07

1074 Kata
Jiles menggembungkan pipinya. Pikirannya tengah berantakan saat ini, ditambah perasaannya juga terasa tidak nyaman. 'Kenapa aku merasa bersalah pada Jina? Memangnya aku salah apa?' batin Jiles. Ia kemudian berusaha mengenyahkan semua pemikiran yang mengganggu kepalanya, dan melajukan skuternya lebih cepat. Sesampainya di sekolah, saat ia sedang memakirkan skuternya, tanpa ia sadari ada lima orang anak laki-laki yang mendekatinya. Salah satu dari mereka, kemudian menoyor kepala Jiles dari belakang, membuat ia tersentak kaget, dan otomatis berbalik badan. "Hah, anak culun ini, biasanya tidak pernah kelihatan di permukaan, sekalinya terlihat membuat masalah," tutur salah satu dari mereka. Jiles hanya bisa diam sembari menundukkan kepalanya, dan bergerak mundur perlahan untuk menjauh. "Hei, sialan! Tatap aku!" buk! Perut Jiles tiba-tiba ditendang menggunakan lutut, hingga tubuhnya otomatis membungkuk dengan sebelah tangan memegangi perutnya. "Ma-maaf, a-aku hanya..." Jiles menjeda sejenak kalimatnya. Untuk apa dia minta maaf? Jelas-jelas mereka yang salah, ia tidak boleh lemah begini! Batin Jiles. Jiles akhirnya memberanikan diri untuk menatap mereka, sambil melanjutkan perkataannya yang sempat tertunda. "Tapi apa yang kalian lakukan itu 'kan salah! Kenapa kalian membully Jina hanya karena dia berbeda?!" "Wah, melunjak anak ini! Mau jadi pahlawan kesiangan?" sahut salah satu dari kelima anak itu. "Aku bukan mau jadi pahlawan, tapi jelas kalian juga tahu apa yang kalian lakukan itu salah! Memangnya kalian sendiri mau diperlakukan seperti kalian memperlakukan Jina? Dihina, dibully, bahkan dilukai! Jina itu perempuan! Kalian laki-laki tapi malah melukainya. Laki-laki saja tidak boleh dilukai, ini malah perempuan," Kerah baju Jiles ditarik. "Cukup ngocehnya, culun!" Mereka tidak menyadari kalau Jina sedari tadi memperhatikan mereka sedari jauh. Ia cukup terkejut, bisa mendengar apa yang keenam anak laki-laki itu bicarakan. Semakin hari, rasanya ia merasa semakin banyak hal aneh terjadi pada dirinya. Hal-hal tak lazim semakin terjadi pada dirinya. 'Ck, anak-anak sialan. Seandainya saja mulut sampah mereka terbakar, dan kepalanya pecah sekalian. Punya kepala, tapi tidak ada otaknya,' batin Jina. Baru beberapa menit setelah ia membatin demikian. Dua orang anak laki-laki yang tadi paling banyak mengoceh, tiba-tiba berteriak-teriak kesakitan sembari membuka mulutnya yang mengeluarkan api, hingga mulut mereka terbakar, dan perlahan menjalar ke wajah. Membuat semua orang di sekitar terkejut serta panik, termasuk Jina. Duar! Jina melebarkan matanya, tiba-tiba ada juga yang kepalanya meledak, di antara kelima anak itu. Namun ternyata tidak hanya satu, selang beberapa menit kemudian, ada anak lain yang menyusul. Semua murid-murid yang melihat berteriak kaget dan berlarian menjauh termasuk Jiles. Ia berlari ke sudut gedung sekolah, berjongkok di sana sembari menutup telinganya. Guru-guru serta penjaga keamanan tak lama datang menghampiri kelima murid yang sudah tanpa kepala saat ini. "Apa yang terjadi? Ada apa ini?" seru hampir semua orang yang ada di sekolah. Sementara Jina langsung berlari masuk ke dalam gedung sekolah. Ia sendiri merasa ketakutan, dengan apa yang baru saja terjadi. Ia pergi ke kelasnya, dan duduk di bangkunya. Seluruh tubuhnya gemetaran, dan pikirannya mendadak blank. Saat ia menundukkan kepalanya, dan melihat kedua tangannya. Ia bisa melihat noda hitam di tangannya, melebar. 'Ada apa ini?' batin Jina. ••• Walter mengernyit, melihat tayangan di televisi, yang memberitakan kejadian aneh di sekolah. Ada lima orang anak yang kepalanya meledak. Namun sebelumnya, mulut mereka terbakar lebih dahulu. Menurut saksi, apinya keluar dari dalam mulut. Bukan ada api yang dimasukan ke dalam. Saksinya, merupakan seorang anak laki-laki dengan rambut berponi kotak, dan punya pipi yang gembil. Anak itu mengaku, sebelumnya sedang diganggu, tapi kelima anak yang mengganggunya itu, tiba-tiba menjadi seperti itu. Jelas si anak itu menjadi shock, apa lagi orang tua anak-anak itu mengamuk padanya, sambil menuduh yang tidak-tidak. Yang lebih membuat Walter tercenung, adalah, kejadian itu terjadi di sekolah Jina. 'Apa ini perbuatannya?' batin Walter. 'Kalau dia tidak bisa menahan hasrat binatangnya, kekuatan-kekuatan aneh akhirnya akan ia kuasai,' Walter menatap foto besar yang terpajang di ruang tengah. Fotonya, bersama Jino dan Alice, serta Jina saat berusia satu tahun. Sudah lama Walter tidak mengunjungi keponakannya. Terakhir saat Alice meninggal. Walter masih merinding, mengingat tatapan mengerikan Jina saat pemakaman ibunya. Dia sudah tahu setelah itu akan banyak hal tidak beres yang akan terjadi. Harusnya dia ikut membantu Jino mengurus Jina, karena Jino pasti tidak akan sanggup mengontrol calon monster seperti Jina sendirian. 'Dimana kira-kira Jina sekarang? Dia sudah pulang sekolah belum ya? Aku ke sekolahnya dulu saja untuk memastikan,' ••• Sekolah jadi diliburkan, karena kejadian tadi pagi. Saat ini di sekolah banyak sekali mobil dan orang-orang. Ada polisi, ambulan, juga reporter. Jina menatap iba Jiles yang sedang dikerumuni orang-orang untuk diwawancara. Namun dia tidak bisa menjawab. Ada di keramaian saja, sudah membuatnya takut, ditambah ia dihujani pertanyaan tentang kejadian mengerikan tadi. Jiles terlihat berusaha menahan tangis, sambil memukul-mukul kedua telinganya. Dia memang sempat bisa menjawab saat polisi meminta keterangan, tapi sekarang kerumunan orang semakin banyak. Kalau saja murid-murid tidak ada yang menyebarkan kejadian ini ke media sosial, awak media tidak akan dengan cepat datang kemari. 'Hah, seandainya mereka...' Jina hampir saja membatin hal yang tidak-tidak, namun ia segera sadar untuk berhenti, setelah teringat kejadian tadi pagi. Jina berdecak, ia berlari mendekati kerumunan, dan mendorong orang-orang yang mengerumuni Jiles. "Menjauh sialan! Apa kalian tidak lihat, temanku tertekan dengan kalian?!" seru Jina. "Aduh, anak zaman sekarang tidak ada sopan-sopannya ya?" sahut salah satu reporter. "Memang kau orang tua ada sopan santunnya?" balas Jina. "Minggir kalian!" Orang-orang enggan untuk menyingkir, sementara Jina tidak menyerah. "Sialan! Kepala kalian mau pecah juga ya?!" teriak Jina. Saking frustasinya, ia tanpa sadar, mengeluarkan kalimat yang tidak seharusnya ia katakan. Namun belum sempat sesuatu terjadi, seseorang tiba-tiba menyentuh bahu Jina. Dan semua orang mendadak berhenti bergerak, membuat Jina membelalakan matanya terkejut. "Ya ampun, hampir saja," ucap seseorang yang sedang bahu Jina. Jina pun menolehkan kepalanya ke belakang, dan menemukan pamannya yang sedang menatapnya dengan tatapan sulit diartikan. "Kita pergi sekarang. Setelah waktu kembali berputar, apa yang kau katakan tadi akan menjadi nyata," ujarnya. "Orang lain nanti juga akan menyadari, kalau kau penyebab semua kekacauan ini," "Pa-paman, apa-apaan? Jadi memang benar, aku yang menyebabkan kepala b******n-b******n itu meledak? Kenapa bisa? Aku tidak melakukan apapun," kata Jina. "Sekarang lebih baik kita pergi dulu dari sini, dalam sepuluh menit, waktunya akan kembali berputar," tutur Walter. Jina menepis tangan Walter dari bahunya, dan mendorong orang-orang yang mengerumuni Jiles. Ia kemudian memegangi salah satu tangan Jiles, yang ada di telinganya. "Kita pulang dengannya," ucap Jina. Walter menatap sejenak Jiles. "Dia... werewolf, tidak bisa satu tempat hanya dengan kita," "Apa-apaan?! Memangnya kenapa? Kalau begitu aku tidak mau ikut Paman!" "Kau ini ya, dasar anak nakal," decak Walter kesal, dan dengan terpaksa menuruti permintaan Jina.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN