Malam turun perlahan, membawa sunyi yang berbeda dari biasanya.
Adrian berdiri di depan jendela kamarnya, tirai dibiarkan sedikit terbuka. Hujan mengguyur tanpa jeda, menimpa atap dan dedaunan dengan irama yang rapat. Tangannya terangkat tanpa sadar, ujung jarinya menyentuh bibir sendiri—tempat sentuhan itu masih terasa, samar namun nyata.
Naumi.
Bayangan gadis itu kembali hadir, terlalu jelas untuk diabaikan. Cara ia terkejut, cara matanya melebar, dan kecanggungan yang tertinggal setelahnya. Adrian menghela napas pelan, mencoba menata pikirannya. Ini tidak seharusnya mengganggunya sejauh ini, pikirnya. Namun tubuhnya tidak sepenuhnya setuju.
Lampu kamar masih menyala ketika tiba-tiba listrik padam.
Adrian mengangkat kepala. Suara hujan kian keras, menelan segala bunyi lain. Ia meraih ponsel dari meja, menyalakan layar, lalu senter. Cahaya putih memotong gelap, menenangkan. Ia berdiri, berniat mengecek sebentar, lalu kembali.
Dan di sela hujan yang menggila itu, ia mendengar sesuatu.
Teriakan.
Pelan. Tertahan. Seperti panggilan yang nyaris tenggelam.
Adrian berhenti melangkah. Ragu sesaat—mungkin hanya suara hujan, mungkin hanya pikirannya sendiri. Namun teriakan itu datang lagi, lebih jelas kali ini, terpecah oleh dentum air.
“Naumi?” gumamnya.
Ia bergerak cepat. Keluar kamar, menuruni lorong yang gelap, cahaya senter menari di dinding. Sumber suara itu mengarah ke dapur. Semakin dekat, teriakan itu berubah menjadi isak yang tertahan.
Adrian menyorotkan senter ke dalam.
Naumi.
Gadis itu meringkuk berjongkok di sudut dapur, wajahnya tersembunyi di antara lutut. Kedua tangannya menutup telinga, tubuhnya bergetar hebat. Gelap seolah memeluknya terlalu erat.
Adrian berjongkok di depannya, menurunkan tinggi badannya agar sejajar. “Naumi.”
Suara itu—tenang, rendah—memotong kepanikan.
Naumi mengangkat wajah perlahan. Begitu melihat cahaya dan sosok Adrian di hadapannya, ia terisak dan refleks meraih, memeluknya kuat. Tangannya mengait di leher Adrian, seolah itulah satu-satunya jangkar yang tersisa.
“M-Mas … aku takut gelap,” katanya putus-putus.
Adrian membiarkan pelukan itu terjadi. Tidak tergesa. Tidak kaku. Ia menahan tubuh Naumi yang melemas, satu lengannya menyangga punggung gadis itu, yang lain menahan bahu dengan mantap.
“Tenang,” ucapnya pelan. “Saya di sini.”
Napas Naumi masih berantakan, tubuhnya gemetar. Adrian tidak melepaskannya. Ketika ia merasakan berat tubuh Naumi makin bertumpu, Adrian menggeser posisi, lalu dengan gerakan hati-hati mengangkat Naumi—bridal carry—menjauh dari dapur yang gelap.
Ia tidak menuju kamar Bu Ratna. Takut mengganggu. Langkahnya mantap ke arah kamarnya sendiri. Cahaya senter ponsel menjadi satu-satunya penerang, memotong kegelapan dengan tenang.
Di kamar, Adrian menutup pintu, menyorotkan senter ke sekeliling, memastikan aman. Ia menurunkan Naumi perlahan di tepi ranjang, duduk, lalu berlutut di depannya.
“Kamu aman di sini,” katanya lembut.
Namun Naumi tidak melepaskan. Tangannya masih melingkar di leher Adrian, jemarinya mencengkeram kain kemeja seolah takut ia akan pergi.
“Mas… jangan pergi,” bisiknya, nyaris tak terdengar.
Adrian terdiam sejenak. Lalu ia mengangguk kecil—keputusan yang diambil tanpa banyak pikir.
“Iya,” katanya. “Saya di sini.”
Ia tetap di hadapannya, membiarkan pelukan itu menenangkan Naumi sedikit demi sedikit, sementara hujan di luar terus mengguyur—tak lagi menakutkan, setidaknya untuk malam ini.
Adrian tidak langsung bergerak.
Ia tetap berlutut di hadapan Naumi, membiarkan pelukan itu bertahan beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Detak jantung gadis itu masih cepat, napasnya belum sepenuhnya stabil. Rambut panjang Naumi menyentuh pergelangan tangannya—hangat, nyata.
Dan di titik itu, sesuatu di dalam diri Adrian bergeser.
Bukan karena malam. Bukan karena gelap. Melainkan karena satu kesadaran yang datang pelan, tapi menghantam tepat di d**a.
Ia pernah berada di posisi ini.
Bertahun-tahun lalu.
Gadis itu—dengan mata yang sama, ketakutan yang sama—pernah bersembunyi di sudut ruangan yang gelap, menutup telinganya, menangis tanpa suara. Adrian mengingatnya dengan jelas. Hujan juga turun malam itu. Lampu juga padam. Dan ia juga berlutut, memanggil nama yang sama.
Naumi.
Tidak ada yang berubah. Tapi … sepertinya gadis itu juga belum menyadari siapa dirinya.
Waktu boleh berlalu, jarak boleh memisahkan, hidup boleh membawa mereka ke arah yang berbeda. Namun ketakutan itu tetap tinggal. Gelap selalu menjadi musuh Naumi—dulu, sekarang, dan mungkin seterusnya.
Adrian menelan ludah. Tangannya terangkat, ragu sesaat, lalu dengan gerakan pelan ia mengusap punggung Naumi—sekadar memberi tahu bahwa ia ada. Bahwa gadis itu tidak sendirian.
“Masih sama,” batinnya lirih. “Kamu masih takut gelap.”
“Dari dulu,” lanjut Adrian pelan. “Nggak pernah berubah.”
Ia teringat bagaimana dulu Naumi selalu menyalakan lampu kecil sebelum tidur. Bagaimana ia akan terbangun karena mimpi buruk, bagaimana tangannya gemetar ketika ruangan tiba-tiba gelap. Adrian dulu selalu datang—diam-diam, tanpa banyak kata—menyalakan lampu, duduk di sisi ranjang, memastikan Naumi tertidur kembali.
Ia mengira semua itu sudah terkubur.
Nyatanya, ingatan itu hanya tertidur.
Dan malam ini, semuanya bangun bersamaan.
Adrian menggeser tubuhnya sedikit, duduk di tepi ranjang agar sejajar. Ia membiarkan Naumi tetap memeluknya, satu lengannya melingkar protektif di punggung gadis itu. Cahaya senter ponsel masih menyala, menciptakan bayangan lembut di dinding kamar.
“Tenang, Naumi,” ucapnya lagi, lebih lembut dari sebelumnya. “Saya di sini. Gelapnya nggak akan nyentuh kamu.”
Kalimat itu keluar begitu saja—refleks lama yang kembali hidup.
Naumi menarik napas panjang. Tubuhnya perlahan mengendur, meski tangannya belum juga mau melepaskan Adrian. Di balik kelopak mata yang terpejam, rasa aman itu akhirnya datang—asing, tapi dikenali.
Adrian memejamkan mata sesaat.
Ia tahu, sejak malam ini, ia tidak lagi hanya menjaga Naumi karena tanggung jawab. Ia menjaganya karena perasaan lama yang tak pernah benar-benar pergi—perasaan yang diam-diam bertahan, sama seperti ketakutan Naumi pada gelap.
Tidak ada yang berubah.
Dan mungkin, memang tidak pernah benar-benar berakhir.
Naumi tertidur tanpa pernah benar-benar menyadarinya.
Awalnya hanya bersandar. Lalu napasnya melambat. Pegangan di lengan Adrian yang semula tegang berubah menjadi refleks—mengait tanpa sadar, seolah tubuhnya tahu bahwa tempat itu aman. Adrian memperhatikan perubahan itu dalam diam.
Ia menunggu.
Beberapa menit berlalu. Pegangan itu tidak juga terlepas.
Adrian akhirnya menggeser posisi perlahan. Dengan hati-hati—nyaris tanpa suara—ia membaringkan Naumi di atas tempat tidur. Selimut ditarik menutup tubuh gadis itu sampai d**a. Namun saat ia hendak menarik lengannya, jemari Naumi justru mengencang, menahan.
Adrian terdiam.
Ia menghela napas pelan, lalu menyerah pada situasi yang tidak ia rencanakan. Ia berbaring di sisi Naumi, masih menjaga jarak secukupnya. Lampu kamar sudah lama mati, senter ponsel juga telah padam. Yang tersisa hanya sunyi, napas yang berirama, dan hujan yang akhirnya reda.
Entah kapan, Adrian ikut terlelap.
—
Pagi datang tanpa tergesa.
Naumi membuka mata perlahan. Kelopak matanya mengejap satu kali, lalu dua. Ada sesuatu yang terasa … aneh. Terlalu hangat. Terlalu dekat. Ia menghirup napas dan merasakan hembusan napas lain—hangat—menyentuh pelipisnya.
Dan tangan di pinggangnya.
Naumi membeku.
Jantungnya berdegup kencang saat kesadaran itu merayap naik. Perlahan, sangat perlahan, ia mendongak.
Adrian.
Pria itu sudah membuka mata, menatapnya dengan sorot tenang—tidak terkejut, tidak panik. Seolah situasi itu sudah ia sadari sejak awal.
Canggung menghantam Naumi seketika.
“M-Mas…” suaranya serak, kaget oleh kedekatan itu sendiri. “Kenapa bisa—”
Kata-katanya terputus. Ingatannya menghantam pelan-pelan ke peristiwa tadi malam.
Adrian tidak langsung menjawab. Ia hanya menggeser sedikit tangannya—bukan menjauh, melainkan menunjukkan. Jemari Naumi masih mencengkeram lengannya erat, seperti seseorang yang takut ditinggalkan.
“Saya nggak bisa ke mana-mana,” katanya datar, nyaris terdengar seperti pernyataan fakta. “Kamu pegang terus.”
Naumi tersentak.
Ia menoleh ke tangannya sendiri, lalu dengan cepat melepaskannya. Tubuhnya langsung terduduk, gerakannya kikuk. Rambutnya sedikit berantakan, bajunya kusut oleh tidur yang tidak direncanakan.
“M-MAaf, Mas,” katanya cepat, gugup. Tangannya reflek merapikan rambut dan baju. “Aku nggak sengaja. Aku—aku.”
Adrian ikut bangun, duduk bersandar di kepala ranjang. Ia memberi jarak, cukup untuk membuat Naumi bernapas lebih lega.
“Nggak apa-apa,” ucapnya singkat.
Nada suaranya tidak menuduh. Tidak menggoda. Hanya tenang—dan entah kenapa, itu justru membuat Naumi makin malu.
Ia menunduk, pipinya memanas. “Aku pasti nyusahin Mas.”
“Tidak.”
Jawaban itu cepat. Terlalu cepat untuk seseorang yang tidak peduli.
Naumi mencuri pandang sekilas. Adrian tampak rapi meski baru bangun—seolah situasi tadi malam tidak mengganggunya sama sekali. Padahal, jarak yang barusan terhapus itu masih terasa jelas di antara mereka.
“Terima kasih,” kata Naumi akhirnya, pelan. “Karena … semalam.”
Adrian mengangguk kecil. “Istirahat dulu. Kamu masih kelihatan capek.”
Naumi mengangguk, lalu berdiri. Ia melangkah menuju pintu dengan langkah sedikit terburu, sebelum berhenti dan menoleh lagi.
“Mas…”
“Iya?”
“Makasih,” ulangnya, lebih pelan.
Adrian hanya mengangguk lagi.
Saat pintu tertutup, kamar kembali sunyi.
Adrian menarik napas panjang.
Pagi itu, kecanggungan tertinggal di udara—bukan sebagai penyesalan, melainkan sebagai awal dari sesuatu yang belum mereka pahami, tapi perlahan mulai terasa nyata.