Bab18

1080 Kata
Saat memikirkan kembali kejadian tadi pagi, mendadak wajah Naumi memanas. Dia menjadi malu untuk bertemu Adrian. Seumur hidupnya, Naumi tidak pernah sedekat itu dengan laki-laki lain apalagi satu ranjang semalaman. Kakinya menendang-nendang udara kosong untuk menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Tarikan napasnya yang kasar menandakan Naumi berusaha menghilangkan bayangan Adrian dari kepalanya. “Tarik napas, Naumi. Tenang. Mas Adrian bilang nggak papa dan nggak marah ke kamu kan? Oke, bersikap kalau tadi malam nggak terjadi apapun.” Tepukan kecil mendarat di kedua pipinya. Naumi berbisik pada udara kosong untuk menenangkan hatinya. “Jalani hari seperti biasanya. Let’s get it!” Naumi lantas beranjak dari tempat tidur menuju ke dapur. Bergabung bersama Ibu Ratna tengah berkutat dengan penggorengan dan bahan dapur. “Bunda duduk saja. Biar aku yang masak.” Naumi meraih pisau dari tangan ibundanya sedang memotong udang. “Nggak apa-apa, Bunda bisa kok. Masih kuat, abis masak nanti Bunda istirahat.” Naumi menggeleng tidak percaya sambil menuntun Ibu Ratna menuju ruang tengah. “Bunda tunggu sini saja. Biar Chef Naumi yang masak. Dijamin setara masakan hotel bintang 5 deh!” Ibu Ratna terkekeh kecil, “Iya-iya. Ekspektasi Bunda jadi tinggi ini.” “Harus dong!” Senyuman hangat Naumi mengembang bagaikan dicampur baking soda. Tanpa basa-basi panjang, dia melanjutkan sarapan yang dibuat Ibu Ratna. Pagi ini menunya adalah nasi goreng seafood, telur mata sapi, roti panggang, dan s**u ditambah jus jeruk. Adrian tidak pernah pilih-pilih menu dan melahap apapun yang disediakan. “Selamat pagi.” Suara sapaan hangat dan datar menggema di penjuru dapur. Mata Naumi langsung mencari sumber suara. Tangannya gemetar halus dengan perasaan gugup saat Adrian bergabung dengannya. “P-pagi, Mas. Sarapan sudah siap.” Adrian sudah segar pagi ini. Memakai setelan jas rapi berwarna hitam. “Mari sarapan.” Sambil membantu membawakan piring terakhir, dia mengubah haluan menuju kursi makan. Tatapan Naumi mengunci pada Adrian yang duduk di sebelah kiri, membuatnya mengambil tempat di seberang pria itu. Tangannya tergesa mengambil secentong nasi goreng dan melahapnya. Namun tanpa disangka, setelah mengisi gelas dengan jus jeruk—Adrian pindah posisi duduk di sebelah Naumi. “Bu Ratna di mana?” Napas Naumi tiba-tiba terhenti. Jarak keduanya begitu dekat. Membuatnya bisa mencium aroma sabun mint dicampur parfum maskulin Adrian yang memabukkan. Jantungnya seakan mau lompat dari tempat, membuat perutnya mulas. “Naumi?” Mata Adrian menelisik ekspresi Naumi yang terbengong saat pertanyaannya tidak ada jawaban. “Kamu anak kecil? Makannya masih belepotan.” Tanpa aba-aba, tangan kekar Adrian terulur, jari jemarinya meraih sebutir nasi yang menempel di sudut bibir Naumi dengan pelan. Naumi tersentak, sentuhan ringan itu meninggalkan sengatan listrik berjuta-juta volt. Dia membuang wajahnya dengan salah tingkah. “Bu Ratna di mana, Naumi? Belum sarapan kan?” Pertanyaan Adrian mengudara. Memecah keheningan canggung di antara mereka—sepertinya hanya Naumi saja yang merasakannya. Mata bulat itu mengedip beberapa kali. Naumi berusaha menjawab walaupun tenggorokannya kering. “D-di ruang tengah, Mas.” Kakinya melangkah cepat membawa Naumi menghilang dari pandangan Adrian. Dia bersembunyi di balik lemari yang memisahkan antara ruang makan dan ruang tengah. Napas Naumi memburu. Wajahnya sangat merah seperti kepiting. Tidak pernah terbayangkan dalam benaknya akan sentuhan fisik dengan Adrian. *** Semua gerak-gerik Naumi tadi pagi masih membekas di ingatan Adrian. Dia memang berlagak acuh, tapi matanya tak berpaling mengamati Naumi. Saat tengah berkutat di depan layar komputer, Adrian dikejutkan dengan suara pintu ruangannya yang terbuka paksa. Tanpa menoleh pun Adrian tahu siapa yang berani bersikap seperti itu dengannya. Natasya. “Aku minta maaf.” Natasya mendaratkan tubuh di kursi seberang Adrian. “Kemarin aku udah gegabah dengan datang ke rumah kamu dan bersikap kasar ke ibu-ibu itu. Jangan marah ke aku, ya?” Sebelah alis Adrian terangkat heran. Di matanya, seorang Natasya—anak tunggal kaya raya— tidak pernah mengaku salah dan kalah apapun yang terjadi. Tapi kini? Dia mengibarkan bendera putih yang terasa palsu di mata Adrian. Malas menanggapi membuat Adrian tetap fokus pada pekerjaannya. “Aku serius, Adrian! Aku akan menunggu kamu ambil keputusan. Aku cinta sama kamu dan enggak mau kehilangan kamu!” Perhatian Adrian teralihkan seraya melepaskan kacamata kerjanya. “Iya, oke. Aku sudah bilang kan? Aku sedang berpikir untuk membuat keputusan.” “Iya aku tahu. Di sini aku cuma mau kasih tahu, kalau aku cinta kamu, Adrian. Jangan kecewakan aku, aku nggak mau hubungan 2 tahun kita kandas.” Suara Natasya terdengar pelan dan terkesan serius. Padahal di dalam hati, dia menahan cemburu yang meledak-ledak. Masih teringat jelas di pikirannya mengenai nasihat Helene kemarin. Bibir Adrian terkunci. Di dalam batinnya sedang menyusun jawaban yang tepat untuk menanggapi pernyataan Natasya. Sikap pasif Adrian membuat tangan Natasya terulur untuk mereka saling menggenggam. Dia menyapu punggung tangan Adrian dengan selembut mungkin. “Aku janji nggak akan lakukan hal bodoh lagi. Kamu juga bisa janji kan kalau enggak akan tinggalin aku, hm?” “Natasya, please ….” Raut wajah Adrian frustrasi ketika menjawab. Suara gigi Natasya saling bergeletuk. Pertahanan dirinya harus kuat agar Adrian tidak marah dan mengusirnya. “Adrian! Bisa enggak, di dalam keputusan kamu itu pikirin aku sedikit saja? Aku juga—“ “Jangan paksa aku, Natasya. Aku butuh waktu untuk memikirkan semua hal.” *** Seharian di rumah hanya membuat Naumi bosan. Dengan kerajinannya, halaman depan yang semula seperti hutan berhasil menjadi sebuah taman mini dan indah. Naumi tidak lelah, melainkan bahagia karena ada kegiatan. Saat tengah mengagumi hasil karyanya, suara handphone Naumi berdering. Sebuah panggilan masuk berasal dari Ririn, teman kerjanya. Dia menimbang-nimbang untuk menjawab sampai tidak sadar panggilan berakhir. Sebuah pesan singkat masuk ke dalam handphonenya. Ririn: “Kamu di apa kabar, Mi? Sudah enggak mau kerja lagi? Kamu dicariin bos itu.” Sudah berapa hari ini Naumi tidak izin atau memberikan penjelasan kepada bosnya. Dia menghilang begitu saja seperti tertelan bumi. Bahkan kepada Ririn pun tidak. Naumi belum sanggup. Sebuah pesan kembali datang. Ririn: “Kamu serius mau giniin aku, Mi? Aku tahu beritanya bahkan dari internet, bukan dari kamu. Kamu anggap aku apa sih?” “Maaf, Rin ….” Suka duka selalu Naumi lewati bersama dengan Ririn. Dia merasa sangat bersalah saat membaca teks singkat tersirat emosi yang dikirimkan sahabatnya. Naumi tidak ada pembelaan. Dia hanya memandangi kalimat itu tanpa menjawabnya. “Kenapa? Ada yang lagi dipikirkan?” Ibu Ratna bergabung dengannya di teras rumah. Naumi tidak ada tempat cerita lagi selain ibunya. Dia memberitahukan pesan itu kepada Bu Ratna. Bu Ratna tersenyum menenangkan hati Naumi. “Nggak papa, Nak. Semua butuh proses. Nanti ada masa di mana waktu akan menyelesaikan semuanya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN