Kian-ku

1161 Kata
"Arin ... Kian kangen sama kamu ...." Ucapan itu membuat Hana tertegun, bola matanya melebar. Kian? Dia benar-benar Kian? Kian-ku? Atau ... bukan? "Ka–kau benar-benar Kian?" tanya wanita itu. Entah kenapa Hana sangat berharap jika lelaki itu benar-benar Kian. Azka mengeratkan pelukannya. Rasa nyaman itu benar-benar membuatnya tenggelam. Masih dengan mendekap Hana, dia mengangguk. Hana menjerit dalam hati. Tuhan, sesuatu di hatinya ... benar-benar menyesakkan. Bukan karena rasa sakit, akan tetapi rasa bahagia yang seakan membuat dadanya penuh. Hana merasakan punggungnya basah, dalam hati ia bertanya-tanya, apakah Kian-nya menangis? Apakah lelaki itu juga bahagia bisa bertemu dengannya, sama seperti yang dia rasakan? Hana membiarkan posisi mereka seperti itu beberapa saat, di mana Azka yang merengkuhnya dari belakang, dengan sorotan cahaya arunika, juga dengan hembusan angin sejuk yang membelai mereka. Tidak ada yang berkata apa-apa. Mereka hanya diam, menikmati pertemuan pertama mereka setelah berpisah dua puluh tahun lamanya. Lelaki itu tiba-tiba melepaskan pelukannya, dan perasaan takut kehilangan itu seketika menyergap Hana. Tanpa menoleh, wanita itu meraih lengan lelaki itu agar dia tidak meninggalkannya untuk ke sekian kalinya. "Jangan pergi," gumamnya pelan, tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun lagi. Lelaki itu diam, lalu menyentuh kedua bahu Hana dan membantunya berdiri. Ketika ia membalikkan tubuh Hana menghadapnya, Hana tertegun melihatnya. Dia ... Azka! Azka, lelaki yang bersama Pak Bambang beberapa hari yang lalu. Hana mundur beberapa langkah, terkejut! Azka ... Jadi, benar dia Kian? Pertama kali bertemu dengannya, wanita itu sudah punya firasat bahwa dia adalah Kian. Dia tidak salah! Dia benar-benar Kian-ku! Cinta pertamaku! Bukan hanya Hana yang terkejut, Azka pun juga merasakan hal yang sama. "Mbak Hana ... kau Arin?" Hana mengangguk dengan kedua sudut mata yang berkaca. Azka mendekati Hana. Menangkup wajah wanita itu dengan kedua tangannya. Masih tidak percaya kalau dia sudah bertemu dengan Arin-nya. "Hatiku memang tidak pernah salah. Sejak bertemu denganmu di tempat ini, aku sudah merasakan kalau kau adalah Arin. Arin-ku." Hana terbelalak. Jadi selama ini lelaki itu juga merasakan hal yang sama? Firasat yang sama? "Rin ...," panggil Azka. Hana menengadah, menatap wajahnya. "Aku me—“ "Azka?" panggil seseorang dari balik dinding teh. Mereka tersentak mendengar panggilan itu, reflek Hana menjauhkan diri dari Azka. Seorang wanita lantas berjalan menghampiri mereka. Hana memperhatikan wanita itu, dia sangat cantik. Wanita itu mengerling ke arah Azka lalu menatap Hana dengan tatapan tidak suka. Wanita ini ... jangan-jangan dia kekasihnya Kian? Tanya Hana dalam hati. Pikiran itu membuat Hana mencelos. Kenapa dia tidak pernah memikirkan hal itu sejak dulu? Dua puluh tahun bukanlah waktu sebentar untuk bisa melupakan rasa suka terhadap seseorang. Dan, kehadiran serta sikap wanita itu benar-benar bisa menjelaskan semuanya. "Bu Ambar? Ada apa?" tanya Azka padanya. Wanita itu masih menatap Hana dengan tajam untuk beberapa saat. Ia lalu beralih menoleh pada Azka. "Pak Bambang mencarimu, kamu harus ke sana secepatnya," ujar wanita yang dipanggil Ambar oleh Azka. Hana menatap Azka, ada perasaan tidak rela jika Azka meninggalkannya, padahal mereka baru saja saling mengetahui kenyataan bahwa mereka adalah sahabat yang sudah terpisah sejak lama. Azka menatap Hana dengan tatapan lembut. "Rin, sebenarnya aku tid—“ "Azka! Ayo, kita harus pulang!" sela Ambar dengan nada kesalnya. Huh, dasar! Apa dia tidak bisa diam sebentar saja? Azka berdecak menatap Ambar lalu menoleh kembali pada Hana. "Rin, aku akan kembali menemuimu. Jaga dirimu untukku, ya?" Setelah mengatakan itu, Azka segera pergi diikuti oleh Ambar, meninggalkan Hana yang kini merasa sedih akan kepergiannya. Jaga dirimu untukku, ya? Ucapan Azka bergema dalam benak Hana. Itu ... itu kata-kata yang sama seperti dua puluh tahun yang lalu. Kata-kata yang Azka ucapkan sebelum pergi. * "Bunda, besok Ian mau ke sekolah dijemput Bunda. Boleh, tidak?" Pertanyaan Ian membuat Hana mengerutkan kening. Tumben Ian memintanya menjempunya dari sekolah? Dari sejak TK, Ian selalu diejemput oleh ayahnya. Katanya, dia suka mempelihatkan ayahnya kepada teman-temannya bahwa ia punya ayah yang gagah berani dan sangat menyayanginya. Namun, kenapa sekarang dia tidak ingin dijemput oleh ayahnya? "Tumben Ian mau dijemput Bunda?" tanya Hana. Ian, yang sedang menikmati kue brownis buatan Hana kini menengadah, menatapnya yang kini tengah menyiapkan menu makan malam. "Ehm ... Ayah selalu—eh, tidak apa-apa kok, Bun." Kening Hana mengernyit? Ada apa dengan Ian? Ayahnya selalu apa? "Ayahmu kenapa, Sayang?" tanyanya penuh selidik. Kedua mata Hana menyipit curiga. Entah kenapa ada perasaan cemas yang merasuk ke dalam hatinya. Ian menggeleng. Dia mengulas senyum, berusaha membuat Hana tenang. "Tidak apa-apa, Bun. Ian hanya langsung kepikiran Ayah. Oh iya, Bunda mau kan, jemput Ian dari sekolah?" Masih dengan perasaan cemas, Hana mengangguk. Sikap Ian seperti itu membuat kepalanya berasumsi banyak hal. Dalam hati Hana berdoa, semoga saja Rama tidak melakukan hal yang membuat Ian akan membencinya. * Jarum jam masih setia menghitung detik demi detik. Sang dewi malam pun sudah muncul sejak tadi, menyinari malam yang gelap tanpa satu pun bintang yang menghiasi. Langit itu ... terasa kosong, walau bulan ada di sana memancarkan sinarnya dengan semangat. Sama seperti hati Hana. Rama, ada di sini, bersamanya. Tidur dengan memunggunginya. Dia ada, namun seakan tiada. Dia ada namun tak terjangkau. Hana menghela napasnya dengan kasar. Entah sudah berapa lama mereka selalu seperti ini. Tidur dengan saling memunggungi. Terkadang, Hana berpikir untuk pergi darinya. Pergi agar dia bebas, agar hatinya pun tidak selalu merasa terkekang dengan perasaan bersalah yang terus menerus merajam jantungnya. Hana bergerak mengubah posisi hingga menghadap Rama, lelaki itu masih setia memunggunginya. Entah sudah berapa lama Hana tidak pernah menyentuh punggungnya, entah sudah berapa lama dia tidak merasakan dekapnya. Entah sudah berapa lama, dia menahan rasa sakit ini. Tangan Hana bergerak menyentuh punggung Rama, sayangnya lelaki itu menepisnya. Hati wanita itu seakan dicubiti tangan-tangan jail. Ingin sekali dia menjerit, mempertanyakan pada Tuhan, kapan Rama bisa kembali menerimanya. Hana tahu kesalahannya saat itu sangat fatal bagi Rama, namun tidak bisakah ia mendapat maaf? "Mas, bisa tidak, kau memaafkanku? Aku hari itu tidak sadar, Mas. Maafkan aku. Saat itu aku han—“ "Memaafkanmu?" Rama bangung dari tidurnya. Ia turun dari ranjang dan berdiri. Hana ikut bangun dan duduk menghadapnya. Rama mengeraskan rahangnya. "Dengan mengatakan kalau kau mencintai lelaki lain saat kita bersatu, apa itu bisa dimaafkan?" Napas Hana tercekat. Aku ... memang salah. "Maaf," lirih Hana. Kepala wanita itu menunduk karena air mata yang tak sanggup dia tahan akhirnya tumpah membasahi wajahnya. Pertanyaan yang selalu saja menggema di kepalanya kini kembali muncul. Kapan Rama akan memaafkannya? "Sudahlah, Hana. Kau tidak perlu meminta maaf. Biarkan saja semua ini berjalan semestinya." Hana menengadah demi mendengar apa yang akan dikatakan Rama selanjutnya. "Biarkan kau mencintai lelaki itu, dan aku melakukan apa yang menurutku benar ...." Rama pergi setelah mengatakan itu, meninggalkan Hana. Sesak inilah yang dirasakannya. Perasaan bersalah yang sepertinya tidak ada habisnya untuk membuatnya terus merasakan sakit. Hana memang tidak mencintai Rama, namun dia selalu mencoba menerima lelaki itu sebagai suaminya. Hana mencoba menjadi istri yang baik bagi Rama. Hana ... belum mencintainya, tapi wanita itu selalu berusaha agar hati dan pikirannya hanya tertuju kepada suaminya. Di saat-saat seperti inilah, aku membutuhkanmu, Kian. Aku butuh kamu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN