05

1082 Kata
Jiles berlari tanpa tentu arah, yang penting bisa menghindari orang tadi. Ia sebenarnya berpikir, apa mungkin orang itu hanya halusinasinya saja? Tapi jelas-jelas orang itu menghentikan skuternya, dan berbicara padanya. Tetapi bagaimana bisa? Rupa, bahkan suaranya persis seperti dirinya. Bahkan kembar identik pun rasanya tidak akan semirip itu. Dan jelas, ia tidak punya kembaran. Namun setiap ia memasuki gang baru dengan pencahayaan yang minim, orang itu akan kembali muncul di depannya, sambil menenteng skuternya. Jiles yang mulai tidak tahan harus terus menghindar, akhirnya berhenti berlari, dan memutuskan untuk menghadapi orang itu. Meskipun ia ketakutan setengah mati. "Tidak kabur lagi?" tanya orang itu sembari mengayunkan skuter miliknya ke udara. Jiles menatap skuter kesayangannya dengan cemas, takut dia membanting skuternya. "Si-siapa kau?" Jiles bertanya dengan terbata dan gemetaran. "Kenapa tanya? Seharusnya kau sudah tahu siapa aku dong. Aku itu ya dirimu sendiri," balas orang itu. Jiles berdecak. "Jangan bercanda! Apa maumu?!" "Ya ampun, apa yang bisa diambil dari anak sepertimu?" "Sekali lagi aku tanya, siapa kau?!" "Aku itu kau," Jiles menggelengkan kepalanya. Orang itu menghela napas, sembari berjalan menghampiri Jiles dengan langkah pelan, yang membuat Jiles malah jadi merasa terancam. "Aku itu... kau yang akan muncul saat kau sedang terancam, karena kau tidak bisa melindungi dirimu sendiri," Mata Jiles melotot mendengarnya. "Kau pikir aku pengecut?!" "Itu kenyataan dan sangat terlihat," "Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu, tapi aku sekarang tidak dalam kondisi terancam, aku baik-baik saja. Jadi jangan ganggu aku!" "Hwang Jina," ucap orang itu sembari menyeringai kecil, sementara Jiles mematung begitu mendengar nama gadis itu disebut. "Dia keturunan vampire sakit jiwa, dan manusia yang punya kelebihan langka, karena ia keturunan vampire serta manusia. Apa kau tahu itu?" Jiles hanya diam. Dia tidak tahu, dia baru dengar tentang hal ini. Dan rasanya konyol, mana ada makhluk mitologi di kehidupan nyata? Orang itu tiba-tiba tertawa. "Yah, mana mungkin kau tahu? Bahkan kau tidak tahu siapa dirimu sendiri," "Kau mau tahu tidak kenapa ibumu mati saat melahirkanmu?" Jiles lagi-lagi tidak menjawab. "Itu karena dia melahirkan seorang anak dari keturunan yang tidak biasa. Meskipun ibu tidak mati, ibu kemungkinan akan cacat seumur hidup. Kecuali ibu punya fisik yang kuat, seperti nenek Jina, yang bisa menikah dan melahirkan anak dari keturunan vampire secara normal," "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, aku mau pulang," ucap Jiles pada akhirnya, setelah sedari tadi ia hanya diam. "Yah, silahkan, aku tetap akan ada di sampingmu meskipun tidak terlihat." ucapnya sembari tersenyum manis, yang bagi Jiles malah terlihat mengerikan. Meskipun dia jadi seperti bercermin, tapi senyuman dirinya sendiri tidak semengerikan orang aneh yang mengaku sebagai dirinya itu. "Hei, tapi kau benar-benar tidak mengerti dengan apa yang aku bilang? Benar-benar bodoh. Kau hanya pintar di bidang akademik ya?" tutur orang itu. "Jadi maksudmu aku keturunan apa hah?" tanya Jiles dengan ekspresi datar karena mulai jengah. "Wah, sudah berani bocah ini. Kau itu keturunan werewolf. Kau sama sekali tidak tahu kalau ayah keturunan werewolf? Selama ini, kau pikir ayah hampir tidak pernah pulang hanya karena pekerjaan? Tidak, bodoh. Dia pulang ke tempatnya berasal," "Jangan bercanda! Mana ada yang seperti itu! Mustahil! Aku manusia normal!" "Ya, yaa, terserah kalau tidak percaya. Padahal kemunculanku saja sudah mustahilkan? Ditambah, kau padahal malam ini baru melihat Jina yang sebenarnya. Masih tidak percaya kalau Jina sungguhan keturunan vampire? Dan bukan tidak mungkin, kalau werewolf itu ada." "Kembalikan skuterku," ucap Jiles, seolah orang itu tidak mengatakan apapun padanya tadi. Orang itu tentu kesal, tapi pada akhirnya menyerahkan skuter berwarna silver dan biru navy itu pada pemiliknya. Jiles segera merebutnya, lalu berbalik badan untuk pulang. Ia tidak menyadari kalau orang itu berjalan mendekatinya, dan sebelum Jiles benar-benar pergi, orang itu masuk ke dalam tubuh Jiles. Jiles sedikit tersentak, karena seperti ada yang mendorongnya dari belakang. Dia tidak tahu kalau itu reaksi tubuhnya saat dimasuki seseorang yang lain. Ia pun menolehkan kepalanya ke belakang, untuk mencari keberadaan orang itu. Tetapi orang itu sudah tidak ada, membuat Jiles bergidik ngeri dan memilih segera pergi. ••• Jina menatap wajah kusutnya di cermin, ia kemudian kembali menundukkan kepalanya sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar, disertai suara isakan tangis, yang beberapa menit lalu baru ia keluarkan. Kalau sudah rindu dan teringat ibunya, tidak hanya perasaan Jina yang terasa sakit, tapi sampai ke fisiknya. Rasanya benar-benar sakit, hingga Jina tidak tahu bagaimana cara mengumpamakan rasa sakitnya. Jina tidak pernah menangis, selain karena rindu dengan ibunya. Kehidupan sekolah yang buruk, ayah yang selalu sibuk, membuat Jina berpikir, hanya ibunya di dunia ini yang mencintainya. Meskipun Jino sudah berusaha meluangkan waktu untuknya, tapi tetap saja... dia lebih sering tidak ada di rumah, ada di rumah pun, Jino bukan berarti menghabiskan waktu dengan Jina. Dia akan sibuk sendiri. Memasak, adalah satu-satunya hal yang bisa Jino lakukan untuk Jina. Jina ingin, Jino menghampirinya duluan dan bertanya bagaimana perasaannya hari ini, sama seperti yang ibunya lakukan dulu. Namun sayang, itu tidak pernah terwujud. Padahal perasaan Jina setiap hari merasa buruk karena sekolah yang terasa mengerikan baginya. Meskipun pada akhirnya, dia bisa balas dendam dengan kekuatannya. Tapi tetap saja... bukan berarti luka di hatinya jadi sembuh. Ditambah, fisiknya selalu jadi kian memburuk setiap ia melakukan aksinya. Padahal ia lakukan itu untuk melepas dahaganya juga. Melepas dahaga, itu hal lazim 'kan? Meskipun cara ia melepasnya itu berbeda. Begitu pikir Jina. Jina itu tipe orang yang pendiam, dia tidak akan bisa bicara duluan, kalau tidak ditanyai lebih dulu. Itu sebabnya, Jina selalu menunggu, kapan ayahnya akan menanyai bagaimana kehidupannya di sekolah, serta perasaannya. Bayangan seorang anak laki-laki tiba-tiba muncul di benaknya, yang membuat Jina sampai terkejut sendiri karena kemunculannya di benaknya. Jina langsung mengangkat kepalanya, kemudian menatap sejenak keluar jendela. 'Memangnya apa yang bisa dilakukan Jiles? Dia tidak akan mungkin bisa menghiburku. Tapi... dia memang bisa jadi mainanku sih. Hah, tapi mainan apa? Memangnya aku perempuan m***m apa? Kalau aku jadi laki-laki pun, aku tidak akan menjadikan perempuan mainan. Memangnya aku kucing, dan Jiles tikus karet?' batin Jina. Jina memilih mengabaikan pikirannya, tapi justru ia malah jadi makin teringat. Ia berdecak, sembari bangkit berdiri dan mengambil jaketnya. Ia pun tidak tahu apa yang akan ia lakukan pada Jiles, tapi pikirannya mengatakan, agar ia menemui anak laki-laki itu. ••• Jiles pergi ke dapur, setelah ia baru selesai mandi dan mengenakan piyamanya. Ia harus minum s**u hangat sebelum tidur, agar tidurnya nyenyak. Saat sedang sibuk mengaduk susunya, sebuah suara tiba-tiba terdengar di belakangnya, dan berhasil mengejutkannya hingga ia mematung. "Wah, kau ternyata pakai piyama karakter dan minum s**u sebelum tidur? Selain gaya rambutmu yang seperti anak TK, ternyata tingkahmu juga ya?"   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN