42. Aurora Dewanta

1681 Kata

Kamalea berusaha membunuh canggung yang ia rasakan. Sungguh aneh berinteraksi dengan Revka seperti ini. Mereka yang sedari kecil sering bertengkar, saling meledek, tiba-tiba harus berada di momen canggung seperti sekarang. Namun, sepertinya hanya dirinya yang canggung, buktinya wajah Revka biasa saja. Laki-laki itu bangkit begitu melihat kehadiran dirinya.   “Lo yang bikin?” tanya laki-laki itu dengan suara serak dan sedikit lemah. Khas orang sakit.   Kamalea meletakkan nampan, lalu mengambil kursi untuk duduk. “Bukan, nggak usah khawatir bakalan makan masakan gue,” ujar wanita itu dengan nada ketus. Mengingat momen di mana ia pernah membuatkan bubur untuk Revka yang kala itu sedang sakit. Bukannya sembuh, laki-laki itu malah tambah sakit perut.   Revka menahan senyum, tetapi kembali

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN