Kamalea tentu saja tidak merasa baik-baik saja. Ia merasa bodoh, naïf, dan yang harus ia lakukan saat ini adalah benar-benar melupakan bayangan Deon. Jujur, kadang harapan agar Deon mau kembali padanya sering muncul. Harapan cerita cintanya bisa menjadi serupa novel juga masih sering melintas. Tiba-tiba saja Deon membatalkan pernikahannya dan mengejar dirinya, itu juga sering terlintas di benaknya. Namun, saat memikirkan segala risiko di balik semua tindakan itu, Kamalea merasa semakin bodoh dan tidak tahu diri. Ingin sekali menampar diri sendiri. Meyakinkan bahwa ini kisah nyata, sekali lagi ia harus mengingatkan dirinya jika cerita novel itu hanya sebuah fiksi yang diramu menjadi kisah indah. Wanita dengan rambut ikal sepunggung itu hanya bisa menghela napas. Mengingat siang tadi ba

