyang-goyangkan tangan di depan wajahnya. Hana merutuki dirinya karena bisa-bisanya melamun di saat seperti ini. "Ya, Pak?" "Anda melamun sejak tadi, ada apa?" "Tidak ada apa-apa." Pak Bambang mengangguk. Tanpa bicara apa-apa lagi, Hana menuntun mereka keluar dari perkebunan itu. Selama di perjalanan, mereka---Pak Bambang dan lelaki itu---mengobrol di belakang sana. Hana memang berjalan lebih dulu di depan mereka. Dari pembicaraannya Hana akhirnya tahu kalau lelaki itu adalah guru yang mengajar di sekolah yang sama dengan Pak Bambang. Setiap Hana mendengar suara lelaki itu, jantungnya tiba-tiba memompa dengan cepat. Wanita itu menyentuh d**a, tepat di mana jantungnya berada. Suara lelaki yang entah siapa namanya itu kini membuatnya bermain-main dengan kenangan. Apakah lelaki itu ... Kian? Kian-ku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN