Keputusan Naumi sudah bulat. Sampai dia tidak lagi menuruti nasihat Bu Ratna yang melarangnya keluar. Namun, Naumi tak mau menggantung teman kerjanya yang tidak tahu apa-apa.
Setelah mengabari Ririn jika Naumi akan datang, dia bersiap-siap dan pamit menuju ke tempat kerjanya.
Dulu Naumi bekerja sebagai admin di sebuah PT yang tidak terlalu besar dan tidak kecil. Lokasinya pun tidak memakan waktu lama.
Kehadiran Naumi disambut oleh Ririn yang langsung memeluk. Beberapa temannya pun ikut berkerumun.
“Naumi ih, kamu ke mana saja?”
“Berita itu bener, Nau?”
“Jadi sekarang kamu sudah married ya, Nau?”
“Amiii, kamu jahat banget enggak ngabarin aku sama sekali, tega!” Jari Ririn mencubit pinggang Naumi dengan gemas.
Ringisan kecil lolos dari bibir Naumi saat mendengar pertanyaan-pertanyaan temannya pada penasaran.
“Hehe, maaf ya, Rin.”
“Ya sudah! Ayo aku antar ketemu bos!” Ririn paham dengan situasi di sana yang semakin mendesak pun bergegas menyelamatkan sahabatnya.
“Kamu hutang penjelasan ke aku, Ami!” Tatapan mata Ririn menajam sebagai peringatan sesaat sebelum Naumi masuk ke dalam ruangan owner.
Di dalam, Naumi tidak meminta cuti. Tetapi dia mengajukan pengunduran diri. Naumi sadar, statusnya sekarang bukan waktu yang pas untuk bekerja. Dia takut jika tiba-tiba wartawan datang dan menyeruduknya dengan berbagai macam pertanyaan.
“Oke, Naumi. Gaji bulan ini akan saya transfer ke rekening kamu. Hari ini kamu nggak perlu kerja lagi.”
Owner PT tersebut juga tidak menahannya. Membuat Naumi dibantu Ririn segera membereskan barang-barangnya di loker.
“Aku antar kamu pulang ya, Mi? Kita ngopi dulu,” ujar Ririn yang ingin mendengar banyak cerita Naumi.
Keduanya bersepakat. Dengan mengendarai motor vespa Ririn, mereka mampir ke salah satu coffe shop daerah Jakarta Utara.
Naumi menarik napas, mempersiapkan diri untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Ririn. Dia tidak menutupi apapun bahkan tentang Natasya. “Jadi gini ….”
Sepanjang mendengar, Ririn tidak menyembunyikan emosi. Dia memukul meja begitu geram kepada Pak RT atau berseru gemas mendengar pembelaan Adrian. Tangan Ririn bahkan menepuk bahu Naumi saat ikut merasakan euforia di adegan di meja makan.
“Kamu suka ya sama Pak Adrian itu, Mi?” Pertanyaan pertama atas semua kesimpulan dari cerita yang Ririn tangkap. Mereka sudah bersahabat lama, Ririn hafal perasaan Naumi luar dalam.
“Emm ….” Wajah Naumi berpaling ke sisi lain. Menghindari tatapan menggoda Ririn.
“Kalau kamu suka, ya perjuangkan. Jangan mau cerai begitu saja, Mi. Wajah sama nama kamu sudah viral satu Indonesia, tahu. Kamu yang rugi kalau cerai sama dia. Terus ya, kalau dari cerita kamu ini, kayaknya Pak Adrian ini suka deh sama kamu—tunggu, kalau dia enggak suka, bisa saja itu dia kabur sendirian pas kalian di grebek.”
Namun, Naumi tidak mau percaya begitu mudah. “Enggak, Rin. Mas Adrian punya tunangan. Aku yang pelakor dan membuat hubungan mereka rusak.”
“Pelakor apaan sih, Ami?! Kamu itu korban!”
Tetap saja, Naumi merasa bersalah karena statusnya sebagai istri Adrian lah yang hubungan Adrian dan Natasya di ujung tanduk.
“Sudah deh, Mi. Kamu itu harus berjuang. Nasi sudah jadi bubur, dibalikin lagi enggak akan bisa. Sudah terlanjur! Yang perlu kamu lakuin buat lauk pauknya! Sekarang, Pak Adrian itu punya kamu, si Natasya-Natasya itu orang luar! Pak Adrian suami kamu—“
Byur!
Percakapan keduanya berhenti total saat sebuah air diguyur di atas kepala Naumi.
“Heh, kurang ajar ya lo!” Tangan Ririn menggebrak meja kaca tersebut. Mata nyalangnya menatap kepada sosok pelaku yang tak lain Natasya dan temannya.
“Pelakor!” Suara pekikan Natasya menggema, menghamburkan orang-orang merekam situasi yang akan menguntungkan untuk diviralkan. “Dasar cewek kampungan! Lo sudah jebak tunangan gue di gubuk terus seenaknya munculin muka di publik?!”
Naumi tidak berani mengangkat kepalanya dengan tubuh gemetar. Momen malam itu kembali terulang saat melihat handphone yang mengarah ke arahnya.
“Seneng lo bisa ngerebut laki gue?! Lo tahu dia kaya raya jadinya lo pura-pura jadi cewek polos dan goda dia, kan?!”
“Hei, Mbak! Jaga omongan lo, ya! Tanya ke tunangan lo itu, mereka nikah secara SAH. Lo yang nggak terima kan?! Lo iri kan sama sahabat gue?!” Tentu Ririn tak sepasrah Naumi. Dia balik membalas dan dengan sengaja berbicara ke arah kamera handphone.
“Mereka saling mencintai! Lo yang maksa buat ngerebut, kan?! Dasar nenek sihir!”
Natasya tidak pernah dihina oleh siapapun. Emosinya semakin naik pitam.
Akan tetapi, sebelum dia membalas, Adrian sampai di sana. Menutupi tubuh bagian atas Naumi yang basah menggunakan jaket kulitnya. Lalu, menggenggam tangan Naumi dan menatap Natasya dengan tatapan sulit diartikan.
“A-Adrian ….” Tangan Natasya ingin menggapai Adrian namun langsung dihempaskan.
“Semua ada harga yang harus dibayar, Nata.”
***
Adrian memang tidak mengatakan apapun. Namun suasana di dalam mobil itu membuat Naumi sulit mengeluarkan sepatah kata pun.
Mata Adrian melirik ke arah bibir Naumi yang bergetar halus karena kedinginan. Tangannya terulur untuk menghidupkan penghangat dan mengarahkannya ke depan wajah Naumi.
“Apa benar yang diucapin Ririn? Ah, enggak mungkin!” Di dalam batinnya Naumi berseru. Sikap perhatian Adrian mengacaukan pikirannya.
Sebelah alis Adrian terangkat bingung. Di sebelahnya saat ini Naumi menggelengkan kepalanya sendiri, lalu mendesah lelah. Diakhiri dengan kerutan di dahinya.
Jika ditanya, Adrian marah. Dia tidak suka jika Naumi pergi tanpa seizinnya dan memberikan celah kepada Natasya atau orang jahat lainnya. Tapi melihat gestur tubuh Naumi yang takut membuatnya meredamkan amarah.
Adrian menepikan mobilnya di pinggir jalan. Jari nya terulur ke arah kening Naumi dan menyapukan usapan beberapa kali.
“Eh?!” Tubuh Naumi tersentak mundur. Punggung dan kepala bagian belakangnya menabrak pintu mobil.
“Kamu … takut sama aku?” Kedua alis Adrian saling bertaut. Suaranya ragu saat bertanya.
Dengan cepat Naumi menguasai diri. Dia hanya terkejut. “E-enggak, Mas! Aku kaget, kamu tiba-tiba pegang keningku,” ujarnya meluruskan kesalahpahaman.
Namun, Adrian masih tidak percaya. Dia tak bertanya lagi.
“M-maaf ya, Mas. Tadi aku ke kantor buat mengundurkan diri. Sebelum pulang mampir dulu sama Ririn—sahabatku—buat cerita ke dia.” Naumi sadar diri jika Adrian marah dengannya.
“Iya.”
“K-kuota aku habis jadi enggak bisa chat Mas Adrian.”
“Oke.”
Naumi menggigit bibir bawahnya kuat, dia tidak nyaman dengan sikap Adrian yang berubah-ubah padanya. “Um, besok enggak lagi keluar sendirian. Janji?”
“Oke.”
Kedua bola mata Naumi bergerak cepat. Mencari kalimat yang pas supaya Adrian tidak marah lagi dengannya.
Tubuhnya mematung kala sapuan hangat jari jempol mendarat di bibirnya. Dibarengi suara serak dan berat yang sama Naumi dengar di gubuk malam itu.
“Jangan digigit. Berdarah.”