Pagi itu, atmosfer di pusat bisnis kota terasa lebih berat dari biasanya. Kabar mengenai batalnya pertunangan antara Adrian Pradipta dan Natasya Wijaya menyebar layaknya api yang menyambar tumpahan bensin. Bukan sekadar gosip selebriti, ini adalah gempa tektonik bagi dunia korporasi. Saham perusahaan keluarga Rama mulai menunjukkan grafik merah yang tajam, sementara para investor di mancanegara mulai saling lempar panggilan telepon, mempertanyakan stabilitas kerja sama mereka. Di sebuah apartemen mewah dengan pemandangan kota, Tomi sedang menyesap kopi hitamnya sambil memantau laporan pasar di tablet. Sebagai sahabat dekat sekaligus rekan bisnis yang sering menangani proyek sampingan Adrian, Tomi tahu Adrian adalah sosok yang kalkulatif. Adrian tidak pernah mengambil langkah tanpa rencana

